Areal Kerja Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo Kembali dilahap Si Jago Merah

Upaya pemadaman karhutla di wilayah kerja Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) di Kalimantan
(Foto: Yayasan BOS)

Yayasan BOS sangat prihatin dengan maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belakangan ini terjadi baik di luar maupun di dalam wilayah kerjanya di Kalimantan. Ini disampaikan melalui press rilis yang disiarkan pada 12 September 2023 lalu. 

Memasuki musim kering ekstrem tahun ini, dengan fenomena “El Niño" yang membuat hutan-hutan di Indonesia menghadapi risiko kebakaran tinggi, dua lokasi di wilayah kerja Yayasan BOS telah mengalami kebakaran. 

Pertengahan Agustus lalu, dilaporkan bahwa terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) rawa gambut yang diperkirakan seluas 50 hektare di dua lokasi berbeda di wilayah kerja Yayasan BOS Mawas, di Kalimantan Tengah. 

Tim pemadam kebakaran Yayasan BOS dengan bantuan masyarakat setempat berhasil memadamkan kebakaran tersebut. Keterbatasan akses menuju lokasi karhutla dan kedalaman kubah gambut mengakibatkan kebakaran meluas jauh di kedalaman gambut, sehingga menyulitkan tim pemadam kebakaran mengidentifikasi kebakaran dari permukaan dan membutuhkan waktu hampir seminggu untuk memastikan api padam. 

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi secara tiba-tiba pada tahun 2023 ini menggarisbawahi perlunya tindakan segera dan kolaboratif untuk mengatasi kejadian ini menjadi lebih buruk. Kilas balik ke tahun 2015, fenomena El Niño juga melanda pulau Kalimantan seperti sekarang, menyebabkan musim kemarau menjadi lebih panjang dan lebih ekstrem. 

Delapan tahun lalu, lahan pertanian kering dan semak belukar memicu kebakaran besar di seluruh pulau Kalimantan, yang semakin diperburuk oleh kegiatan pembukaan lahan ilegal. Lebih dari 2 juta hektar hutan hilang akibat kebakaran hutan tahun itu. Awan asap beracun menyelimuti langit, menyebabkan masalah pernapasan dan menghancurkan habitat spesies flora dan fauna yang tak terhitung jumlahnya, termasuk orangutan. 

Sejak November 2015 hingga Februari 2017, Yayasan BOS harus merelokasi orangutan liar ke hutan yang lebih aman. Kemudian, pada 2019, kobaran api muncul kembali. Meskipun keganasannya tidak sebanding dengan tahun 2015, kebakaran masih menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan kesejahteraan manusia.

Belajar dari kejadian kebakaran hutan dan lahan yang ekstrim di Kalimantan di tahun 2015 dan 2019, Yayasan BOS secara rutin menggelar pelatihan penanganan kebakaran, pemantauan wilayah kerja, membentuk dan melatih kelompok pemadam kebakaran, serta membangun sumur sebagai tempat penampungan air untuk memadamkan kebakaran. Untuk memaksimalkan dampak persiapan mitigasi bencana, Yayasan BOS juga memastikan bahwa infrastruktur pemadam kebakaran dan sumur dapat diakses di lokasi-lokasi yang rawan atau pernah mengalami kebakaran hebat.

CEO Yayasan BOS Jamartin Sihite mengatakan, areal kerja Yayasan BOS yang berada di kawasan eks Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PLG) sejuta hektare lahan gambut dan rawa untuk tanaman pangan, termasuk areal rawan kebakaran dan kaya karbon. Menjelang musim kemarau, 

Yayasan BOS melakukan beberapa upaya sebagai tindakan preventif untuk mengurangi dampak kebakaran hutan. "Bersama dengan mitra internasional, kami telah melakukan pembasahan lahan, serta membangun sumur serta "beje" (kolam). Jika terjadi kebakaran, sumur dan kolam ini bisa digunakan sebagai sumber air untuk memadamkan api. Yayasan BOS juga bekerja bersama dengan masyarakat sekitar untuk meningkatkan kepedulian akan pencegahan kebakaran karena mencegah jauh lebih baik daripada memadamkan api” ujar Jamartin Sihite.

Upaya preventif yang dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi dampak kebakaran hutan dilaksanakan dengan melibatkan partisipasi seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, masyarakat, sektor swasta, dan mitra internasional. Hanya melalui kolaborasi yang kuat dan komitmen terhadap praktik-praktik berkelanjutan, maka dampak negatif kebakaran hutan di Kalimantan dapat dikurangi atau dihindari sepenuhnya.

"Yayasan BOS mengucapkan rasa terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah mengabdikan waktu dan usaha mereka untuk tujuan pencegahan kebakaran. Mitra internasional dan para donatur, baik institusional maupun individu, berdiri sebagai tiang kekuatan yang memungkinkan kami untuk tanpa henti menjalankan misi kami," ucap Jamartin. (*)

Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top