News, Pemerintahan, Pemkab Kukar
![]() |
| Sekda Kukar Sunggono usai menghadiri pembekalan sosialisasi program Taspen bagi 250 ASN (Foto: Fairuz) |
TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) melalui Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) menggelar Sosialisasi Program Taspen bagi 250 Aparatur Sipil Negara (ASN) yang akan memasuki masa pensiun. Kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Grand Elty Singgasana, Tenggarong, Selasa (28/7/2026) lalu.
Sosialisasi ini diselenggarakan sebagai upaya membekali para ASN dengan pemahaman mengenai hak-hak pensiun sekaligus memberikan gambaran mengenai berbagai layanan dan manfaat yang dapat diakses melalui Taspen. Selain itu, peserta juga didorong agar mampu mempersiapkan diri menghadapi masa purna tugas secara lebih matang dan produktif.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kutai Kartanegara, Sunggono, menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen mendampingi ASN sejak masih aktif bertugas hingga memasuki masa pensiun. Menurutnya, pembekalan seperti ini penting agar para calon pensiunan memahami seluruh hak yang akan diterima serta memiliki kesiapan menghadapi perubahan fase kehidupan.
"Melalui sosialisasi ini kami berharap seluruh ASN yang akan memasuki masa purna tugas memiliki pemahaman yang baik mengenai hak pensiun serta lebih siap menjalani masa tersebut," ujar Sunggono.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut juga sejalan dengan program Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri yang menaruh perhatian terhadap peningkatan kesejahteraan ASN, baik selama menjalankan tugas sebagai aparatur pemerintah maupun setelah memasuki masa pensiun.
Sunggono turut memberikan apresiasi kepada BKPSDM Kukar yang telah memprakarsai kegiatan pembekalan tersebut. Menurutnya, persiapan sejak dini akan memudahkan ASN beradaptasi ketika beralih dari status pegawai aktif menjadi pensiunan.
Pemerintah Kabupaten Kukar juga berencana melanjutkan program serupa melalui Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) dengan menggandeng Taspen serta sejumlah lembaga terkait. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat kesiapan ASN melalui peningkatan wawasan, keterampilan, dan perencanaan sebelum memasuki masa pensiun.
Ia menegaskan bahwa pensiun bukanlah akhir dari pengabdian. Mantan ASN tetap memiliki kesempatan untuk berkarya, mengembangkan usaha, maupun berkontribusi dalam berbagai kegiatan sosial di tengah masyarakat.
Dengan adanya pembekalan ini, Pemkab Kukar berharap para ASN yang akan memasuki masa purna tugas dapat menjalani masa pensiun secara lebih mandiri, produktif, dan tetap memberikan manfaat bagi keluarga serta lingkungan sekitarnya. (Fairuz)
Ekonomi, Migas, News, Pertamina Hulu Mahakam

Muara Pantuan, Kalimantan Timur – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) berhasil menerapkan sebuah inovasi pengelolaan lingkungan yang memanfaatkan sampah organik dari area operasinya untuk mendukung peningkatan perekonomian masyarakat di Pulau Nubi, Desa Muara Pantuan, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Sampah organik, berupa sisa makanan dari kafetaria perusahaan di lapangan operasi South Processing Unit (SPU), dimanfaatkan menjadi pakan ternak bebek milik warga sekitar. Metode tersebut tidak hanya mengurangi timbunan sampah organik, namun sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat melalui usaha ekonomi lokal yang berkelanjutan.
Inovasi pengelolaan sampah organik ini dilatarbelakangi oleh hasil kajian Fungsi Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) SPU terhadap peluang pemanfaatan sampah sisa makanan pekerja di kafetaria sebagai pakan ternak. Sejalan dengan hasil kajian tersebut, pada Juni 2025 masyarakat Desa Pantuan melalui Ketua RT, H.Taher, mengajukan permohonan dukungan kepada PHM untuk memperoleh bantuan pakan ternak yang berasal dari sisa makanan di kafetaria dalam rencana budidaya bebek petelur dan bebek pedaging di wilayahnya. Mereka mengawali budidaya pembibitan 300 bebek pada September 2025. Ketika bibit pertama mulai memasuki usia produktif, yakni sekitar lima bulan, ia menambah 300 ekor bibit bebek petelur pada Februari 2026. Dengan bertambahnya populasi bebek, kebutuhan terhadap pakan pun meningkat. Sehingga sejak April hingga Juni 2026, seluruh sampah organik sisa makanan di kafetaria pekerja SPU berhasil dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Pada 11 Juli 2026 lalu, General Manager PHM Setyo Sapto Edi berkesempatan mengunjungi lokasi peternakan bebek ini dan berdialog dengan warga Desa Pantuan dalam rangkaian kegiatan Management Walk Through (MWT). Setyo mengatakan, inovasi pengelolaan sampah organik dari sisa makanan pekerja sebagai pakan ternak merupakan wujud nyata komitmen PHM untuk mengintegrasikan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam kegiatan operasi hulu migas perusahaan sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
"Kami berharap kolaborasi PHM dan masyarakat dapat terus berkembang dan menginspirasi lahirnya berbagai inovasi lain yang akan berdampak positif bagi lingkungan dan masyarakat. Sejalan dengan semangat ESG, kami akan terus mendorong program-program yang menciptakan nilai bersama atau creating shared value bagi seluruh pemangku kepentingan," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Lapangan SPU Teddy Indrawan menjelaskan, sebelum program ini dilakukan, sampah sisa makanan dari kafetaria pekerja SPU setiap hari diangkut menuju lokasi fasilitas pengelolaan limbah yang berjarak sekitar 30 kilometer. “Melalui program ini, sisa makanan yang sebelumnya dikelola sebagai limbah kini dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Selain mendukung penerapan prinsip ekonomi sirkular, inisiatif ini juga mengurangi kebutuhan pengangkutan limbah dan menurunkan potensi risiko keselamatan dalam operasional. Program ini memberikan manfaat lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan limbah,” pungkas Teddy.
Pendekatan ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah organik ini berhasil mendukung pertumbuhan usaha budidaya bebek yang dikelola H. Taher bersama masyarakat. Sejak Februari 2026, peternakan tersebut mampu menghasilkan sekitar 60 hingga 90 butir telur bebek setiap hari. Bahkan, pada beberapa kesempatan produksinya menembus lebih dari 100 butir per hari. Ke depan, H. Taher bersama masyarakat setempat berencana mengembangkan usahanya untuk memperluas manfaat dan peningkatan ekonomi masyarakat Desa Muara Pantuan yang berkelanjutan.
Head of Communication Relations & CID PHM Achmad Krisna Hadiyanto menegaskan bahwa melalui inisiatif ini, PHM berhasil menunjukkan bukti bahwa pengelolaan lingkungan di operasi hulu migas perusahaan dapat berjalan selaras dengan program pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, program yang semula berfokus pada pengurangan sampah organik sisa makanan pekerja di lingkungan perusahaan, kini berkembang menjadi sebuah contoh penerapan ekonomi sirkular yang mampu menciptakan manfaat bagi berbagai pihak, mulai dari berkurangnya limbah, efisiensi biaya operasional perusahaan, hingga meningkatnya peluang usaha dan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasi. “Ke depan, kami akan terus mendorong inovasi dan kolaborasi yang dapat menghadirkan program keberlanjutan yang memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan,” pungkasnya. (*)
Hiburan, News, Seni - Budaya
![]() |
| Petala Borneo membawakan lagu menjaga adat di International Djogja Earthsounds Fest 2026 |
YOGYAKARTA - Sempat down karena cuaca, Petala Borneo tampil di IDEF 2026 Yogyakarta dan berhasil membuat penonton ikut bergoyang sejak lagu pertama. Di lagu penutup, "Menjaga Adat", mereka sekaligus mengundang penonton datang ke Erau, Kutai Kartanegara, September mendatang.
Baca Juga: Usung Nama Baru Menjadi Petala, Kelompok Musik Etnik Asal Kukar Ini Bakal Rilis Single Hits
Petala Borneo, grup musik asal Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, tampil di International Djogja Earthsounds Fest (IDEF) 2026 di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Kamis malam, 23 Juli 2026. Mereka membawa lagu "Menjaga Adat", yang didedikasikan untuk tradisi Erau di Kukar.
Sebelum naik panggung, semangat mereka sempat anjlok. Cuaca kurang bersahabat malam itu, dan kekhawatiran sempat menyelimuti para personel.
"Kami sempat cukup down karena cuaca," kata personel Petala Borneo, Achmad Fauzi.
Keraguan itu buyar begitu musik mulai dimainkan. Sejak lagu pertama, penonton yang semula menepi karena hujan, sontak berdiri dan memadati venue sudah diikuti goyangan mengikuti irama.
"Namun, ketika Petala membawa bunyi-bunyian Kalimantan Timur, mereka bisa menari bersama. Itu bentuk apresiasi yang paling tinggi, ketika mereka mau menerima karya dan bunyi-bunyian dari kami," ujar Fauzi.
Penampilan mereka malam itu ditutup dengan "Menjaga Adat", lagu yang didedikasikan untuk tradisi Erau di Kukar. Ketika vokalis Nova Abelia mengangkat tangan dari atas panggung, beberapa tangan penonton di depannya ikut terangkat. Lampu merah, hijau, dan kuning menyapu panggung, sementara dua kata terpampang di layar besar di belakang para musisi: Menjaga Adat.
Lewat lagu penutup itu juga, Petala Borneo mengabarkan Erau kepada penonton dari berbagai daerah dan negara. Nova memperkenalkan tradisi tersebut langsung dari atas panggung, sekaligus mengingatkan bahwa Erau 2026 dijadwalkan berlangsung di Kutai Kartanegara pada September.
"Panggung malam ini menjadi salah satu panggung kami menuju Erau. Kami ingin mengabarkan bahwa kami mempunyai sebuah pesta adat dan mengajak teman-teman yang hadir untuk datang ke Erau di Kutai Kartanegara," tutur Fauzi.
Bagi Nova, momen itu terasa berbeda. Berdiri sebagai vokalis Petala Borneo di panggung IDEF adalah sesuatu yang sebelumnya hanya tersimpan sebagai mimpi.
"Senang dan benar-benar haru. Ini menjadi mimpi kami. Semoga ini bisa menjadi jembatan dan pintu utama bagi kami menuju panggung dunia," ucap Nova.
IDEF sendiri merupakan festival musik internasional lintas tradisi yang mempertemukan musisi, kelompok seni, komunitas, serta institusi pendidikan seni dari berbagai daerah dan negara. Rangkaian IDEF 2026 berlangsung 23–25 Juli di ISI Yogyakarta, mengusung tema Sacred Sounds, Shared Earth.
Bagi Fauzi, panggung Yogyakarta malam itu juga jadi cara menunjukkan bahwa anak-anak muda Kutai Kartanegara tetap bisa berkarya meski tumbuh jauh dari pusat industri musik.
"Malam ini kami berhasil menyampaikan bahwa kami ada. Putra-putri Kutai Kartanegara ada, bunyi-bunyian kami ada, dan anak-anak mudanya masih bisa bersaing di kancah nasional, bahkan internasional," katanya.
Petala Borneo masih menyimpan banyak target setelah penampilan ini. Namun bagi Fauzi, jalan menuju panggung dunia dimulai dengan terus bergerak, berproses, berkarya, dan membangun relasi — satu panggung demi satu panggung.
Panggung dunia masih ada di depan. Namun pada Kamis malam itu, Petala Borneo sudah mendapat satu jawaban penting: tradisi dari Kutai tidak hanya diperkenalkan lewat kata-kata. Ia diperdengarkan, diterima, lalu dibalas dengan tangan-tangan yang terangkat dan tubuh yang ikut menari. (*)



