News, Pertanian, Polda Kaltim, Polres Kukar

Kalimantan Timur - Kapolda Kalimantan Timur (Kaltim) Irjen Pol. Endar Priantoro melaunching industri pertanian dan penanaman jagung serentak dalam rangka mendukung swasembada pangan tahun 2025 digelar secara daring dari Mapolres Kutai Barat (Kubar), Selasa, (04/11/2025).
Kegiatan yang sama juga digelar di digelar di Dusun 4, RT 13, Desa Sidomulyo, Kecamatan.Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dan,dihadiri Kapolres Kukar AKBP Khairul Basyar beserta jajaran, serta sejumlah undangan.
Kapolda Kaltim dalam sambutannya mengatakan, launching ini merupakan wujud nyata dan komitmen jajaran Polda Kalimantan Timur untuk mendukung program pemerintah khususnya astacita Presiden RI dalam hal ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi masyarakat melalui kegiatan penanaman jagung.
Dikatakannya, Kaltim adalah wilayah yang cukup unik jika dikaitkan dengan tanaman jagung, dimana luas wilayah Kaltim hampir dua atau tiga kali Pulau Jawa, namun jumlah penduduk yang ada hanya sekitar 4 , 25 juta jiwa.
"Bandingkan dengan luasan wilayah Jawa, kemudian dibandingkan dengan kondisi struktur tanah bahwa kondisi tanah di Kalimantan Timur termasuk di Kutai Barat hampir sama dengan kondisi lain yang mengandung logam berat yang cukup tinggi, sulfur yang juga tinggi dan Zat asam yang sifatnya sangat rendah hal ini tentunya membutuhkan perhatian yang lebih dalam rangka untuk melakukan penanaman jagung," ungkapnya.
Ia menyebut, faktor lainnya adalah masalah budaya masyarakat di Kaltim, diimana budaya masyarakatnya masih belum menjadikan jagung sebagai budidaya atau objek pertanian yang menarik, karena memang belum diciptakan sistem yang menjadikan nilai ekonomis dan bermanfaat bagi masyarakat.
"Awal tahun kami melakukan upaya penanaman jagung memang masih sedikit sekali, tiga bulan berikutnya kami hampir naik 230 persen jumlah penanamannya, tetapi kalau dibandingkan luasan di wilayah lain di Jawa dan kita masih belum ada apa-apanya. Kami sadar memang bahwa tanaman jagung belum sesuai dengan wilayah disini, belum lagi kalau kita melihat dari kondisi geografis, harga tanaman jagung pipil yang diterima atau dihargai di bulog Rp 6.400 per kg ketika kadarnya 14%, kalau diterima di lokasi Rp.5.500 per kg ketika kadarnya 18% ke atas," beber Irjen Pol. Endar Priantoro.
Diungkapnnya, beberapa waktu lalu pihaknya mencoba melakukan inovasi bagaimana memanfaatkan kondisi dengan konsep industrial pertanian, konsep ini dikedepankan mengingat kondisi di Kaltim tidak cukup efektif jika hanya membuat parsial-parsial, sehingga pihaknya banyak berdiskusi dengan beberapa ahli, pakar, dan Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim hingga akhirnya dibuat konsep industri pertanian dari hulu ke hilir agar tercapai pemanfaatannya.
"Kami hanya sebagai fasilitator, kami hanya mendorong sehingga tingkat kemanfaatan dari industrial jagung ini bisa berhasil dengan baik, ekonomi masyarakat bisa lebih maju dan tentunya efek domino dari industrial pertanian ini akan terasa oleh masyarakat. Terima kasih banyak kepada Polres Kutai Barat sudah melaunching pertama karena di tempat lain juga akan siap-siap melaksanakan konsep ini, kedepannya dengan target 20-30 hektar sehingga kemanfaatannya akan lebih terasa," ucapnya.
Sambung dia, metode penanaman tidak serentak 23 hektar, namun bertahap agar siklusnya terus berkesinambungan, seperti ketersediaan pupuk apakah berasal dari tanaman atau pemeliharaan sapi ataupun ayam agar ada perputaran siklus untuk menambah nilai ekonomis.
"Konsep industri pertanian menurut kami adalah yang paling cocok, karena memang sumber daya manusianya tidak terlalu banyak, karena ada disitu, sementara Kalimantan Timur memang belum banyak global, dari data yang kami miliki hanya 194 kelompok tani Se-Kaltim yang tercatat, dibandingkan dengan di Jawa Tengah saja itu ada 1.830 kelompok tani dengan lahan yang lebih kecil. Dengan konsep industrial jagung inilah yang kita lakukan, semoga kita berhasil dan saya yakin kalau kita punya niat yang sama Insya Allah kita berhasil dengan baik," ujar Kaltim) Irjen Pol. Endar Priantoro.
Ia menambahkan, nantinya pihaknya akan membuat 8 pilot project industrial pertanian di Kaltim, diantaranya di Polres Berau 30 hektar ,Polres Kukar 20 hektar, Polres paser 20 hektar, Polres Kutim 25 hektar dan Polres Bontang 20 Hektar. Kemudian Polresta Samarinda 5 hektar, Polres PPU 25 hektar Total ada 195 hektar guna meningkatan pendapatan ekonomi kemandirian dan keberlanjutan.
Selaku Kapolda Kaltim, dirinya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah membantu, baik pengusaha maupun kelompok tani mitra. Ditambahkannya, pihaknya memilah lahan eks tambang sebagai industrial pertanian karena wilayah Kaltim dipenuhi oleh pertambangan, sehingga pasca tambang menjadi lahan kritis dan harus dimanfaatkan sebagai wujud tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan. (mmbse)
Ketahanan Pangan, News, Pemerintahan, Pertanian
![]() |
Syukuran panen raya padi sawah di lahan Gapoktan Sidodadi, Kelurahan Mangkurawang, Tenggarong (Foto: Istimewa) |
News, Pemerintahan, Pertanian
![]() |
Deklarasi Sekolah Pemberdayaan Rakyat inisiasi Yayasan KBBI di Pendopo Odah Etam Tenggarong (Foto: Prokom Kukar) |
Distanak Kukar, IKN, News, Pertanian
![]() |
| Kabid Sarana dan Prasarana Distanak Kukar Muhammad Rifani saat ditemudi di ruang kerjanya (Foto: Fairuz) |
Untuk mendukung hal tersebut, kata Kepala Bidang (Kabid) Sarana dan Prasarana (Sapras) Distanak Kukar, Muhammad Rifani, harus ada terobosan baru dalam rangka memaksimalkan dan mengoptimalkan produksi sawah yang sudah, Selasa (29/10/2024).
Distanak Kukar sendiri saat ini sudah mempunyai inovasi baru yaitu Ruang Produksi Pada Kawasan Padi Sawah Kutai Kartanegara (RAPAK KUKAR) yang diberlakukan di lima kawasan utama.
Kawasan dimaksud meliputi Sebulu-Muara Kaman seluas 1.519,42 ha, Tenggarong-Loa Kulu seluas 1.186,67 ha, Marangkayu seluas 1.081,36 ha, Tenggarong Seberang I seluas 2.010,28 ha, dan Tenggarong Seberang II seluas 2.295,34 ha.
“Luasnya di atas 1000 hektare semua, jadi lima kawasan sekarang ini inovasi baru dari Distanak, RAPAK Kukar. Nanti akan berlanjut ke kawasan-kawasan lainnya secara bertahap akan digencarkan," beber Muhammad Rifani.
Dia mengutarakan, dengan program RAPAK KUKAR tersebut, pemerintah daerah dapat melakukan perencanaan yang lebih matang dalam mencapai tujuan menjadi lumbung pangan untuk IKN.
“Inovasi ini sekarang yang sedang kita selesaikan, jadi inovasinya itu RAPAK Kukar, dan itu akan menjadi bahan di pelatihan kepemimpinan administrator tahun 2024 ini,” sambungnya.
IKN, News, Pertanian

Humas Otorita Ibu Kota Nusantara
Baca Juga: Persiapan Menuju Groundbreaking ke-8 di Ibu Kota Nusantara: Langkah Maju Menuju Kota Masa Depan
News, Pertamina Hulu Indonesia, Pertanian

Bisnis - Ekonomi, News, Pertanian
| Kegiatan presentasi akhir terkait rencana akan dijadikannya ex RPU Kukar sebagai Food Station (Foto: Endi) |
Bangunan eks Rice Processing Unit (RPU) yang berlokasi di desa Manunggal Jaya, kecamatan Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara (Kukar), akan dijadikan sebagai Food Station.
Ini terungkap dalam presentasi akhir perencanaan Detail Engineering Design (DED) Food Station ex. RPU Kukar yang dipaparkan oleh PT Eksakta Profesitama selaku konsultan teknik perencanaan dan pengawasan, Rabu (15/12/2021) di rumah makan Tepian Pandan, Tenggarong.
Dalam presentasi yang diinisiasi Dinas Pertanian dan Peternakan Kukar ini dijabarkan, Food Station nantinya tidak hanya untuk penggilingan padi saja, melainkan hasil produksi pertanian lainnya seperti jagung dan sayur mayur yang akan ditampung serta diolah secara profesional dengan konsep bisnis hingga pemasarannya.
Dikatakan Plt Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkab Kukar Wiyono, RPU akan difungsikan secara optimal dengan berkolaborasi bersama perusahaan yang bergerak di bidang pertanian yakni PT Indoditas Duta Raya.
"Artinya aset kita (RPU, Red) yang ada disana selama ini memang belum teroptimalkan, dan ada pihak swasta yang ingin membantu pemerintah daerah. Ini sesuai visi misi Bupati Kukar yang salah satunya adalah memperkuat pembangunan ekonomi berbasis pertanian, pariwisata dan ekonomi kreatif," ucapnya.
Pria yang juga menjabat Kepala Bappeda Kukar ini mengungkapkan, mengingat keterbatasan anggaran pemkab, maka diperlukan kolaborasi bersama para stake holders dalam bentuk kerjasama dan mekanisme-mekanisme yang akan didiskusikan lebih lanjut.
"Kadang petani ini sudah kerja keras, tetapi begitu dia panen bingung siapa yang membeli. Tapi kalau ada Food Station hasil panennya sudah bisa diserap atau ada jaminan pasar," bebernya.
Selain kantor, didalam Food Station juga terdapat tempat produksi beras dimana gabah kering hasil panen akan menjadi gabah kering giling yang dikemas menjadi beras medium dan beras premium. Lalu ada pabrik tepung beras, pabrik pupuk organik, pabrik pakan serta hortik station.
"Kemudian depo saprotan dan depo alsintan. Jadi nanti seluruh proses modernisasi pertanian akan kita buat disitu. Sayang kan tempat seluas itu tidak dimanfaatkan, kalau jadi 10 wahana bisa menghasilkan pendapatan kan Alhamdulillah," terang Firly.
Output lainnya, petani akan mendapatkan hasil yang jelas. Selain itu petani juga tidak harus bersusah payah menjemur gabah jika nantinya terdapat dryer atau pengering gabah didalam Food Station.
"Jadi akan keluar komoditi unggulan dari Kutai Kartanegara, baik biji-bijian, sayur-sayuran. Kemudian adanya depo alsintan dan depo saprotan sudah menjamin disini tidak ada lagi yang kesulitan benih pupuk pestisida," sambungnya.
Ia menambahkan, terkait target pembangunan dan pengembangan Food Station, elaborasi antara pihaknya dengan pemerintah daerah diharapkan dapat segera dieksekusi bersama.
"Kalau swasta kan berharap cepat, tapi ini kan ada hubungannya dengan pemerintah kabupaten, semakin cepat diselesaikan semakin cepat jadinya," tandas Firly. (end)




