Tampilkan postingan dengan label Migas. Tampilkan semua postingan
Migas, News, Pendidikan, Pertamina Hulu Mahakam

Balikpapan – Program CSR PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), Sekolah Negeri Terapung, mendukung keberhasilan Nurul Fitriana, seorang Guru Bahasa Inggris SMP Negeri 06 Anggana, Desa Sepatin, mendapatkan kesempatan mengikuti program pengembangan profesional guru di Amerika Serikat. Nurul Fitriana terpilih sebagai penerima Fulbright Distinguished Awards in Teaching Program for International Teachers (Fulbright DAI) 2025. Cerita mengenai Nurul Fitriana ini disampaikan PHM pada kegiatan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh SKK Migas Perwakilan Kalimantan dan Sulawesi di Samarinda pada Rabu (09/09/2026).
Program Fulbright DAI memberikan kesempatan kepada Nurul untuk mengikuti program pengembangan profesional selama enam bulan atau satu semester di Indiana University of Pensylvania, Amerika Serikat pada Bulan Agustus 2025. Nurul mengetahui Program Fulbright DAI dari akun sosial media AMINEF (American Indonesian Exchange Foundation). Kesempatan tersebut menjadi pengalaman untuk memperluas wawasan dan kompetensi dalam bidang pendidikan.
Dalam kegiatan UKW tersebut, Head Communication Relations & CID PHM, Achmad Krisna Hadiyanto, menceritakan keberhasilan Nurul Fitriana sebagai salah satu guru binaan Program CSR Sekolah Negeri Terapung yang berkesempatan memperluas akses jejaring profesi guru dan membawa pengalaman di luar negeri untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan masyarakat pesisir di Kecamatan Anggana. “Pencapaian ini menjadi bukti keberhasilan dukungan kami terhadap peningkatan akses dan kualitas pendidikan bagi guru dan siswa di wilayah pesisir Delta Mahakam, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur,” ujarnya.
Menurut Achmad, PHM terus berupaya untuk menjalankan program CSR di bidang pendidikan agar dapat memperluas akses dan meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat pesisir di Kecamatan Anggana. Wilayah Desa Muara Pantuan, Sepatin, dan Tani Baru di Kecamatan Anggana dalam menghadapi tantangan geografis. “Di wilayah ini, guru dan siswa harus menggunakan perahu kecil tradisional atau ketinting untuk menuju sekolah. Keterbatasan sarana pembelajaran dan tenaga pengajar juga menjadi tantangan bagi sekolah di wilayah pesisir Delta Mahakam tersebut,” jelasnya.
Program Sekolah Negeri Terapung dikembangkan tidak hanya sebagai program dukungan sarana pendidikan, tetapi juga sebagai upaya membangun ekosistem pembelajaran. Kegiatannya mencakup pendampingan Guru Penggerak dan komunitas belajar, beasiswa, program Sarjana Pesisir, pelatihan guru dan siswa, serta PHM Mengajar. “Salah satu hasilnya terlihat dari penguatan kapasitas para guru.
“Pada periode 2024–2025, sebanyak 39 guru mengikuti peningkatan kapasitas melalui 27 pelatihan. Pada periode yang sama, empat lulusan program Sarjana Pesisir kembali ke wilayah asalnya untuk berkontribusi di desa,” ungkapnya..
Pada periode yang sama, program CSR ini meraih 241 penghargaan yang terdiri atas 217 penghargaan siswa dan 24 penghargaan guru, mulai dari tingkat kecamatan hingga internasional.
Sementara itu, General Manager PHM Muzwir Wiratama mengatakan, melalui Program Sekolah Negeri Terapung, PHM berupaya membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya memberikan dukungan sarana dan akses, tetapi juga memperkuat kapasitas guru dan siswa. “Capaian Ibu Nurul Fitriana melalui Fulbright DAI menjadi salah satu contoh bahwa ketika guru mendapatkan ruang untuk berkembang, dampaknya tidak berhenti pada individu, tetapi dapat kembali memberikan manfaat bagi sekolah, peserta didik, dan masyarakat,” ujar Wira, panggilan karib General Manager PHM.
Menurut Wira, dukungan PHM tidak berhenti pada peningkatan kapasitas akademik. PHM juga mendukung pengembangan lingkungan sekolah, infrastruktur pendidikan, kesehatan, pelestarian budaya, serta pemanfaatan energi terbarukan. Pada aspek lingkungan dan infrastuktur, Sekolah Negeri Terapung mendukung pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas total 6,7 kWp di dua sekolah untuk membantu memenuhi kebutuhan listrik sekaligus mengurangi ketergantungan pada generator diesel. Program tersebut diproyeksikan menurunkan emisi sebesar 7,638 ton CO₂ per tahun dan mengurangi penggunaan bahan bakar sekitar 3.600 liter per tahun.
Pendekatan Program Sekolah Negeri Terapung dirancang untuk menjawab kebutuhan pendidikan secara lebih menyeluruh, mulai dari akses, kualitas pembelajaran, kapasitas tenaga pengajar hingga lingkungan pendukung pendidikan. “Pendidikan merupakan investasi jangka panjang. Karena itu, kami ingin dukungan yang diberikan dapat membangun kapasitas dan membuka lebih banyak kesempatan bagi guru dan siswa untuk berkembang, termasuk menghasilkan prestasi yang dapat membawa nama wilayah pesisir hingga tingkat yang lebih luas,” pungkasnya. (*)
Migas, News, Peristiwa, Pertamina Hulu Mahakam

Muara Pantuan – Tim patroli keamanan PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) berhasil menyelamatkan enam awak kapal masyarakat setelah kapal yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan dan tenggelam di perairan Delta Mahakam, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pada Selasa (1/9/2026) lalu. Kapal masyarakat tersebut mengalami kecelakaan dalam perjalanan dari Muara Pantuan menuju Pulau Nubi, Kecamatan Anggana. Kondisi angin dan gelombang yang buruk menyebabkan kapal terhempas, kemasukan air, dan akhirnya tenggelam di sekitar area sumur migas yang dikelola PHM.
Kejadian tenggelamnya kapal masyarakat ini pertama kali diketahui oleh awak kapal TB Paramount Fortune yang melintas di perairan dangkal Delta Mahakam sekitar pukul 17.45 WITA. Mereka melihat kapal masyarakat yang tenggelam sekitar 3,2 kilometer dari daratan. Enam awak kapal terlihat melambaikan tangan sebagai tanda meminta pertolongan. Mendapat informasi tersebut, tim patroli keamanan PHM dari Fasilitas South Processing Unit (SPU) segera bergerak menggunakan armada ST Ruhen 28 menuju lokasi kejadian. Sekitar pukul 18.20 WITA, seluruh enam awak kapal berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.
Setelah dievakuasi, keenam awak kapal mendapatkan tempat untuk beristirahat dan penanganan lebih lanjut. PHM juga mendampingi mereka untuk memastikan kondisi masing-masing warga dalam keadaan baik, serta berkoordinasi dengan pemerintah setempat terkait kebutuhan dan proses kepulangan mereka agar dapat segera kembali berkumpul dengan keluarga.
General Manager PHM Muzwir Wiratama mengapresiasi respons cepat dari tim patroli PHM dan bersyukur bahwa seluruh awak kapal bisa diselamatkan dalam kondisi yang baik. “Bagi kami, melihat enam saudara kita berhasil diselamatkan dan dapat segera kembali berkumpul dengan keluarganya merupakan kebahagiaan tersendiri. Sebagai warga masyarakat yang baik, PHM senantiasa berupaya untuk memastikan keberadaan perusahaan memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan, terlebih lagi pada saat kondisi darurat seperti ini,” ujar Wira, panggilan akrab General Manager PHM.
Menurutnya tindakan cepat demi keselamatan dan kemanusiaan itu merupakan bagian dari komitmen PHM dalam menempatkan prioritas tertinggi terhadap keamanan dan keselamatan manusia, fasilitas, dan lingkungan. “Kepedulian terhadap keselamatan pekerja dan masyarakat sekitar merupakan bagian dari komitmen PHM dalam menjalankan kegiatan hulu migas yang selamat, andal, bertanggung jawab, dan berkelanjutan,” tegasnya.
Terkait kejadian ini, PHM akan terus berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan untuk memastikan keenam awak kapal tersebut mendapatkan pendampingan hingga proses kepulangan berjalan dengan baik. “Keselamatan dan kemanusiaan menjadi hal yang utama. Ketika ada masyarakat yang membutuhkan pertolongan di sekitar wilayah operasi, kami akan berupaya memberikan respons terbaik sesuai kemampuan dan prosedur yang kami miliki,” pungkasnya. (*)
Migas, News, PT Pertamina Hulu Sanga Sanga

Kutai Kartanegara – PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) mencatatkan hasil positif uji produksi migas dua sumur baru, SEM-206 dan SEM-207, pada proyek pengembangan lapangan migas di Struktur Semberah, Wilayah Kerja Sanga-Sanga, Kalimantan Timur. Kedua sumur baru berhasil memproduksi gas dan kondensat di atas target awal yang ditetapkan. Keberhasilan ini menunjukkan komitmen yang luar biasa dari PHSS untuk terus mendukung keberlanjutan produksi migas perusahaan yang penting bagi ketersediaan dan ketahanan energi nasional.
Sumur SEM-206 menyelesaikan tahapan uji produksi dengan mencatat produksi awal dua kali lebih tinggi dari target, yakni sebesar 5,3 juta standar kaki kubik gas per hari (mmscfd) dan 706 barel kondensat per hari (bcpd). Sementara Sumur SEM-207 menghasilkan gas sebesar 3,11 mmscfd dan kondensat sebesar 103 bcpd, empat kali lebih tinggi dari target awal. Kedua sumur tersebut mengalir secara natural melalui mekanisme open flow. Sumur SEM-206 didukung tiga lapisan reservoir dengan kondisi tekanan yang baik, sedangkan SEM-207 didukung satu lapisan reservoir dengan tekanan yang juga mendukung aliran produksi.
General Manager Zona 9 PHSS, Dadang Soewargono, mengatakan keberhasilan pengeboran dua sumur pengembangan tersebut memperkuat komitmen Perusahaan untuk terus berinvestasi dalam pengembangan lapangan migas yang sudah mature, termasuk melalui penerapan teknologi dan inovasi. “Selaras dengan visi perusahaan, kami terus berinvestasi dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi dengan melakukan pengeboran sumur-sumur baru guna menambah cadangan, meningkatkan recovery, menahan laju penurunan produksi alamiah, dan mempertahankan tingkat produksi migas lapangan-lapangan yang sudah mature di wilayah Kalimantan,” ujar Dadang.
Menurut Dadang, pengembangan lapangan migas mature membutuhkan strategi yang tepat karena setiap sumur memiliki karakteristik dan tantangan teknis yang berbeda. Karena itu, PHSS melakukan evaluasi teknis dan pengelolaan risiko secara menyeluruh dan mendalam sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan pengeboran dan uji produksi. “Pada pengeboran sumur SEM-206, kami menerapkan strategi pengeboran, antara lain melalui penggunaan peralatan komplesi dan kepala sumur dengan pressure rating tinggi serta penerapan teknologi Casing While Drilling (CWD) untuk mendukung stabilitas lubang sumur dan efektivitas operasi. Sejalan strategi tersebut, sumur SEM-206 dibor lebih ke arah timur dari struktur eksisting,” jelasnya.
Perbedaan kondisi reservoir dan tantangan di lapangan menyebabkan waktu penyelesaian yang tidak sama. Pengeboran hingga uji produksi pada Sumur SEM-206 selesai dalam 45 hari, sedangkan SEM-207 hanya membutuhkan 13 hari saja. “Alhamdulillah, pengerjaan kedua sumur mencatatkan kinerja keselamatan yang baik dengan masing-masing 75.600 dan 27.216 jam kerja selamat (safe man-hours) hingga tahap uji produksi,” imbuhnya.
Dadang pun memaparkan efisiensi biaya dalam pengeboran kedua sumur dengan realisasi biaya tercatat lebih rendah dibandingkan anggaran. “Keberhasilan pengeboran, efisiensi biaya, dan kinerja keselamatan yang unggul menunjukkan bahwa tantangan di lapangan mature dapat dijawab melalui perencanaan yang matang, inovasi, teknologi, dan eksekusi yang disiplin. Kami terus mencari cara untuk mengembangkan potensi yang ada secara optimal dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan dan keandalan operasi,” pungkasnya. (*)
Karhutla, Migas, News

Kalimantan – PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) melalui anak perusahaan dan afiliasinya di Regional 3 Kalimantan mengambil langkah proaktif dalam upaya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar wilayah operasi Perusahaan di Kalimantan. Langkah-langkah yang ditempuh Perusahaan di antaranya pengerahan tim pemadam, peralatan pemadaman, pemantauan, edukasi masyarakat, serta koordinasi dan kolaborasi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, relawan, dan pemangku kepentingan lainnya.
Upaya pencegahan dan penanganan karhutla dilakukan secara terpadu dengan mengedepankan keselamatan pekerja, masyarakat, fasilitas operasi, dan lingkungan. Di lapangan, tim Perusahaan juga bekerja sama dengan instansi terkait untuk memadamkan titik-titik api di sekitar wilayah operasi yang berdampak bagi masyarakat dan lingkungan.
Menanggapi karhutla di Kalimantan, Direktur Utama PHI Muharram Jaya Panguriseng menyampaikan empati dan keprihatinan kepada masyarakat yang terdampak. “Upaya dan prioritas perusahaan dalam menghadapi karhutla ini semata-mata untuk memastikan perlindungan bagi pekerja, fasilitas, masyarakat, dan lingkungan,’’ jelasnya.
Pada Kamis (20/8/2026) PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) Tim Emergency Intervention Team (EIT) South Processing Station (SPS) bersama Pemadam Kebakaran (Damkar) Samboja berhasil memadamkan titik api yang berada sekitar 100 meter di sebelah barat fasilitas operasi Lapangan Senipah, Peciko, dan South Mahakam.
Penanganan karhutla juga dilakukan anak perusahaan PHI, yakni PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) bersama relawan dan Dinas Kehutanan pada Jumat (21/8/2026) di wilayah Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara, yang berada di sekitar area migas Nilam Field. Tim menggunakan fire truck advancer dan vacuum truck berkapasitas 15 ribu hingga 24 ribu liter air untuk mengendalikan rambatan api di wilayah terdampak.
Sementara itu, PT Pertamina EP (PEP) Bunyu turut melakukan pemadaman titik api di Jalan Lingkar Bunyu, Kalimantan Utara, yang berjarak sekitar 14,1 kilometer dari area operasi Perusahaan. Penanganan dilakukan melalui kolaborasi Tim Fire PEP Bunyu dan Tim Damkar Kalimantan Utara.
Selain langkah pemadaman, Muharram menjelaskan bahwa Grup PHI juga memperkuat langkah pencegahan melalui Tim Community Based Security PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) dengan melakukan sosialisasi dan pelibatan masyarakat mengenai bahaya karhutla di Kelurahan Lawe-Lawe, yang berjarak sekitar sembilan kilometer dari Terminal Lawe-Lawe, pada 19–23 Agustus 2026.
Langkah preventif juga dilakukan PT Pertamina EP (PEP) Tarakan melalui sosialisasi bahaya karhutla kepada relawan penanganan bencana bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Utara dan BPBD Kota Tarakan di Kecamatan Tarakan Timur. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi karhutla.
Manager Communication Relations & CID PHI, Dony Indrawan, mengungkapkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan kerja sama berbagai pihak. “Tantangannya tidak hanya berkaitan dengan pemadaman api, tetapi juga pencegahan dan pengendalian agar api tidak kembali meluas. Cuaca panas, dengan suhu yang mencapai 34 – 36 derajat celcius pada siang hari, meningkatkan risiko kekeringan vegetasi dan rambatan api terutama di kawasan bergambut,” jelasnya.
Menurut Dony, kondisi ini menjadi tantangan bagi personel di lapangan karena api dapat bertahan di bawah permukaan tanah dan kembali muncul apabila proses pembasahan dan pendinginan belum tuntas.
Ia menambahkan bahwa Grup PHI terus berkoordinasi dengan pemerintah, aparat keamanan, relawan, dan masyarakat dalam setiap langkah penanganan sesuai kewenangan dan ketentuan yang berlaku. “Kami mengapresiasi seluruh pihak yang terus bekerja di lapangan. Mulai dari pemerintah daerah, aparat keamanan, pemadam kebakaran, relawan, hingga masyarakat. Kolaborasi seperti ini sangat penting untuk memastikan keselamatan pekerja dan masyarakat sekaligus melindungi lingkungan,” kata Dony.
PHI meyakini kolaborasi yang erat dengan pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan merupakan bagian penting dalam menjaga keberlanjutan operasi hulu migas di Kalimantan. “Langkah tersebut sejalan dengan komitmen Perusahaan untuk terus mendukung keberlanjutan produksi minyak dan gas bumi demi ketersediaan dan ketahanan energi Indonesia,” pungkasnya. (*)
Migas, News, Pertamina Hulu Mahakam

Kutai Kartanegara – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) kembali menegaskan komitmennya dalam penguatan kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan akses pendidikan dan kesehatan melalui penyelenggaraan Program SHU Ecovation Day: Lensa Energi. Program yang diinisiasi oleh PT Pertamina Hulu Energi (PHE) ini menghadirkan pemeriksaan kesehatan mata dan pemberian kacamata bagi siswa sekolah dasar sebagai upaya deteksi dini gangguan penglihatan yang dapat memengaruhi proses belajar. Melalui program ini, PHM melibatkan anak-anak sekolah di sekitar wilayah operasi perusahaan di kawasan Delta Mahakam, yaitu Kelurahan Muara Kembang dan Desa Kutai Lama pada tanggal 3 dan 4 Agustus 2026.
Kegiatan yang berlokasi di Balai Pertemuan Kelurahan Muara Kembang melibatkan 87 peserta yang terdiri atas Lurah beserta jajaran Kelurahan Muara Kembang, tim Optik Jakarta, para guru, serta 66 siswa kelas VI dari SDN 002 Muara Jawa, SDN 009 Muara Jawa, dan Madrasah Ibtidaiyah Swasta Al-Istiqomah. Sementara itu di Desa Kutai Lama, program ini dilaksanakan di SDN 010 Anggana, yang diikuti siswa kelas VI sejumlah 52 peserta didik. Rangkaian pemeriksaan mata didukung oleh seluruh tenaga pendidik sekolah dan tim Optik Jakarta.
Program ini mendapat sambutan antusias dari para siswa, guru, maupun pemerintah setempat. Kehadiran layanan pemeriksaan mata di lingkungan sekolah diharapkan mampu membantu meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan mata sejak usia dini. Setiap peserta menjalani pemeriksaan mata secara menyeluruh yang meliputi registrasi, tes buta warna, pemeriksaan objektif (refraksi), serta pemeriksaan subjektif melalui pembacaan huruf dan angka untuk mengetahui tingkat ketajaman penglihatan serta kebutuhan koreksi menggunakan kacamata.
Pada kesempatan ini, Kepala SDN 010 Anggana, Sunarsih, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya program tersebut. Menurutnya, selama proses pembelajaran para guru telah mengidentifikasi sejumlah siswa yang diduga mengalami gangguan penglihatan. “Dengan keterbatasan ekonomi keluarga menyebabkan sebagian besar siswa belum pernah menjalani pemeriksaan mata maupun memperoleh kacamata yang sesuai dengan kebutuhannya. Jadi kami sangat terbantu sekali dengan adanya program ini, tutur Sunarsih.
Apresiasi turut disampaikan Lurah Muara Kembang, Mukosim, atas kolaborasi yang terjalin antara pemerintah kelurahan dan PHM dalam menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. "Kami mengapresiasi komitmen PT Pertamina Hulu Mahakam yang terus menghadirkan program-program yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Pemeriksaan kesehatan mata bagi anak-anak merupakan investasi penting bagi masa depan mereka karena penglihatan yang baik akan mendukung proses belajar dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di wilayah kami,” ucap Mukosim.
Pada kesempatan berbeda, General Manager PT Pertamina Hulu Mahakam, Setyo Sapto Edi, menegaskan bahwa pelibatan dan pengembangan masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari komitmen dan strategi untuk mendukung keberlanjutan operasi perusahaan. "PHM percaya bahwa keberhasilan operasi perusahaan harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat di sekitar wilayah kerja. Melalui Program CID SHU Ecovation Day: Lensa Energi, kami berharap dapat membantu anak-anak memperoleh akses terhadap layanan kesehatan mata sehingga mereka dapat belajar dengan lebih optimal. Program ini merupakan wujud komitmen kami dalam menciptakan nilai bersama serta mendukung pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas,” tutupnya. (*)
Migas, News, Pertamina Hulu Mahakam

Balilkpapan – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) menerima kunjungan kehormatan Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Balikpapan yang meninjau fasilitas operasi migas lepas pantai Bekapai, sekitar 60 km lepas pantai arah utara dari Kota Balikpapan, pada 22 Juli 2026. Kunjungan ini menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama dan sinergi dalam pengamanan aset hulu migas PHM sebagai Objek Vital Nasional (Obvitnas) sekaligus memastikan keberlangsungan operasi yang aman, andal, dan ramah lingkungan guna mendukung ketahanan energi nasional.
Pada kesempatan kunjungan tersebut, General Manager PHM Setyo Sapto Edi menyambut langsung kunjungan Komandan Lanal Balikpapan Letkol Laut (P) Rudhiro Pratomo S.A.P. dan tim. Turut hadir Kepala SKK Migas Perwakilan Kalimantan dan Sulawesi (Kalsul) Haryanto Syafri, beserta jajaran manajemen SKK Migas Kalsul.
Setyo menjelaskan, keberhasilan operasi hulu migas tidak hanya ditentukan oleh keandalan fasilitas dan kompetensi pekerja, namun juga oleh sinergi yang kuat antara perusahaan, regulator, dan aparat keamanan, termasuk TNI AL, karena keamanan merupakan fondasi utama dalam menjaga keberlangsungan operasi hulu migas. “Sebagai pengelola aset hulu migas yang merupakan Obvitnas, PHM membutuhkan sinergi yang kuat dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk SKK Migas dan TNI Angkatan Laut, agar operasi dapat berjalan secara selamat, andal, dan berkelanjutan. Kolaborasi ini sangat penting dalam melindungi aset strategis negara sekaligus menjaga pasokan energi nasional," ujar Setyo.
Sebagai salah satu fasilitas produksi lepas pantai strategis di Wilayah Kerja (WK) Mahakam, Bekapai memiliki peran penting dalam mendukung produksi minyak nasional. Di tengah tantangan pengelolaan lapangan migas yang telah memasuki fase mature field, PHM terus mengoptimalkan operasi melalui penerapan budaya keselamatan yang kuat, pemeliharaan aset yang andal, inovasi operasional, serta penguatan sistem keamanan untuk memastikan keberlangsungan produksi secara aman dan efisien.
Kepala SKK Migas Kalsul, Haryanto Syafri, menyampaikan apresiasi atas kinerja PHM yang terus menjaga keberlangsungan operasi dan memberikan kontribusi terhadap produksi migas nasional. Menurutnya, salah satu kunci menghadapi tantangan operasi pengelolaan lapangan migas yang telah berproduksi selama puluhan tahun adalah memastikan aspek keamanan dan keselamatan kerja, termasuk penerapan sistem keselamatan pada fasilitas produksi lepas pantai.
Haryanto menambahkan, PHM masih merupakan salah satu kontributor penting dalam pemenuhan kebutuhan energi nasional. Di tengah tantangan pengelolaan lapangan migas yang telah memasuki fase mature, SKK Migas Kalsul mengapresiasi upaya PHM yang terus menjaga keandalan operasi, mengoptimalkan produksi, serta mengedepankan aspek keselamatan dan keamanan. “Sinergi yang erat antara SKK Migas, PHM, dan seluruh pemangku kepentingan, termasuk aparat keamanan, menjadi faktor penting untuk memastikan target produksi migas nasional dapat tercapai secara berkelanjutan,” tuturnya.
Sementara itu, Komandan Lanal Balikpapan Letkol Laut (P) Rudhiro Pratomo S.A.P. menegaskan komitmen TNI Angkatan Laut untuk terus memperkuat koordinasi dan kolaborasi dengan SKK Migas dan PHM dalam menjaga keamanan Obvitnas di wilayah perairan. "Pengamanan Obvitnas merupakan tanggung jawab bersama. TNI Angkatan Laut siap mendukung pengamanan fasilitas operasi lepas pantai melalui koordinasi yang erat, melakukan patroli keamanan, serta langkah-langkah pencegahan terhadap potensi gangguan. Dengan kolaborasi yang kuat, kami berharap operasional PHM dapat terus berjalan dengan aman sehingga mampu mendukung ketahanan energi untuk Indonesia," tegas Rudhiro.
Rangkaian kunjungan diawali dengan safety induction sebagai implementasi komitmen PHM terhadap aspek keselamatan kerja. Setelah itu dilanjutkan pemaparan mengenai kondisi operasional Bekapai, penerapan sistem keselamatan, serta pengelolaan aspek keamanan pada fasilitas produksi lepas pantai yang merupakan bagian dari aset strategis nasional. PHM juga menyampaikan gambaran terkait kegiatan operasional di WK Mahakam, termasuk pengelolaan jaringan pipa migas yang menjadi infrastruktur penting dalam mendukung penyaluran energi nasional.
Melalui kunjungan ini, PHM, SKK Migas, dan TNI Angkatan Laut, menegaskan komitmen bersama untuk terus memperkuat sinergi dalam menjaga keamanan dan keandalan operasi hulu migas. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mendukung kelancaran produksi energi nasional untuk memberikan kontribusi optimal sekaligus melindungi aset strategis negara sesuai dengan visi perusahaan untuk mendukung keberlanjutan produksi minyak dan gas bumi untuk ketersediaan dan ketahanan energi Indonesia. (*)
Ekonomi, Migas, News, Pertamina Hulu Mahakam

Muara Pantuan, Kalimantan Timur – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) berhasil menerapkan sebuah inovasi pengelolaan lingkungan yang memanfaatkan sampah organik dari area operasinya untuk mendukung peningkatan perekonomian masyarakat di Pulau Nubi, Desa Muara Pantuan, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Sampah organik, berupa sisa makanan dari kafetaria perusahaan di lapangan operasi South Processing Unit (SPU), dimanfaatkan menjadi pakan ternak bebek milik warga sekitar. Metode tersebut tidak hanya mengurangi timbunan sampah organik, namun sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat melalui usaha ekonomi lokal yang berkelanjutan.
Inovasi pengelolaan sampah organik ini dilatarbelakangi oleh hasil kajian Fungsi Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) SPU terhadap peluang pemanfaatan sampah sisa makanan pekerja di kafetaria sebagai pakan ternak. Sejalan dengan hasil kajian tersebut, pada Juni 2025 masyarakat Desa Pantuan melalui Ketua RT, H.Taher, mengajukan permohonan dukungan kepada PHM untuk memperoleh bantuan pakan ternak yang berasal dari sisa makanan di kafetaria dalam rencana budidaya bebek petelur dan bebek pedaging di wilayahnya. Mereka mengawali budidaya pembibitan 300 bebek pada September 2025. Ketika bibit pertama mulai memasuki usia produktif, yakni sekitar lima bulan, ia menambah 300 ekor bibit bebek petelur pada Februari 2026. Dengan bertambahnya populasi bebek, kebutuhan terhadap pakan pun meningkat. Sehingga sejak April hingga Juni 2026, seluruh sampah organik sisa makanan di kafetaria pekerja SPU berhasil dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Pada 11 Juli 2026 lalu, General Manager PHM Setyo Sapto Edi berkesempatan mengunjungi lokasi peternakan bebek ini dan berdialog dengan warga Desa Pantuan dalam rangkaian kegiatan Management Walk Through (MWT). Setyo mengatakan, inovasi pengelolaan sampah organik dari sisa makanan pekerja sebagai pakan ternak merupakan wujud nyata komitmen PHM untuk mengintegrasikan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam kegiatan operasi hulu migas perusahaan sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
"Kami berharap kolaborasi PHM dan masyarakat dapat terus berkembang dan menginspirasi lahirnya berbagai inovasi lain yang akan berdampak positif bagi lingkungan dan masyarakat. Sejalan dengan semangat ESG, kami akan terus mendorong program-program yang menciptakan nilai bersama atau creating shared value bagi seluruh pemangku kepentingan," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Lapangan SPU Teddy Indrawan menjelaskan, sebelum program ini dilakukan, sampah sisa makanan dari kafetaria pekerja SPU setiap hari diangkut menuju lokasi fasilitas pengelolaan limbah yang berjarak sekitar 30 kilometer. “Melalui program ini, sisa makanan yang sebelumnya dikelola sebagai limbah kini dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Selain mendukung penerapan prinsip ekonomi sirkular, inisiatif ini juga mengurangi kebutuhan pengangkutan limbah dan menurunkan potensi risiko keselamatan dalam operasional. Program ini memberikan manfaat lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan limbah,” pungkas Teddy.
Pendekatan ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah organik ini berhasil mendukung pertumbuhan usaha budidaya bebek yang dikelola H. Taher bersama masyarakat. Sejak Februari 2026, peternakan tersebut mampu menghasilkan sekitar 60 hingga 90 butir telur bebek setiap hari. Bahkan, pada beberapa kesempatan produksinya menembus lebih dari 100 butir per hari. Ke depan, H. Taher bersama masyarakat setempat berencana mengembangkan usahanya untuk memperluas manfaat dan peningkatan ekonomi masyarakat Desa Muara Pantuan yang berkelanjutan.
Head of Communication Relations & CID PHM Achmad Krisna Hadiyanto menegaskan bahwa melalui inisiatif ini, PHM berhasil menunjukkan bukti bahwa pengelolaan lingkungan di operasi hulu migas perusahaan dapat berjalan selaras dengan program pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, program yang semula berfokus pada pengurangan sampah organik sisa makanan pekerja di lingkungan perusahaan, kini berkembang menjadi sebuah contoh penerapan ekonomi sirkular yang mampu menciptakan manfaat bagi berbagai pihak, mulai dari berkurangnya limbah, efisiensi biaya operasional perusahaan, hingga meningkatnya peluang usaha dan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasi. “Ke depan, kami akan terus mendorong inovasi dan kolaborasi yang dapat menghadirkan program keberlanjutan yang memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan,” pungkasnya. (*)