, ,



    PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) mengadakan pelatihan penanggulangan tumpahan minyak di perairan bagi warga Kecamatan Marangkayu, Kutai Kartanegara (Kukar) pada mid September 2022 lalu. Pelatihan ini merupakan buah kolaborasi dengan pemangku kepentingan seperti nelayan dan pemuda dalam memelihara lingkungan di wilayah perairan Marangkayu sekaligus sebagai upaya pemeliharaan keamanan dan keselamatan fasilitas dan operasi hulu migas di wilayah tersebut.

    Section Head Maintenance Zona 10 Hendra Murdani menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan komitmen perusahaan dalam mendukung peningkatan kapasitas masyarakat sehingga peserta dapat mengidentifikasi dan menanggulangi, serta membuat kajian analisis dampak sosial, ekonomi dan lingkungan bila terjadi kasus tumpahan minyak.

    “Pelatihan ini merupakan kegiatan peningkatan kapasitas bagi Swadaya Masyarakat Tangani Minyak Tumpah (Swastamita) yang dibentuk pada tahun 2021, dan merupakan kegiatan lanjutan dari tahun sebelumnya. Pelatihan dilakukan dalam 3 tahap dan telah selesai pada pertengahan September silam yang diikuti oleh peserta dari 3 desa yang berada di ring 1 Santan Terminal yaitu Desa Sebuntal, Desa Semangko dan Desa Kersik,” jelas Hendra.

    Dalam pelatihan ini peserta dibekali materi dasar mengenai pengertian tumpahan minyak, penyebab tumpahan minyak, serta pembuatan dan simulasi peralatan sederhana yang digunakan ketika ada tumpahan minyak. Metode penanggulangan tumpahan minyak pada pelatihan ini merupakan replikasi Inovasi dari Perwira Pertamina Zona 10 yang telah memenangkan kategori Platinum di APQ award 2022, Inovasi Khusus Subroto Award serta telah mendapatkan Hak Paten dari DJKI.



    “Usai pelatihan ini relawan yang telah dibentuk akan berperan sebagai garda terdepan dalam melaksanakan penanggulangan tumpahan minyak dan selalu siaga melakukan patroli ketika terjadi tumpahan minyak di laut,” tambah Hendra.

    Hadir pada pelatihan ini Kepala Desa Kersik Jumadi, yang memberikan dukungannya dalam implementasi pelatihan ini. “Pelatihan ini merupakan upaya bersama dalam menjaga ekosistem laut sekitar Marangkayu, agar lingkungan semakin terjaga dan nelayan tidak terganggu ketika mencari ikan,” tutup Jumadi.

    Swadaya Masyarakat Tangani Minyak Tumpah (Swastamita) merupakan Program Pengembangan Masyarakat (PPM) bidang kebencanaan yang dicanang oleh PHKT Daerah Operasi Bagian Utara (DOBU). Nama Swastamita diambil dari bahasa sanksekerta yang berarti pemandangan indah saat matahari terbenam. Harapannya, kelompok ini dapat turut menjaga perairan laut Marangkayu, dan masyarakat pesisir memiliki acuan saat menghadapi kondisi yang berkaitan dengan tumpahan minyak.

    Di tahun pertama, mereka mendapat pelatihan penanganan minyak tumpah dengan coco fiber. Pada sistem ini, serat kulit kelapa digunakan sebagai alat penahan tumpahan minyak, integrase bank sampah dengan program swastamita. Sedangkan pada tahun kedua, peserta diberi pembekalan mengenai penanggulanan tumpahan minyak. (***)

    ,

    Kapolres Kukar AKBP Hari Rosena menyematkan pita tanda operasi Zebra Mahakam 2022
    (Foto: Humas Polres Kukar)

    Kapolres Kutai Kartanegara (Kukar) AKBP Hari Rosena memimpin Apel Gelar Pasukan Operasi Zebra Mahakam 2022, Senin (03/10) pagi.

    Apel yang diikuti personel Polres Kukar, Kodim 0906/KKR, Satpol PP serta Dishub Kukar ini ditandai dengan penyematan tanda pita operasi kepada masing-masing perwakilan peserta apel.

    Dalam sambutan yang dibacakannya, Kapolres Kukar AKBP Hari Rosena mengatakan, lalu lintas merupakan urat nadi perekonomian suatu negara, oleh sebab itu pemeliharaan Kamseltibcarlantas sangatlah penting dalam menunjang kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka keamanan keselamatan ketertiban dan kelancaran berlalu lintas merupakan suatu cermin keberhasilan dari pembangunan peradaban modern.

    Polri khususnya Polantas bersama stakeholder serta pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk meningkatkan kesadaran dan kepatuhan masyarakat terhadap budaya Tertib Berlalu Lintas. Sehingga pelaksanaan Operasi kepolisian Zebra Mahakam Tahun 2022 di bidang lalu lintas mempunyai tujuan yaitu menurunnya angka pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas serta meningkatnya disiplin masyarakat dalam berlalu lintas dalam rangka Cipta kondisi kamseltibchalantas di tengah melandainya pandemi Covid 19.

    "Dengan digelarnya Apel gelar pasukan ini kita akan mengetahui kesiapan personil maupun sarana pendukung lainnya, sehingga Operasi Zebra Mahakam Tahun 2022 yang digelar selama 14 hari kedepan dari tanggal 3 sampai dengan 16 Oktober 2022 diharapkan dapat berjalan dengan optimal sesuai dengan tujuan dan mencapai sasaran yang telah ditetapkan," ucapnya.

    Berdasarkan data Operasi Zebra Mahakam selama 2 tahun terakhir di wilayah Provinsi Kalimantan Timur diketahui bahwa, pelanggaran lalu lintas berupa tilang tahun 2020 sebanyak 266 kasus, tahun 2021 sejumlah 190 kasus atau terjadi penurunan 29 %.

    "Pelanggaran lalu lintas berupa teguran tahun 2020 sebanyak 995 kasus, tahun 2021 sebanyak 3.269 kasus, terjadi kenaikan 229 %," ujar Hari merincikan.

    Ia mengungkapkan, terjadi kenaikan pelanggaran total 174 %, jumlah kenaikan ini dikarenakan tahun lalu tidak ada giat penindakan petugas di lapangan sehingga kesadaran masyarakat berkurang dan masa pandemi covid 19.

    "Maka dari itu Polri mengedepankan kegiatan premitif dan preventif bertujuan menurunkan angka pelanggaran lalu lintas yang berakibat terjadinya kecelakaan lalu lintas," bebernya.

    Berdasarkan data, kecelakaan lalu lintas tahun 2020 sejumlah tujuh kejadian, tahun 2021 sejumlah 6 kejadian, terjadi penurunan 14 %. Kemudian korban meninggal dunia tahun 2020 sebanyak satu korban, tahun 2021 sejumlah satu korban, tidak terjadi perubahan atau 0 %.

    "Korban luka berat tahun 2020 sejumlah 2 orang, tahun 2021 sejumlah 6 orang terjadi kenaikan 200%. Korban luka ringan tahun 2020 jumlah 6 orang tahun 2021 sejumlah 3 orang terjadi penurunan 50%. Kerugian materi tahun 2020 sejumlah Rp.5.600.000, tahun 2021 sejumlah Rp. 21.100.000, terjadi kenaikan 277 % dan terjadi penurunan Lakalantas total 14 %," jelas Hari.

    Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa terjadi kenaikan yang sangat signifikan pada angka pelanggaran dan penurunan kecelakaan lalu lintas namun hal tersebut bukan semata-mata karena tingginya tingkat budaya disiplin dan kepatuhan para pengguna jalan namun lebih dikarenakan cara bertindak Polri yang diterapkan pada saat situasi normal berbeda selama pandemi covid-19.

    "Mencermati hal tersebut, pada gelaran Operasi Zebra Mahakam tahun ini saya tekankan kepada satuan lalu lintas Polres Kutai Kartanegara untuk terus meningkatkan langkah dan upaya nyata yang lebih efektif dengan memperdomani program prioritas Kapolri dibidang lalu lintas.

    "Serta mengedepankan kegiatan premitif dan preventif yang persuasif serta humanis untuk dapat meningkatkan budaya disiplin dan kepatuhan para pengguna jalan sehingga dapat meminimalisir terjadinya pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas karena sebagian besar kecelakaan lalu lintas pasti diawali dari pelanggaran lalu lintas," sambungnya.

    Disamping itu, sasaran Operasi Zebra Mahakam Tahun 2022 adalah segala bentuk potensi gangguan (PG) ambang gangguan ( AG l dan gangguan nyata ( GN ) yang berpotensi menyebabkan kemacetan dan Gar lantas baik sebelum pada saat maupun pasca operasi zebra mahakam 2022, pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas yang dapat menghambat terciptanya kamseltibcarlantas serta mengganggu upaya penanganan covid 19.

    "Dengan demikian pelaksanaan Operasi Zebra Mahakam Tahun 2022 diharapkan dapat meningkatkan budaya disiplin dan dalam berlalu lintas serta kepatuhan masyarakat terhadap prokes yang akan berdampak pada menurunnya angka pelanggaran maupun kecelakaan lalu lintas serta percepatan penanganan covid-19," tandas Hari. (*/mmbse)

    , ,

    Puncak Erau Pelas Benua ditandai dengan mengulur naga yang dibawa dari Tenggarong ke Kutai Lama
    (Foto: Beni/Kukar Photograpy)

    Ritual mengulur Naga dan Belimbur menandai puncak kemeriahan Erau Adat Pelas Benua 2022 Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Minggu (02/10) pagi.

    Prosesi diawali dengan menurunkan replika Naga Laki dan Naga Bini yang telah disemayamkan selama 7 hari 7 malam di serambi Museum Mulawarman atau eks keraton Kutai.

    Setelah kedua replika naga diletakkan di halaman depan Museum Mulawarman, Sultan Kutai ke XXI Adji Muhammad Arifin didampingi kerabat kesultanan melakukan prosesi tepong tawar ke sepasang naga tersebut.

    Usai pembacaan riwayat naga oleh Raden Heriansyah, kedua replika naga kemudian diusung menuju dermaga depan Museum Mulawarman dan dinaikkan ke atas kapal untuk diberangkatan serta diulur di perairan sungai desa Kutai Lama, Kecamatan Anggana.

    Prosesi ini dipimpin Menteri Adat Kesultanan Kutai H Aji Pangeran Haryo Adi Kesuma (Adik dari Sultan Kutai ke-XXI). Replika kepala dan ekor naga akan dibawa kembali untuk disemayamkan di Museum Mulawarman setelah tubuh dari kedua naga diulur atau diturunkan ke dalam sungai Kutai Lama.

    Sesaat setelah kapal yang membawa Naga Laki dan Naga Bini bertolak ke Kutai Lama, Sultan Adji Muhammad Arifin beserta kerabat melaksanakan ritual Beumban dan Begorok di dalam museum.

    Menjelang pukul 11.00 Wita, Sultan Adji Muhammad Arifin bersama permaisuri naik ke Rangga Titi atau balai yang terbuat dari bambu kuning di dermaga depan Museum. Setelah serangkaian ritual, Sultan memercikkan air Tuli ke dirinya yang sebelumnya air ini diambil dari sungai Kutai Lama.

    Air Tuli selanjutnya dipercikan Sultan ke empat penjuru mata angin yang menandai bahwa Belimbur (saling menyiramkan air) dimulai. Ritual belimbur dilaksanakan Kesultanan bersama-sama rakyat Kukar dan para pengunjung untuk mendapatkan penyucian diri dan perlindungan dari unsur-unsur jahat, baik yang berwujud maupun tak berwujud.

    Sejumlah mobil pemadam milik BPBD serta mobil tangki Satpol PP Kukar yang dipersiapkan di sekitar dermaga turut menyiramkan air ke kerumunan warga yang larut dalam suka cita belimbur.

    Lokasi belimbur sebagaimana titah Sultan Kutai dimulai dari Kepala Benua sampai Buntut Benua Kecamatan Tenggarong (Tanah habang Mangkurawang sampai dengan Pal.4 Jalan Wolter Monginsidi) dan berlangsung hingga pukul 14.00 Wita. 

    Yang berbeda pada Erau tahun ini, Pemkab Kukar melalui Organisasi Perangkat Daerah (OPD) menyiapkan air bersih menggunakan drum disepanjang titik lokasi belimbur.

    Sebagaimana disampaikan Bupati Kukar Edi Damansyah, Erau sebagai festival rakyat adalah bukti kekayaan dan keragaman budaya yang dimiliki masyarakat Kukar secara khusus, dan bangsa Indonesia secara umum. 

    "Erau ini merepresentasikan identitas bangsa Indonesia melalui kearifan lokal masyarakat Kukar serta bagaimana antusiasme masyarakat dalam merawat nilai-nilai adiluhung dari tradisi dan budaya yang dimilikinya," kata Edi.

    Selain itu, even Erau bagi Pemkab Kukar merupakan ruang terbuka yang tersedia bagi masyarakat Kukar dalam menampilkan jati diri serta mengaktualisasikan seni dan budayanya.

    "Guna meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kabupaten Kukar, terutama agar perekonomian masyarakat Kukar dapat kembali bergerak setelah melalui masa-masa sulit Pandemi Covid-19," tandasnya.

    Selain Forkopimda Kukar, puncak Erau Adat Pelas Benua ini turut dihadiri Forkopimda Kaltim, Bupati/Walikota Se-Kaltim, beberapa Raja dan Sultan nusantara, serta tamu undangan dari sejumlah daerah. (mmbse)

    Baca Juga: Tata Krama Belimbur, Ini Isi Titah Sultan Kutai Ke-XXI Adji Muhammad Arifin

    , , ,

    Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-XXI Haji Adji Muhammad (HAM) Arifin
    (Foto: Endi)

    Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-XXI Haji Adji Muhammad (HAM) Arifin mengeluarkan titahnya terkait tata krama belimbur yang akan menjadi puncak Erau Adat Pelas Benua pada Minggu (02/10/2022) lusa.

    Titah Sultan Kutai HAM Arifin ini tertuang dalam surat Nomor:004/SK-PM/SKKIM/IX/2022 tanggal 29 September 2022.

    Ada 8 aturan yang dituangkan dalam titah Sultah ini, pertama, lokasi belimbur dari Kepala Benua sampai Buntut Benua Kecamatan Tenggarong (Tanah habang Mangkurawang sampai dengan Pal.4 Jalan Wolter Monginsidi)

    Kedua, waktu pelaksanaan belimbur sejak permaisuri memercikan air tuli ke Sri Paduka Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura untuk membersihkan diri Sri Paduka Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang waktunya kurang lebih dari pukul 10.00-14.00 Wita.

    Ketiga, belimbur dengan menggunakan penadah air (gayung) dan mengguyur menggunakan air sungai Mahakam dan Air Bersih yang disediakan didalam drum disepanjang jalan yang telah ditentukan.

    Keempat, dalam belimbur dilarang menggunakan air kotor dan air najis. Kemudian kelima, dilarang Belimbur menggunakan air yang dimasukkan kedalam plastik dan dilempar,

    Selanjutnya keenam, dalam melakukan belimbur dilarang menggunakan mesin pompa air yang disemprotkan secara langsung kepada masyarakat, sedangkan ketujuh, dalam melakukan belimbur dilarang melakukan pelecehan seksual.

    Dan kedelapan, dalam belimbur/menyiram dilarang kepada lansia (lanjut usia), ibu hamil, anak–anak atau balita.

    Akan ada sanksi bagi pihak-pihak yang melanggar tata krama belimbur pada acara pelaksanaan Erau Adat Pelas Benua.

    Pihak Kesultanan akan memberlakukan sanksi hukum adat berdasarkan hasil mufakat Majelis tata nilai adat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, serta diberlakukan sanksi hukum positif Undang-Undang Negara Kesatuan Republik Indonesia. (*/mmbse)

    , , ,

    Sultan Kutai ke-21, jajaran Pemkab dan Forkopimda makan beseprah bersama warga masyarakat
    (Foto: Media Kesultanan Kutai/Awal Pratama)

    Makan beseprah menjadi rangkaian hari kelima pelaksanaan Erau Adat Pelas Benua Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Kamis (29/09/2022) di Tenggarong

    Makan beseprah dimulai sekitar pukul 09.00 Wita, yakni di sepanjang jalan Pangeran Diponegoro, mulai dari depan kantor Kesbangpol Kukar, Museum Mulawarman, hingga Pasar Seni.

    Selain Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-21 Haji Adji Muhammad (HAM) Arifin beserta kerabat, makan beseprah dihadiri Sekda Sunggono, Forkopimda, serta para Kepala OPD dan jajaran.

    Sementara makanan tradisional khas Kutai yang dihidangkan pada makan beseprah ini merupakan sumbangan dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

    Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin dalam sambutannya mengatakan, beseprah merupakan tradisi makan bersama yang memiliki nilai-nilai kebersamaan dan ketulusan hati sang Raja atau pemimpin pemerintah di daerah.

    "Dengan cara duduk bersila diatas tikar menyantap makanan bersama secara gratis adalah merupakan wujud rasa kecintaan dan kasih sayang untuk berbagi bersama," tuturnya.

    Lanjutnya, dengan tradisi ini disadari bahwa tidak ada batasan sosial antara Sultan, pejabat pemerintah, dan seluruh lapisan warga masyarakatnya.

    "Dan semakin meningkatkan rasa keakraban dan kebersamaan sesama hamba Allah SWT atas syukur nikmat rizki yang dilimpahkan di muka bumi Etam Kutai Kartanegara ini," ujar Rendi.

    Ia berharap, kegiatan ini dapat mendukung agenda kepariwisataan di daerah yang memiliki nilai-nilai seni dan budaya serta bernilai ekonomis, sehingga memberikan dampak positif bagi kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Kukar

    "Sekaligus menjaga agar tradisi yang dahulu dipelopori oleh para Raja/Sultan Kutai Kartanegara dapat terus kita pelihara dan lestarikan, saat ini dan di masa yang akan datang," cetusnya.

    Beseprah dimulai sesaat setelah Sultan Kutai ke-21 HAM Arifin bertitah yang ditandai dengan pemukulan kentongan. Warga dari berbagai lapisan masyarakat pun dipersilahkan untuk bersama-sama menikmati ragam makanan yang dihidangkan.(mmbse)

    Baca JugaHUT Kota Tenggarong ke-240 Diperingati Dengan Ziarah Makam Aji Imbut

    , , ,

    Peletakkan karangan bunga lompo di makam Aji Imbut tepat pada peringatan HUT Tenggarong ke-240
    (Foto: Media Kesultanan/Awal Pratama)

    Peringatan hari jadi atau hari ulang tahun (HUT) Kota Tenggarong ke-240 ditandai dengan ziarah makam Raja Kutai ke-15 Sultan Aji Muhammad Muslihuddin atau Aji Imbut, Rabu (28/09/2022) pagi tadi.

    Aji Imbut merupakan pendiri kota Tenggarong yang wafat pada 24 Rajab 1290 H, makamnya berada di komplek pemakaman Raja-raja Kutai samping Museum Mulawarman atau eks Keraton Kutai.

    HUT kota Tenggarong yang diperingati setiap tanggal 28 September ini menjadi rangkaian pelaksanaan Erau Adat Pelas Benua Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura (25 September-03 Oktober 2022).

    Sebelum prosesi ziarah, terlebih dahulu dibacakan riwayat pendiri kota Tenggarong oleh Camat Tenggarong Sukono, riwayat tersebut disusun oleh Almarhum H Adji Bambang Abdurrachim gelar Pangeran Ratu Kesuma.

    Sebagaimana sambutan tertulis Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-21 Haji Adji Muhammad (HAM) Arifin yang dibacakan oleh Raden Heriansyah, sejarah Kota Tengggarong dimulai ketika Aji Imbut gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin memindahkan ibukota Kesultanan Kutai Kartanegara ke Tepian Pandan pada 28 September 1782.

    Perpindahan ini dilakukan untuk menghilangkan pengaruh kenangan pahit masa pemerintahan Aji Kado dan Pemarangan yang dianggap telah kehilangan tuahnya. Nama Tepian Pandan kemudian diubah menjadi Tangga Arung yang berarti Rumah Raja, lama-kelamaan Tangga Arung lebih populer dengan sebutan Tenggarong hingga kini.

    Dalam kesempatan itu, Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menyampaikan apresiasi kepada Pemkab Kukar dan pihak-pihak yang telah mempunyai kepedulian tinggi terhadap simbol-simbol kebudayaan serta kiprah entitas budaya Kesultanan.

    "Karena setiap upaya untuk kemajuan kebudayaan adalah upaya positif dalam meningkatkan upaya warisan budaya yang bisa menjadi ikon penting pariwisata di Kutai Kartanegara khususnya, dan Kalimantan Timur pada umumnya," ucap Raden Heriansyah.

    Memaknai ziarah makam para Sultan Kutai khususnya Aji Imbut, Bupati Kukar Edi Damansyah mengharapkan semua daya upaya para Sultan dalam membangun Kota Tenggarong menjadi wasilah yang berbalas ganjaran pahala dari Allah SWT.

    "Kita semua meyakini, bahwa para Sultan beserta kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dalam membangun Kota Tenggarong tercinta ini telah memberikan manfaat kepada masyarakat secara luas, sehingga bermacam etnis dan suku dapat hidup berdampingan secara damai di Bumi Tuah Himba ini dibawah daulat kebijaksanaan Yang Mulia para Sultan," ujarnya.

    Dia berharap, ziarah makam para Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ini dapat pula menjadi cerminan bagi para pejabat di lingkungan Pemkab Kukar.

    "Termasuk kami beserta Wakil Bupati, Sekda dan para Kepala OPD untuk melakukan refleksi dan instropeksi, sekaligus berkontemplasi atas kontribusi peranan masing-masing dalam membangun kota Tenggarong," cetus Edi.

    Prosesi ziarah ditandai dengan menaburkan bunga sekaligus meletakkan karangan bunga lompo di makam Aji Imbut oleh kerabat Kesultanan bersama Bupati Kukar Edi Damansyah dan Wakil Bupati Rendi Solihin serta Forkopimda Kukar.

    Ziarah dilanjutkan ke makam Sultan Kutai ke-XX HAM Salehoeddin II dan makam Hj Adji Aida gelar Adji Ratu Prabu Ningrat yang merupakan ayahanda dan ibunda dari Sultan Kutai ke XXI HAM Arifin, serta makam Sultan AM Parikesit dan Sultan AM Sulaiman.

    Dalam kesempatan ini, Bupati Kukar Edi Damansyah menyerahkan sertifikat warisan budaya Masjid Jami Adji Amir Hasanoeddin sebagai bangunan cagar budaya peringkat provinsi Kaltim dan sertifikat warisan budaya Makam Raja Kutai Kartanegara sebagai struktur cagar budaya peringkat provinsi Kaltim.

    Sertifikat diserahkan kepada adik dari Sultan HAM Arifin yakni H Aji Pangeran Haryo Adi Manggala dan H Aji Pangeran Haryo Adi Kesuma didampingi kerabat kesultanan Aji Pangeran Aryo Putro Amidjoyo serta Raden Heriansyah. (mmbse)

    ,

    Prosesi mendirikan Tiang Ayu menandai dimulainya Erau Pelas Benua yang digelar Kesultanan Kutai
    (Dok. Media Kesultanan Kutai/Awal Pratama)

    Erau Pelas Benua yang digelar Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura resmi dibuka pada Minggu (25/09/2022) pagi, di Museum Mulawarman Tenggarong atau eks Keraton Kutai.

    Pembukaan Erau ditandai dengan prosesi mendirikan Tiang Ayu oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke XXI H Adji Muhammad (HAM) Arifin didampingi para kerabat kesultanan serta disaksikan sejumlah tamu undangan.

    Usai mendirikan Tiang Ayu, Sultan Kutai HAM Arifin beserta kerabat dan unsur Forkopimda Kaltim menuju panggung kehormatan di teras Museum Mulawarman.

    Sultan selanjutnya menerima sesembahan dari Kecamatan Tenggarong, Anggana, Muara Kaman dan Desa Tepian Baru (Kutai Timur). Sesembahan ini diiringi Jokaje (Pasukan Wajo), Remaong Kutai Berjaya (Pasukan elit Kesultanan Kutai), Kayuh Beimbai, Turonggo Hadi Wijoyo, dan Pasukan Merah.

    Bupati Kukar Edi Damansyah yang hadir bersama Wakil Bupati Rendi Solihin dan Sekda Sunggono berharap, Erau yang sempat vakum selama 2 tahun karena pandemi bisa mendatangkan banyak pengunjung ke Kota Tenggarong.

    "Sehingga para pelaku UMKM dengan momen satu pekan ini penjulannya meningkat, ada interaksi disini, sehingga bisa mendongkrak peningkatan ekonomi," ucapnya.

    Ia menyebutkan, Pemkab telah menetapkan kebijakan dalam program Kukar Idaman 2021-2026 melalui program Kukar Berbudaya dan Kukar Kaya Festival.

    "Salah satunya Erau ini terus berjalan setiap tahunnya, apalagi Erau sudah ditetapkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi sebagai event budaya terbesar di nusantara," kata Edi.

    Sementara itu Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Kesultanan Kutai yang telah menyelenggarakan Erau di tahun ini.

    "Acara ini harus kita pertahankan sebagai warisan budaya Kalimantan Timur, warisan budaya Kutai Kartanegara, yang telah menjadi warisan budaya internasional," cetusnya.

    Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Maartadipura yang diwakili Raden Heriansyah mengharapkan, seluruh masyarakat dapat bersuka cita dengan dimulainya Erau yang menampilkan berbagai kesenian maupun kebudayaan.

    "Harapannya dengan adanya adat budaya ini kita mempertahankan dan melestarikan adat istiadat yang ada di Kesultanan," ujar pria yang juga menjabat Kepala Inspektorat Kukar ini.

    Dia menambahkan, tidak seperti beberapa tahun lalu, Erau Pelas Benua yang akan berlangsung hingga 3 Oktober mendatang pelaksanaanya dikembalikan Pemkab Kukar kepada pihak Kesultanan.

    "Artinya sepenuhnya kesultanan yang melaksanakan, baik tata cara adat dan nilainya. Kami (Kesultanan, Red) merasa tersanjung, mudah-mudahan ini bisa terus menerus kita laksanakan setiap tahun dalam rangka menjaga budaya dan melestarikannya," ucap Heriansyah.

    Pembukaan Erau yang disaksikan ratusan warga masyarakat ini ditutup dengan persembahan Tari Suaka (Pengabdian) dan puncaknya diakhiri dengan prosesi penyalaan 7 buah Brong. (mmbse)

    ,

    Sultan Kutai HAM Arifin dan Permaisuri jalani prosesi Beluluh jelang dibukanya Erau Pelas Benua
    (Dok. Kesultanan Kutai/Awal Pratama)

    Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke XXI Haji Adji Muhammad (HAM) Arifin menjalani upacara adat Beluluh di ruang utama kedaton kesultanan, Rabu (20/09/2022).

    Ritual sakral ini merupakan rangkaian dari prosesi jelang pembukaan Erau Pelas Benua 2022 yang telah diawali sehari sebelumnya dengan haul jamak untuk Almarhum Raja atau Sultan Kutai, serta ritual Titi Bende.

    Saat menjalani Beluluh, Sultan HAM Arifin bersama permaisuri duduk diatas balai bambu kuning berjumlah 41 tiang, sementara 4 orang kerabat Kesultanan berdiri disisi kiri dan kanan sambil membentangkan Kirab Tuhing (kain kuning) diatas kepala Sultan dan istri.

    Ritual dipimpun Belian yang membaca mantra atau bememang untuk memohon keselamatan bagi Sultan Kutai yang akan melaksanakan Erau sekaligus berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar prosesi berjalan lancar.

    Prosesi penutup yaitu menarik Ketikai Lepas yang terbuat dari anyaman daun kelapa, kemudian Sultan menarik ujung anyaman dari salah satu sisi dengan tamu undangan yang ditunjuk kesultanan yakni Kepala Disdikbud Kukar Thauhid Aprilian Noor dan Wakil Ketua DPRD Kukar Alif Turiadi.

    Prosesi adat yang dihadiri para kerabat kesultanan, unsur Forkopimda Kukar, serta Danrem 091/Aji Suryanata Kesuma Brigjen Dendi Suryadi ditutup dengan pembacaan doa selamat.

    Beluluh dimaksudkan untuk memberitahukan kepada Kejuntaian Kemumulan atau makhluk halus bahwa Erau akan dilaksanakan, serta untuk membersihkan diri Sultan dan membuang pengaruh jahat atau sifat-sifat yang tidak baik.

    "Mudah-mudahan dengan adanya acara ini Etam (Kita, Kutai Red) diberikan kesehatan, keamanan untuk acara Erau," ujar Aji Hasanuddin selaku kerabat kesultanan.

    Pria bergelar Aji Pangeran Aryo Putro Amidjoyo ini mengatakan, balai bambu pada prosesi Beluluh untuk Sultan berjumlah tiga tingkat.

    "Beluluh itu sendiri berasal dari kata Buluh atau bambu, tingkatannya untuk Sultan, Bupati dan masyarakat biasa juga warna bambunya berbeda," jelasnya.

    Seusai Beluluh, Kesultanan menggelar upacara Menjamu Benua di sekitar kota Tenggarong pada sore harinya dengan dipimpin oleh seorang Belian

    "Kita Menjamu Benua untuk memberitahukan roh-roh leluhur, mulai dari Kepala Benua di Tanah Habang Mangkurawang, Tengah Benua depan Museum Mulawarman, dan Buntut Benua sekitar bawah jembatan Kartanegara," kata Aji Hasan sapaan akrabnya.

    Menjamu Benua bertujuan untuk memberikan jamuan kepada roh-roh leluhur agar mendukung dan tidak mengganggu selama Erau berlangsung. Terdapat sajen dalam ritual ini berupa telur, ayam, pulut atau nasi ketan, dan kue tradisional khas Kutai yang diletakkan dalam wadah dari anyaman bambu.

    "Harapan saya Erau Pelas Benua ini berjalan dengan baik, kita dua tahun berturut-turut vakum karena ada Covid. Mudah-mudahan tahun depan berjalan dengan lebih baik lagi," tandasnya.

    Ia menambahkan, setelah Beluluh dan Menjamu Benua, malam harinya dilaksanakan ritual Merangin yang merupakan prosesi pendahuluan dan wajib dilaksakanan jelang Erau. 

    Untuk diketahui, Erau Pelas Benua akan dibuka secara resmi pada 25 September dan berlangsung hingga 2 Oktober mendatang. (mmbse)


Top