,


    KUKAR – Seorang karyawan PT Enggang Alam Sawita (EAS) dilaporkan tenggelam di perairan Sungai Belayan, tepatnya di sekitar bekas pelabuhan milik PT EAS, Desa Long Lalang, Kecamatan Tabang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Jumat (4/9/2026) sekitar pukul 09.30 Wita.

    Korban diketahui bernama Marupa (49), seorang Buruh Harian Lepas yang bekerja sebagai operator genset di PT EAS.

    Berdasarkan laporan yang diterima media ini, peristiwa tersebut terjadi saat korban bersama tiga orang rekan kerjanya memperbaiki pipa alkon milik PT EAS yang mengalami kerusakan selama kurang lebih tiga hari di tepi Sungai Belayan.

    Setelah pekerjaan perbaikan selesai, korban kemudian berinisiatif berenang untuk menyeberangi sungai. Namun, saat berada di tengah sungai, korban dilaporkan mengalami kelelahan dan meminta pertolongan kepada rekan-rekannya.

    Mendengar teriakan tersebut, salah seorang rekan kerja korban langsung turun ke sungai untuk memberikan pertolongan. Rekan korban sempat berhasil menarik korban, namun derasnya arus serta kondisi yang melelahkan membuat upaya penyelamatan tidak dapat dilanjutkan.

    Korban akhirnya terlepas dari pegangan rekannya, kemudian terbawa arus Sungai Belayan dan tenggelam.

    Menurut keterangan sejumlah saksi, arus Sungai Belayan saat kejadian cukup deras sehingga diduga menyebabkan korban kelelahan ketika berada di tengah sungai. Pihak keluarga juga menyebutkan bahwa korban diketahui bisa dan terbiasa berenang.

    Usai menerima laporan kejadian, personel Polsek Tabang bersama Tim Emergency Response Team (ERT) PT Bayan dan masyarakat sekitar langsung melakukan pencarian di sekitar lokasi korban dilaporkan tenggelam.

    Pencarian dilakukan dengan menggunakan perahu ketinting milik warga, perahu karet milik perusahaan serta sejumlah peralatan tradisional lainnya.

    Hingga berita ini disusun, korban masih belum ditemukan dan upaya pencarian masih terus dilakukan.

    Dalam peristiwa tersebut, sejumlah barang milik korban turut diamankan, di antaranya satu lembar celana pendek berbahan jeans warna hitam, satu unit telepon genggam merek Infinix warna hitam serta satu buah powerbank merek Robot warna hitam.

    Pihak terkait masih melakukan pencarian dan pemantauan di sepanjang perairan Sungai Belayan guna menemukan korban. (*)

    , , ,


    Muara Pantuan – Tim patroli keamanan PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) berhasil menyelamatkan enam awak kapal masyarakat setelah kapal yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan dan tenggelam di perairan Delta Mahakam, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pada Selasa (1/9/2026) lalu. Kapal masyarakat tersebut mengalami kecelakaan dalam perjalanan dari Muara Pantuan menuju Pulau Nubi, Kecamatan Anggana. Kondisi angin dan gelombang yang buruk menyebabkan kapal terhempas, kemasukan air, dan akhirnya tenggelam di sekitar area sumur migas yang dikelola PHM.

    Kejadian tenggelamnya kapal masyarakat ini pertama kali diketahui oleh awak kapal TB Paramount Fortune yang melintas di perairan dangkal Delta Mahakam sekitar pukul 17.45 WITA. Mereka melihat kapal masyarakat yang tenggelam sekitar 3,2 kilometer dari daratan. Enam awak kapal terlihat melambaikan tangan sebagai tanda meminta pertolongan. Mendapat informasi tersebut, tim patroli keamanan PHM dari Fasilitas South Processing Unit (SPU) segera bergerak menggunakan armada ST Ruhen 28 menuju lokasi kejadian. Sekitar pukul 18.20 WITA, seluruh enam awak kapal berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.

    Setelah dievakuasi, keenam awak kapal mendapatkan tempat untuk beristirahat dan penanganan lebih lanjut. PHM juga mendampingi mereka untuk memastikan kondisi masing-masing warga dalam keadaan baik, serta berkoordinasi dengan pemerintah setempat terkait kebutuhan dan proses kepulangan mereka agar dapat segera kembali berkumpul dengan keluarga.

    General Manager PHM Muzwir Wiratama mengapresiasi respons cepat dari tim patroli PHM dan bersyukur bahwa seluruh awak kapal bisa diselamatkan dalam kondisi yang baik. “Bagi kami, melihat enam saudara kita berhasil diselamatkan dan dapat segera kembali berkumpul dengan keluarganya merupakan kebahagiaan tersendiri. Sebagai warga masyarakat yang baik, PHM senantiasa berupaya untuk memastikan keberadaan perusahaan memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan, terlebih lagi pada saat kondisi darurat seperti ini,” ujar Wira, panggilan akrab General Manager PHM.

    Menurutnya tindakan cepat demi keselamatan dan kemanusiaan itu merupakan bagian dari komitmen PHM dalam menempatkan prioritas tertinggi terhadap keamanan dan keselamatan manusia, fasilitas, dan lingkungan. “Kepedulian terhadap keselamatan pekerja dan masyarakat sekitar merupakan bagian dari komitmen PHM dalam menjalankan kegiatan hulu migas yang selamat, andal, bertanggung jawab, dan berkelanjutan,” tegasnya.

    Terkait kejadian ini, PHM akan terus berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan untuk memastikan keenam awak kapal tersebut mendapatkan pendampingan hingga proses kepulangan berjalan dengan baik. “Keselamatan dan kemanusiaan menjadi hal yang utama. Ketika ada masyarakat yang membutuhkan pertolongan di sekitar wilayah operasi, kami akan berupaya memberikan respons terbaik sesuai kemampuan dan prosedur yang kami miliki,” pungkasnya. (*)

    ,

    Camat Sebulu Edy Fahruddin pantau langsung kondisi siswa yang diduga alami keracunan MBG
    (Foto: Istimewa)

    KUTAI KARTANEGARA – Puluhan pelajar di Desa Sebulu Ulu, Kecamatan Sebulu, Kutai Kartanegara (Kukar) diduga mengalami gejala keracunan usai mengkonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Senin (3/8/2026).

    Berdasarkan laporan sementara, para pasien yang menjalani pemeriksaan medis di Puskesmas Sebulu I mengeluhkan gejala berupa pusing dan sakit perut setelah mengonsumsi makanan yang dibagikan di sejumlah sekolah.

    Data sementara mencatat sebanyak 46 orang menjalani pemeriksaan di Puskesmas Sebulu I. Dari jumlah tersebut, 27 orang mendapatkan penanganan di Unit Gawat Darurat (UGD), sedangkan 19 orang menjalani pemeriksaan di Poli Anak.

    Penerima manfaat yang terdampak berasal dari sejumlah satuan pendidikan, yakni siswa SDN 025, Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), serta enam siswa SDN 003 Sebulu Ulu. Selain itu, seorang warga bernama Sunarsih yang bertugas mencicipi makanan sebelum dibagikan kepada balita di Posyandu Cempa Unggu, Desa Sebulu Ulu, juga mengalami gejala serupa.

    Camat Sebulu, Edy Fahruddin, membenarkan adanya laporan tersebut. Menurutnya, pemerintah kecamatan masih menunggu hasil pemeriksaan dari pihak kesehatan untuk memastikan penyebab para pasien mengalami keluhan tersebut.

    "Benar, ada warga yang menjalani pemeriksaan di Puskesmas Sebulu I setelah mengalami keluhan pusing dan sakit perut. Saat ini mereka sudah ditangani oleh tenaga kesehatan dan sebagian sudah di suruh pulang ke rumah. Kami masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut dari pihak puskesmas dan dinas terkait untuk mengetahui penyebab pastinya," ujar Edy Fahruddin.

    Ia menegaskan bahwa pemerintah kecamatan terus berkoordinasi dengan Puskesmas Sebulu I, pihak penyelenggara program MBG, serta instansi terkait untuk melakukan penanganan dan pemantauan terhadap kondisi para pasien.

    "Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menunggu hasil investigasi resmi. Pemerintah akan menyampaikan perkembangan setelah ada hasil pemeriksaan yang valid," tambahnya.

    Sementara itu, pihak Puskesmas Sebulu I telah melakukan pemeriksaan terhadap seluruh pasien yang datang dan terus memantau kondisi kesehatan mereka. Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti munculnya gejala tersebut masih dalam proses penyelidikan oleh pihak berwenang. (*)

    ,

    Foto: Ilustrasi

    LOA KULU – Seorang nelayan dilaporkan diduga tenggelam di perairan Sungai Mahakam, kawasan RT 019, Desa Jembayan, Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara (Kukar), Minggu (2/8/2026). 

    Hingga Minggu siang, korban dikabarkan masih dalam proses pencarian oleh tim gabungan. Kapolsek Loa Kulu AKP Hari Supranoto, melalui laporan yang diterima menyebutkan, personel piket Polsek Loa Kulu bersama unsur terkait melakukan pengecekan ke lokasi kejadian sekitar pukul 12.00 WITA setelah menerima informasi adanya dugaan orang tenggelam.

    "Pengecekan di lokasi melibatkan personel Polsek Loa Kulu, Ketua RT 019 Desa Jembayan, Relawan Kamaseku Loa Duri Ulu, Damkar Kabupaten Kutai Kartanegara, serta Damkar Kecamatan Loa Kulu," terangnya.

    Korban diketahui bernama Achdar Has (64), warga Desa Loa Duri Ulu, Kecamatan Loa Janan. Sehari-hari korban bekerja sebagai nelayan yang mencari ikan dengan metode merawai di sepanjang alur Sungai Mahakam, mulai dari wilayah Pongkor hingga Jembayan.

    "Berdasarkan keterangan saksi, sekitar pukul 06.30 WITA salah seorang nelayan, Taufik, berangkat mengantar kru kapal menuju wilayah Harapan Baru menggunakan transportasi air. Saat kembali sekitar pukul 08.00 WITA, ia melihat perahu milik korban hanyut tanpa seorang pun berada di atasnya," kata Kapolsek.

    Merasa curiga, saksi kemudian mendekati perahu tersebut dan memastikan bahwa korban tidak berada di dalam kapal. Perahu berwarna biru putih beserta peralatan memancing milik korban ditemukan mengapung di sekitar lokasi.

    "Temuan tersebut kemudian diinformasikan kepada warga sekitar. Selanjutnya warga menghubungi pihak keluarga untuk memastikan keberadaan korban. Anak korban menyampaikan bahwa ayahnya belum kembali ke rumah sejak berangkat bekerja pada pagi hari," tambah AKP Hari Supranoto.

    Berdasarkan kondisi tersebut, korban diduga terjatuh dan tenggelam di perairan Sungai Mahakam, RT 019 Desa Jembayan, Kecamatan Loa Kulu.

    "Polsek Loa Kulu bersama Satpolairud Polres Kukar, Dinas Pemadam Kebakaran, dan Relawan Kamaseku langsung berkoordinasi melakukan upaya pencarian serta mendata identitas korban maupun para saksi," sambungnya

    Hingga berita ini diturunkan, korban masih belum ditemukan dan proses pencarian oleh tim gabungan terus dilakukan. Polisi menyatakan akan menyampaikan perkembangan lebih lanjut apabila terdapat informasi terbaru terkait pencarian korban. (*)

    , ,

    Tim SAR gabungan evakuasi jasad Rizal yang sebelumnya dilaporkan hilang di perairan Muara Badak
    (Foto: Istimewa)

    Kutai Kartanegara — Upaya pencarian terhadap nelayan yang dilaporkan hilang di perairan Muara Badak Ulu akhirnya membuahkan hasil. Muhammad Rizal (33) ditemukan oleh Tim SAR Gabungan pada hari kedua operasi pencarian, Jumat (1/5/2026), dalam kondisi meninggal dunia.


    Sebelumnya, korban dilaporkan terseret arus saat menjaring udang di perairan Muara Badak Ulu. Kuatnya arus diduga menjadi penyebab korban tidak mampu menyelamatkan diri saat kejadian.

    Memasuki hari kedua, operasi pencarian diawali dengan briefing pada pukul 07.00 WITA guna menentukan strategi penyisiran. Tim kemudian melakukan pencarian di area seluas kurang lebih 2 nautical mile persegi (NM²) di sekitar lokasi kejadian, dengan fokus penyisiran mengarah ke hilir mengikuti arus.

    Komandan SRU, Nur Ngalim, menjelaskan bahwa korban berhasil ditemukan pada pukul 07.50 WITA.

    “Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada jarak sekitar 200 meter dari lokasi awal kejadian ke arah hilir, tepatnya di koordinat 0°20'53.0"S dan 117°27'07.4"E. Selanjutnya korban dievakuasi dan dibawa ke rumah duka untuk diserahkan kepada pihak keluarga,” ujarnya.

    Setelah proses evakuasi selesai, Tim SAR Gabungan melaksanakan debriefing pada pukul 08.30 WITA. Berdasarkan hasil evaluasi, operasi SAR diusulkan untuk ditutup dan seluruh unsur yang terlibat dikembalikan ke satuannya masing-masing.

    Dalam operasi tersebut, sejumlah peralatan dikerahkan, di antaranya rescue car, rubber boat Basarnas, perahu milik BPBD Kutai Kartanegara, speed boat TNI AL Marang Kayu, perahu Disdamkar Muara Badak, serta armada milik warga dan nelayan setempat. Tim juga menggunakan perlengkapan pendukung seperti peralatan SAR air, peralatan selam, komunikasi, dan medis.

    Unsur yang terlibat dalam operasi ini meliputi Tim Rescue Basarnas Balikpapan, TNI AL Marang Kayu, BPBD Kutai Kartanegara, Disdamkar Muara Badak, relawan dari Kukar dan Samarinda, keluarga korban, serta masyarakat nelayan sekitar.

    “Kami mengapresiasi seluruh unsur yang terlibat yang telah bekerja maksimal dalam operasi ini hingga korban berhasil ditemukan,” tambah Ngalim.

    Selama proses pencarian, tim menghadapi sejumlah kendala di lapangan, seperti gelombang yang cukup besar serta potensi bahaya dari habitat hewan liar seperti buaya. Meski demikian, operasi berjalan lancar hingga korban berhasil ditemukan. (*)

    , ,


    Kutai Kartanegara — Seorang nelayan dilaporkan hilang setelah diduga terseret arus saat menjaring udang di perairan Muara Badak Ulu, Kecamatan Muara Badak, Kamis (30/4/2026).

    Korban diketahui bernama Muhammad Rizal (33), warga setempat. Berdasarkan laporan yang diterima Kantor Pencarian dan Pertolongan Balikpapan pada pukul 11.10 WITA dari pihak keluarga, peristiwa bermula sekitar pukul 05.00 WITA saat korban bersama rekannya pergi menjaring udang di area tambak miliknya.

    Dalam kronologis kejadian, perahu yang digunakan korban terlepas dari ikatan di bagan dan hanyut terbawa arus. Korban kemudian berusaha mengejar perahu tersebut, namun diduga terseret arus yang cukup deras hingga akhirnya tenggelam.

    Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Balikpapan, Dody Setiawan Suwondo, mengatakan pihaknya segera merespons laporan tersebut dengan mengerahkan tim ke lokasi kejadian.

    “Setelah menerima laporan, kami langsung berkoordinasi dengan pelapor dan mengerahkan tim rescue menuju lokasi. Tim SRU diberangkatkan pukul 11.30 WITA dengan estimasi tiba sekitar pukul 15.00 WITA,” ujarnya.

    Operasi pencarian melibatkan berbagai unsur, di antaranya Tim Rescue Kantor SAR Balikpapan, Pos SAR Samarinda, BPBD Kutai Kartanegara, Dinas Pemadam Kebakaran Kutai Kartanegara, nelayan setempat, serta keluarga korban.

    Sejumlah peralatan dikerahkan dalam operasi ini, meliputi rescue car, rubber boat, perlengkapan SAR air, peralatan selam, perangkat komunikasi, hingga perlengkapan medis.

    Meski kondisi cuaca dilaporkan cerah, tim di lapangan menghadapi kendala berupa gelombang yang cukup besar. Selain itu, potensi bahaya dari habitat hewan liar seperti buaya juga menjadi perhatian dalam proses pencarian.

    Hingga saat ini, korban masih berstatus dalam pencarian. Tim SAR gabungan terus melakukan upaya maksimal dengan tetap mengedepankan keselamatan seluruh personel.

    Basarnas turut mengimbau masyarakat, khususnya para nelayan, untuk selalu memperhatikan faktor keselamatan saat beraktivitas di perairan, termasuk memantau kondisi arus serta menggunakan alat keselamatan yang memadai. (*)

    , ,


    Kutai Kartanegara – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) berhasil mengevakuasi tujuh nelayan yang terombang-ambing di tengah perairan Selat Makassar selama dua hari karena kapal mereka mengalami kerusakan mesin parah. Lokasi nelayan dan kapal saat diselamatkan pada Kamis, 9 April 2026 pekan lalu berada sekitar dua mil atau tiga koma dua kilometer dari daratan pesisir kampung Muara Keili, Desa Tani Baru, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Mesin kapal mereka patah di area laut GTS-Q ketika dalam perjalanan dari Samarinda menuju Sepatin.

    Setelah mesin mati, para nelayan berusaha mencari titik sinyal telepon untuk meminta bantuan. Namun tak kunjung membuahkan hasil. Dua hari berselang, sekitar pukul 19.00 WITA, kabar itu sampai kepada patroli keamanan PHM yang sedang bertugas. Meski titik koordinat nelayan berada di luar parameter wilayah patroli rutin, tim keamanan Perusahaan segera mengambil langkah cepat melalui koordinasi dengan tim unit Maritim dan Marine. Izin penyisiran pun segera diberikan atas dasar misi kemanusiaan.

    Dengan kapal Patroli Ruhen 27, personel tim keamanan PHM menyisir radius wilayah dua kilometer persegi. Setelah satu jam, tim patroli akhirnya menemukan kapal nelayan yang terombang-ambing tersebut. Tim segera menggandeng kapal nelayan dan mengevakuasi seluruh korban menuju Kampung Muara Ilo untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dan tempat yang lebih aman.

    General Manager PHM, Setyo Sapto Edi menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan evakuasi para nelayan tersebut. “Alhamdulillah, ketujuh nelayan tersebut ditemukan dalam keadaan selamat meskipun mereka terombang-ambing di laut dengan bekal makanan dan minuman yang terbatas,” ungkapnya. Menurutnya, langkah dan keberhasilan penyelamatan para nelayan ini menjadi bukti kepedulian sosial Perusahaan dan budaya keselamatan untuk melindungi personel Perusahaan maupun masyarakat sekitar.

    Di PHM, personel keamanan terlatih dan selalu siaga untuk mengatasi kondisi darurat, melakukan koordinasi yang presisi, hingga mengikuti standar keamanan maritim. "Bagi kami, keselamatan adalah nilai mutlak yang tidak mengenal batas wilayah operasional. Apa yang dilakukan oleh tim di lapangan adalah cerminan dari komitmen yang tinggi terhadap keselamatan operasi, masyarakat, dan lingkungan," tutur Setyo. (*)


Top