, , ,


    Kalimantan Timur - Kapolda Kalimantan Timur (Kaltim) Irjen Pol. Endar Priantoro melaunching industri pertanian dan penanaman jagung serentak dalam rangka mendukung swasembada pangan tahun 2025 digelar secara daring dari Mapolres Kutai Barat (Kubar), Selasa, (04/11/2025).

    Kegiatan yang sama juga digelar di digelar di Dusun 4, RT 13, Desa Sidomulyo, Kecamatan.Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dan,dihadiri Kapolres Kukar AKBP Khairul Basyar beserta jajaran, serta sejumlah undangan.

    Kapolda Kaltim dalam sambutannya mengatakan, launching ini merupakan wujud nyata dan komitmen jajaran Polda Kalimantan Timur untuk mendukung program pemerintah khususnya astacita Presiden RI  dalam hal ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi masyarakat melalui kegiatan penanaman jagung.

    Dikatakannya, Kaltim adalah wilayah yang cukup unik jika dikaitkan dengan tanaman jagung, dimana luas wilayah Kaltim hampir dua atau tiga kali Pulau Jawa, namun jumlah penduduk yang ada hanya sekitar 4 , 25 juta jiwa.

    "Bandingkan dengan luasan wilayah Jawa, kemudian dibandingkan dengan kondisi struktur tanah  bahwa kondisi  tanah di Kalimantan Timur termasuk di Kutai Barat hampir sama dengan kondisi lain yang mengandung logam berat yang cukup tinggi, sulfur yang juga tinggi dan Zat asam yang sifatnya sangat rendah hal ini tentunya membutuhkan perhatian yang lebih dalam rangka untuk melakukan penanaman jagung," ungkapnya.

    Ia menyebut, faktor lainnya adalah masalah budaya masyarakat di Kaltim, diimana budaya masyarakatnya masih belum menjadikan jagung sebagai budidaya atau objek pertanian yang menarik, karena memang belum diciptakan sistem yang menjadikan nilai ekonomis dan bermanfaat bagi masyarakat.

    "Awal tahun kami melakukan upaya penanaman jagung memang masih sedikit sekali, tiga bulan berikutnya kami hampir naik 230 persen jumlah penanamannya, tetapi kalau dibandingkan luasan di wilayah lain di Jawa dan kita masih belum ada apa-apanya. Kami sadar memang bahwa tanaman jagung belum sesuai dengan wilayah disini, belum lagi kalau kita melihat dari kondisi geografis, harga tanaman jagung pipil yang diterima atau dihargai di bulog  Rp 6.400  per kg ketika kadarnya 14%, kalau diterima di lokasi Rp.5.500 per kg ketika kadarnya 18% ke atas," beber Irjen Pol. Endar Priantoro.

    Diungkapnnya, beberapa waktu lalu pihaknya mencoba melakukan inovasi bagaimana memanfaatkan kondisi dengan konsep industrial pertanian, konsep ini dikedepankan mengingat kondisi di Kaltim tidak cukup efektif jika hanya membuat parsial-parsial, sehingga pihaknya banyak berdiskusi dengan beberapa ahli, pakar, dan Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim hingga akhirnya dibuat konsep industri pertanian  dari hulu ke hilir agar tercapai pemanfaatannya.

    "Kami hanya sebagai fasilitator, kami hanya mendorong sehingga tingkat kemanfaatan dari industrial jagung ini bisa berhasil dengan baik, ekonomi masyarakat bisa lebih maju dan tentunya efek domino dari industrial pertanian ini akan terasa oleh masyarakat. Terima kasih banyak kepada Polres Kutai Barat sudah melaunching pertama karena di tempat lain juga akan siap-siap melaksanakan konsep ini, kedepannya dengan target 20-30 hektar sehingga kemanfaatannya akan lebih terasa," ucapnya.

    Sambung dia, metode penanaman tidak serentak 23 hektar, namun bertahap agar siklusnya terus berkesinambungan, seperti ketersediaan pupuk apakah berasal dari tanaman atau pemeliharaan sapi ataupun ayam agar ada perputaran siklus untuk menambah nilai ekonomis.

    "Konsep industri pertanian menurut kami adalah yang paling cocok, karena memang sumber daya manusianya tidak terlalu banyak, karena ada disitu, sementara Kalimantan Timur memang belum banyak global, dari data yang kami miliki hanya 194 kelompok tani Se-Kaltim yang tercatat, dibandingkan dengan di Jawa Tengah saja itu ada 1.830 kelompok tani dengan lahan yang lebih kecil. Dengan konsep industrial jagung inilah yang kita lakukan, semoga kita berhasil dan saya yakin kalau kita punya niat yang sama Insya Allah kita berhasil dengan baik," ujar Kaltim) Irjen Pol. Endar Priantoro.

    Ia menambahkan, nantinya pihaknya akan membuat 8 pilot  project industrial pertanian di Kaltim, diantaranya di Polres Berau 30 hektar ,Polres Kukar 20  hektar, Polres paser 20 hektar, Polres Kutim 25 hektar dan Polres Bontang 20 Hektar. Kemudian Polresta Samarinda 5 hektar, Polres PPU 25 hektar  Total  ada 195 hektar guna meningkatan pendapatan ekonomi kemandirian dan keberlanjutan. 

    Selaku Kapolda Kaltim, dirinya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah membantu, baik pengusaha maupun kelompok tani mitra. Ditambahkannya, pihaknya memilah lahan eks tambang sebagai industrial pertanian karena wilayah Kaltim dipenuhi oleh pertambangan, sehingga pasca tambang menjadi lahan kritis dan harus dimanfaatkan sebagai wujud tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan. (mmbse)

    , , ,

    Syukuran panen raya padi sawah di lahan Gapoktan Sidodadi, Kelurahan Mangkurawang, Tenggarong
    (Foto: Istimewa)

    Kutai Kartanegara - Panen raya merupakan kegiatan yang paling ditunggu-tunggu oleh petani, setelah beberapa bulan berjuang mulai dari proses pengolahan lahan, penyemaian benih, penanaman, pemeliharaan termasuk proses pemupukan dan pengendalian hama penyakit dan sampai pada akhirnya panen.

    Ini disampaikan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) dr Aulia Rahman Basri saat menghadiri syukuran panen raya padi sawah di lahan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sidodadi, Kelurahan Mangkurawang, Kecamatan Tenggarong, Rabu (10/09/2025).

    Ia megatakan, meski petani juga diperhadapkan pada kondisi sulit seperti cuaca yang tidak menentu termasuk adanya serangan hama penyakit yang dapat mengurangi hasil panen yang diharapkan dan bahkan kadangkala sampai gagal panen (puso). 

    "Tentunya semua perjuangan ini harus kita apresiasi dan tentunya tidaklah salah jika profesi petani merupakan profesi yang mulia karena dapat menyediakan pangan bagi masyarakat luas," ucapnya.

    Menurut Aulia, panen padi ini semakin meneguhkan bahwa Kukar merupakan lumbung pangan di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) dan hingga saat ini telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penyediaan pangan termasuk khususnya padi (beras) di Provinsi Kaltim. Berdasarkan Data BPS Kaltim Tahun 2024, luas panen padi di Provinsi Kaltim tercatat seluas 57.143,29 Hektar dan untuk Kabupaten Kukar seluas 26.744,87 Hektar atau 46,80% dari luas panen di wilayah Provinsi Kaltim. 

    "Sedangkan untuk produksi padi Gabah Kering Giling (GKG) di Kabupaten Kutai Kartanegara sebanyak 115,10 ribu ton GKG atau memberikan kontribusi sebanyak 50,71% dari keseluruhan produksi GKG di Provinsi Kalimantan Timur," bebernya.

    Kedudukan dan peran strategis Kukar dalam penyediaan pangan akan lebih besar lagi dengan adanya Ibu Kota Negara Nusantara (IKN Nusantara), dimana nantinya sekitar 4-5 juta orang akan berpindah ke wilayah IKN dan sekitarnya. Ini tentunya merupakan peluang sekaligus tantangan utamanya bagi Kukar sebagai wilayah penyanggah pangan IKN.

    "Komitmen Pemkab Kukar terhadap pembangunan pertanian dalam arti luas sangat besar dan menjadi salah satu program prioritas utama dalam kebijakan pembangunan daerah. Kebijakan ini merupakan salah satu strategi transformasi ekonomi Kabupaten Kukar dari ekonomi yang bertumpu/bergantung pada sumber daya alam yang tidak terbarukan (unrenewable resources) khususnya dari sektor pertambangan minyak bumi, gas dan batubara ke ekonomi yang terbarukan (renewable resources) melalui pembangunan pertanian dalam arti luas, pariwisata dan ekonomi kreatif," ujar Aulia.

    Dia menambakan, beberapa strategi dan kebijakan yang telah dilakukan oleh Pemkab Kukar dalam rangka pencapaian dan percepatan pembangunan pertanian di Kabupaten yang dipimpinnya diantaranya penetapan kawasan pertanian berbasis komoditi padi sawah sebanyak 5 kawasan pertanian.

    "Yaitu kawasan pertanian Sebulu - Muara Kaman, Loa Kulu - Tenggarong, Tenggarong Seberang 1, Tenggarong Seberang 2 dan Marangkayu. Total luasan keseluruhan sawah pada 5 kawasan ini sekitar kurang lebih 8.093,06 hektar," paparnya.

    Sementara itu Ketua Gapoktan Kelurahan Mangkurawang Yuhardiansyah, mengungkapkan, jumlah kelompok tani yang tergabung dalam Gapoktan Mangkurawang yang telah berdiri sejak tahun 1984 adalah sebanyak 11 kelompok tani, yaitu 9 kelompok tani dewasa dan 2 kelompok wanita tani dengan jumlah anggota keseluruhan sebanyak 362 Orang.

    "Luas lahan sawah mencapai 239,25 hektar sedangkan luas lahan kering mencapai 153,50 ha dan lahan potensial mencapai 200 hektar. Adapun indeks pertanaman dalam setahun masih IP 2 dengan produktivitas mencapai 3,5-4 Ton per hektar. Petani Mangkurawang juga telah menjalin kerja sama dengan bulog dengan jumlah serapan gabah kering panen mencapai 97 Ton dengan harga Rp 6500. Dan kami berharap agar penyerapan gabah oleh pihak bulog tetap berlanjut" demikian disampaikan Yuhardiansyah. (mmbse)

    , ,

    Deklarasi Sekolah Pemberdayaan Rakyat inisiasi Yayasan KBBI di Pendopo Odah Etam Tenggarong
    (Foto: Prokom Kukar)

    Deklarasi Sekolah Pemberdayaan Rakyat (SPR) Bidang Pertanian, Peternakan dan Kehutanan, digelar di Pendopo Odah Etam, Tenggarong, Kamis (17/07/2025).

    Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) pun menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Karya Bhakti Bumi Indonesia (KBBI) atas inisiatif dan dukungannya kepada Pemkab Kukar untuk meningkatan sumber daya manusia, penguatan kelembagaan lokal dan penciptaan ekosistem usaha rakyat yang tangguh khususnya di bidang pertanian dalam arti luas melalui program SPR.

    Sebagaimana sambutan yang disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar Sunggono, program ini sejalan dengan arah pembangunan Kabupaten Kukar khususnya percepatan pembangunan pertanian dalam arti luas. Kegiatan ini tentunya juga merupakan bagian dari tindaklanjut dan implementasi dari MOU antara Pemkab Kukar dengan Yayasan KBBI yang telah ditandatangani oleh Bupati Kukar dengan Ketua Yayasan KBBI.

    "Komitmen Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara terhadap pembangunan pertanian dalam arti luas sangat besar dan menjadi salah satu program prioritas utama dalam kebijakan pembangunan daerah. Kebijakan ini merupakan salah satu strategi transformasi ekonomi Kabupaten Kutai Kartanegara dari ekonomi yang bertumpu/bergantung pada sumber daya alam yang tidak terbarukan (unrenewable resources) khususnya dari sektor pertambangan minyak bumi, gas dan batubara ke ekonomi yang terbarukan (renewable resources) melalui pembangunan pertanian dalam arti luas, pariwisata dan ekonomi kreatif," ucapnya.

    Lanjut dia, sebagaimana diketahui bersama bahwa Kabupaten Kukar dalam lebih dari 1 dekade terakhir memiliki kedudukan dan posisi strategis di Provinsi Kaltim, khususnya sebagai lumbung pangan. Sampai saat ini Kabupaten Kukar telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penyediaan pangan termasuk khususnya padi (beras) di Provinsi Kaltim.

    "Berdasarkan Data BPS Kalimantan Timur Tahun 2024, luas panen padi di Provinsi Kalimantan Timur tercatat seluas 57.143,29 Hektar dan untuk Kabupaten Kutai Kartanegara seluas 26.744,87 Hektar atau 46,80% dari luas panen di wilayah Provinsi Kalimantan Timur. Sedangkan untuk produksi padi Gabah Kering Giling (GKG) di Kabupaten Kutai Kartanegara sebanyak 115,10 ribu ton GKG atau memberikan kontribusi sebanyak 50,71% dari keseluruhan produksi GKG di Provinsi Kalimantan Timur," beber Sunggono.

    Tentunya kedudukan dan peran strategis Kabupaten Kukar dalam penyediaan pangan akan lebih besar lagi dengan adanya Ibu Kota Negara Nusantara (IKN Nusantara), dimana nantinya sekitar 4-5 juta orang akan berpindah ke wilayah IKN dan sekitarnya.

    "Ini tentunya merupakan peluang sekaligus tantangan bagi kita semua utamanya Kabupaten Kutai Kartanegara sebagai wilayah penyanggah pangan IKN," sambungnya.

    Ia juag merincikan beberapa strategi dan kebijakan yang telah dilakukan oleh Pemkab Kukar dalam rangka pencapaian dan percepatan pembangunan pertanian di Kabupaten ini diantaranya:

    1. Penetapan kawasan pertanian berbasis komoditi padi sawah sebanyak 5 (lima) Kawasan Pertanian, yaitu 1) Kawasan Pertanian Sebulu-Muara Kaman; 2) Kawasan Pertanian Loa Kulu – Tenggarong; 3) Kawasan Pertanian Tenggarong Seberang 1; 4) Kawasan Pertanian Tenggarong Seberang 2 dan 5) Kawasan Pertanian Marangkayu. Total luasan keseluruhan sawah pada 5 kawasan ini sekitar + 8.093,06 hektar.

    2. Pembangunan dan perbaikan infrastuktur pertanian utamanya sistem irigasi/pengairan pertanian, jalan usaha tani/jalan produksi. Untuk percepatan pembangunan/perbaikan infrastuktur pertanian ini, Pemkab Kutai Kartanegara telah melakukan kerjasama dengan TNI melalui Program TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD) dan Program Karya Bakti TNI.

    3. Moderenisasi pertanian melalui fasilitasi/bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan).

    4. Dukungan terhadap tenaga pendamping lapangan khususnya melalui Program Penyuluh Pertanian Swadaya (PPL) untuk mendukung kerja PPL ASN dan P3K yang terbatas. Alhamdulillah saat ini sudah 250 orang yang kita latih dan tetapkan sebagai Tenaga PPS.

    5. Akses modal tanpa anggunan dan tanpa bungan melalui Program Kredit Kukar Idaman (KKI).

    Namun ia mengungkapkan, masih cukup banyak kendala dan masalah yang dihadapi dalam pembangunan pertanian di Kukar termasuk diantaranya adalah terkait dengan sumber daya manusia khususnya menurunnya Rumah Tangga Petani (RTP) dan Rumah Tangga Nelayan (RTN). Selain itu, berdasarkan data BPS menunjukkan bahwa sebagian besar petani dan nelayan saat ini berusia rata-rata di atas 50 tahun. Masalah ini tentunya harus menjadi perhatian khusus bersama.

    "Pola pikir (mindset) dan motivasi kerja generasi muda saat ini harus diubah. Tidak lagi mereka berpikir bahwa kerja yang menjanjikan hanya menjadi pegawai termasuk menjadi PNS/ASN atau THL/Honorer. Sektor pertanian diasumsikan sebagai sektor tidak menjanjikan masa depan yang lebih baik, termasuk identik dengan hal-hal yang sifatnya “kotor” dan “berlumpur”," imbuhnya.

    Ditambahkannya lagi, untuk menarik minat anak-anak muda agar mau terjun dan bekerja dalam bidang pertanian tentunya harus dilakukan berbagai upaya diantaranya dengan Moderinisasi Sistem Pertanian melalui Mekanisasi dan Pertanian Cerdas (Smart Farming). Sistem pertanian tradisional/konvensional harus diubah dengan Pertanian Modern dengan penggunaan alat dan mesin pertanian mulai dari pengolahan lahan sampai dengan panen dan pasca panen sehingga pertanian lebih efektif dan efisien. Selain itu juga harus diberikan insentif khusus untuk modal usaha bagi mereka.

    "Untuk itu kami harapkan melalui Program Sekolah Pemberdayaan Rakyat (SPR) ini, dapat menghasilkan generasi-generasi muda yang bersemangat dan tangguh dibidang pertanian, peternakan dan perikanan sehingga mereka dapat menjadi agen perubahan (agent of change) dan penggerak pembangunan desa. Nantinya mereka juga dapat berperan sebagai Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS)," imbuh Sunggono.

    Kegiatan SPR ini diikuti sebanyak 27 orang. Sunggono pun menegaskan agar para peserta bersungguh-sungguh dan serius mengikuti kegiatan yang berlangsung selama 6 bulan, sebab 27 orang tersebut merupakan orang-orang terbaik dan terplih melalui proses seleksi dan musyawarah

    "Dengan ilmu, pengetahuan, keterampilan dan pengalaman yang saudara-saudara dapatkan nantinya, diharapkan dapat menjadi bekal utama dalam membangun usaha bidang pertanian dalam arti luas yang lebih profesional dan berkelanjutan. Selain itu, diharapkan saudara-saudara juga dapat mengajak dan memotivasi kawan atau saudara yang lain untuk turut serta berusaha dibidang pertanian," tandasnya. (mmbse)

    , , ,

    Kabid Sarana dan Prasarana Distanak Kukar Muhammad Rifani saat ditemudi di ruang kerjanya
    (Foto: Fairuz)

    Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memiliki lahan sangat luas dan memiliki sekitar 18 ribu hektare lahan yang sudah baku menjadi sawah. 

    Oleh karenanya, Pemkab Kukar melalui Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) setempat tengah menggalakan pertanian dalam arti luas untuk menjadi lumbung pangan bagi Ibu Kota Nusantara (IKN)

    Untuk mendukung hal tersebut, kata Kepala Bidang (Kabid) Sarana dan Prasarana (Sapras) Distanak Kukar, Muhammad Rifani, harus ada terobosan baru dalam rangka memaksimalkan dan mengoptimalkan produksi sawah yang sudah, Selasa (29/10/2024).

    Distanak Kukar sendiri saat ini sudah mempunyai inovasi baru yaitu Ruang Produksi Pada Kawasan Padi Sawah Kutai Kartanegara (RAPAK KUKAR) yang diberlakukan di lima kawasan utama.

    Kawasan dimaksud meliputi Sebulu-Muara Kaman seluas 1.519,42 ha, Tenggarong-Loa Kulu seluas 1.186,67 ha, Marangkayu seluas 1.081,36 ha, Tenggarong Seberang I seluas 2.010,28 ha, dan Tenggarong Seberang II seluas 2.295,34 ha.

    “Luasnya di atas 1000 hektare semua, jadi lima kawasan sekarang ini inovasi baru dari Distanak, RAPAK Kukar. Nanti akan berlanjut ke kawasan-kawasan lainnya secara bertahap akan digencarkan," beber Muhammad Rifani.

    Dia mengutarakan, dengan program RAPAK KUKAR tersebut, pemerintah daerah dapat melakukan perencanaan yang lebih matang dalam mencapai tujuan menjadi lumbung pangan untuk IKN. 

    “Inovasi ini sekarang yang sedang kita selesaikan, jadi inovasinya itu RAPAK Kukar, dan itu akan menjadi bahan di pelatihan kepemimpinan administrator tahun 2024 ini,” sambungnya.

    Diharapkan Muhammad Rifani, program RAPAK KUKAR dapat mencapai target-target pembangunan dengan baik dan memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat. (kn/fz/mmbse)

    , ,


    NUSANTARA – Panen bersama dilanjutkan sarasehan dilakukan Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) bersama Asosiasi Petani Ibu Kota, salah satunya untuk membangun kebijakan pertanian modern bagi generasi muda. Kegiatan ini dilaksanakan di areal persawahan Wisata Lumbung Padi Desa Bukit Raya, Samboja sebagai bentuk perayaan Hari Tani Nasional ke-64 yang diperingati setiap 24 September.

    Sepuluh persen wilayah IKN merupakan area produksi pangan atau wilayah pertanian, seperti yang disebutkan oleh Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam, Myrna Safitri. Tentunya ini menjadi target kebijakan untuk terus menggandeng generasi muda agar turut serta mewujudkan swadaya pangan di IKN.

    “Seperti yang saat ini, di kecamatan Samboja dan Samboja Barat, kita juga melihat bahwa kegiatan pertanian masih berjalan, tentu ini penting bagi IKN untuk pertama: menyediakan sumber-sumber pangan yang sehat bagi warga IKN, dan kemudian yang kedua, kami juga mendorong agar kegiatan pertanian ini bisa memperhatikan upaya-upaya untuk pengendalian perubahan iklim,” jelas Myrna.

    Ia mengungkapkan bahwa praktik pertanian konvensional menjadi salah satu sumber emisi gas rumah kaca di dunia, untuk perlu digalakkan kembali sistem pertanian regeneratif yang ramah lingkungan.

    Sejalan apa yang disebutkan Deputi Myna, Wakil Walikota Samarinda, Rusmadi juga menyamapaikan pentingnya peran pemerintah dalam mengawal sektor pertanian. “Di sinilah kehadiran dari pada pemerintah, dan pemerintah pasti tidak berhitung soal biaya kalau soal investasi, apalagi investasi di bidang pertanian ini. Soal pangan bagi bung karno, bagi kita semua adalah soal hidup mati bangsa,” tegasnya.

    Otorita IKN menyoroti soal keterlibatan anak muda dalam sektor pertanian, terlebih karena kurangnya sentuhan teknologi. Namun, di saat yang bersamaan, mulai bermunculan startup di sektor pertanian, perikanan, dan peternakan, tentunya kesempatan ini dapat diaplikasikan pada lingkungan pertanian IKN.

    Seperti yang disampaikan salah satu petani padi daerah Samboja bernama Hadi Sugianto, ia menyampaikan harapannya agar anak muda mau bertani. “Mungkin caranya agar mau terjun ke pertanian kita permudah untuk segi pertanian ini, dengan metode-metode yang mana bertani ini enak dan mudah, salah satunya bisa melibatkan teknologi dan inovasi,” ungkapnya.

    “Itu menunjukkan bagaimana sebenarnya sentuhan teknologi itu menjadi faktor penting untuk mendorong partisipasi yang lebih aktif lagi dari kelompok kelompok muda ini,” tanggap Deputi Myrna.

    “Karena itu kami juga mendorong agar kelompok-kelompok petani muda ini juga bisa terus berkiprah dengan menunjukkan inovasi-inovasi,” imbuhnya.

    “Salah satu yang kami lakukan dalam kaitan itu misalnya di tahun ini kami bekerja sama dengan fakultas pertanian Universitas Brawijaya memberikan beasiswa kepada anak petani yang ada di IKN, dengan harapan nanti begitu mereka selesai pendidikannya, maka mereka juga bisa menjadi motor dari para petani muda yang ada di IKN,” pungkasnya soal keterlibatan anak muda di sektor pertanian IKN.

    Humas Otorita Ibu Kota Nusantara

    Baca Juga: Persiapan Menuju Groundbreaking ke-8 di Ibu Kota Nusantara: Langkah Maju Menuju Kota Masa Depan

    , ,



    Sangasanga – PT Pertamina EP (PEP) Sangasanga Field berhasil meningkatkan taraf perekonomian petani melalui inovasi sosial pertanian dalam program Pertanian Terpadu Sistem Inovasi Sosial Kelompok Setaria (TANTE SISKA) di Desa Sarijaya, Kecamatan Sangasanga, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

    TANTE SISKA adalah program pertanian terintegrasi (integrated farming) yang dijalankan sejak 2019. Program ini bertujuan untuk mengembangkan kegiatan pertanian dengan skema ekonomi yang berputar (circular economy) dan sistem inovasi sosial yang mengedepankan efisiensi dan pengembangan keanekaragaman produk secara ramah lingkungan.

    Ketua Kelompok Setaria, Sutrimo, menceritakan awal dimulainya Program TANTE SISKA ini, karena adanya kesulitan lahan dan kondosi mahalnya pupuk yang dihadapi petani. PEP Sangasanga Field pun hadir dalam memberikan pendampingan dengan menjalankan sistem pertanian terintegrasi yang menghubungkan bidang peternakan, pengolahan pupuk dan pengolahan produk pertanian; sehingga tidak ada limbah pertanian yang terbuang.

    “Program binaan yang dilakukan bersama PEP Sangasanga Field antara lain berupa binaan pertanian vertikal garden, pemanfaatan air hujan, pemanfaatan pemanen hujan, penyulingan sereh wangi, dan distilasi asap sekam bakar. Selain itu kami juga memproduksi dan menjual pupuk organik, produksi minuman bunga telang, dan minyak atsiri hidrosol sereh wangi,” tambah Sutrimo.

    Sutrimo yang juga berperan sebagai Local Hero penggerak program Tante Siska menambahkan bahwa replikasi ilmu telah dilakukan kepada siswa dan siswi dengan tujuan ciptakan semangat wirausaha pada bidang pertanian. Menurutnya, saat ini terdapat 16 petani yang mengelola pertanian terpadu, dan sebanyak 114 anggota kelompok tani lainnya telah memiliki pengetahuan di bidang yang sama, serta sebanyak 677 orang tercatat sebagai penerima manfaat dari Program Tante Siska.

    “Harapan kami TANTE SISKA dapat mendukung terciptanya kedaulatan pangan bagi masyarakat luas,” ungkap Sutrimo.

    Senior Manager PEP Sangasanga Field, Gondo Irawan, mengatakan bahwa Perusahaan menjalankan berbagai program CSR. Dalam program TANTE SISKA ini, Perusahaan mengoptimalisasi proses pertanian terpadu dengan mengintegrasikan empat bidang kegiatan, yaitu peternakan, pupuk organik, pertanian, dan pengembangan. PEP Sangasanga Field menerapkan strategi optimalisasi produk turunan dan pemanfaatan limbah pertanian pada tiap bidang sehingga ramah lingkungan.

    “Kami berkomitmen dalam menjalankan operasi migas yang selamat, efektif, efisien, patuh dan ramah lingkungan, serta melakukan berbagai terobosan dan inovasi untuk terus memberikan nilai bagi seluruh pemangku kepentingan”, ujar Gondo.

    Hasil Studi Universitas Pelayanan LPPM Pertanian Bogor pada tahun 2020 menyatakan bahwa satu inovasi Tante Siska, yaitu Inovasi damkar berhasil mengurangi emisi CO2 sebesar 7,76 ton CO2eq/tahun. Inovasi ini mengubah asap bahan bakar menjadi asap cair dan dapat digunakan sebagai campuran kompos dan pupuk cair. Inovasi Damkar merupakan bagian dari Eco-Innovation Perusahaan yang terintegrasi dengan nilai- nilai utama Perusahaan.

    “Berkat inovasi yang dilakukan, pendapatan kelompok mencapai menjadi Rp 354 juta/tahun pada 2021, atau lebih dari 27 juta per bulan. Dengan kata lain, program ini telah berhasil merespon permasalahan yang ada di daerah sekitar operasional Perusahaan”, ujar Gondo.

    Tahun ini PEP Sangasanga Field berkesempatan menjadi kandidat Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan (PROPER) Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI. Proper Emas merupakan tingkat penganugerahan tertinggi yang memiliki arti bahwa perusahaan telah melakukan pengelolaan terhadap lingkungan melebihi dari yang disyaratkan.

    Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Hadi Mulyadi, memberikan penghargaan yang tinggi kepada PEP Sangasanga Field atas program pemberdayaan masyarakat bidang lingkungan, sosial ekonomi dan pendidikan. Harapannya proper emas yang telah diraih tahun 2021 lalu dapat terus dipertahankan karena proper emas ini bukan sekedar simbol penghargaan tapi karya untuk anak bangsa.

    “Semoga program pemberdayaan ini dapat terlaksana dengan baik dan terus berkelanjutan dalam rangka membangun Kalimantan Timur dan membangun Indonesia,” ungkap Hadi.

    Program CSR TANTE SISKA binaan PEP Sangasanga Field berhasil meraih Gold di Ajang E2S Proving League 2022, penghargaan Best Community Program Kategori Emas dalam ajang 14th Annual Global CSR Award 2022 di Hanoi, Vietnam. (***)

    , ,

    Kegiatan presentasi akhir terkait rencana akan dijadikannya ex RPU Kukar sebagai Food Station
    (Foto: Endi)

    Bangunan eks Rice Processing Unit (RPU) yang berlokasi di desa Manunggal Jaya, kecamatan Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara (Kukar), akan dijadikan sebagai Food Station. 

    Ini terungkap dalam presentasi akhir perencanaan Detail Engineering Design (DED) Food Station ex. RPU Kukar yang dipaparkan oleh PT Eksakta Profesitama selaku konsultan teknik perencanaan dan pengawasan, Rabu (15/12/2021) di rumah makan Tepian Pandan, Tenggarong.

    Dalam presentasi yang diinisiasi Dinas Pertanian dan Peternakan Kukar ini dijabarkan, Food Station nantinya tidak hanya untuk penggilingan padi saja, melainkan hasil produksi pertanian lainnya seperti jagung dan sayur mayur yang akan ditampung serta diolah secara profesional dengan konsep bisnis hingga pemasarannya. 

    Dikatakan Plt Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkab Kukar Wiyono, RPU akan difungsikan secara optimal dengan berkolaborasi bersama perusahaan yang bergerak di bidang pertanian yakni PT Indoditas Duta Raya.

    "Artinya aset kita (RPU, Red) yang ada disana selama ini memang belum teroptimalkan, dan ada pihak swasta yang ingin membantu pemerintah daerah. Ini sesuai visi misi Bupati Kukar yang salah satunya adalah memperkuat pembangunan ekonomi berbasis pertanian, pariwisata dan ekonomi kreatif," ucapnya.

    Pria yang juga menjabat Kepala Bappeda Kukar ini mengungkapkan, mengingat keterbatasan anggaran pemkab, maka diperlukan kolaborasi bersama para stake holders dalam bentuk kerjasama dan mekanisme-mekanisme yang akan didiskusikan lebih lanjut.

    "Kendatipun anggaran kita alokasikan begitu besar disana (Food Station, Red), tapi kita tidak punya kemampuan mengawalnya. Oleh karenanya dengan kolaborasi saat ini diharapkan berlanjut, berjalan beriringan, karena kita tidak bisa berdiri sendiri. Ini sungguh luar biasa karena bukan hanya berfikir bagaimana memanfaatkan RPU tetapi bagaimana  membangun ekosistem di Kukar di bidang ketahanan pangan," ujar Wiyono.

    Dijelaskan Chief Executive Officer (CEO) PT Indoditas Duta Raya Firly Firdauzy, Food Station diharapkan menjadi tempat bagi petani yang melaksanakan budidaya pertanian.

    "Kadang petani ini sudah kerja keras, tetapi begitu dia panen bingung siapa yang membeli. Tapi kalau ada Food Station hasil panennya sudah bisa diserap atau ada jaminan pasar," bebernya.

    Selain kantor, didalam Food Station juga terdapat tempat produksi beras dimana gabah kering hasil panen akan menjadi gabah kering giling yang dikemas menjadi beras medium dan beras premium. Lalu ada pabrik tepung beras, pabrik pupuk organik, pabrik pakan serta hortik station.

    "Kemudian depo saprotan dan depo alsintan. Jadi nanti seluruh proses modernisasi pertanian akan kita buat disitu. Sayang kan tempat seluas itu tidak dimanfaatkan, kalau jadi 10 wahana bisa menghasilkan pendapatan kan Alhamdulillah," terang Firly.

    Output lainnya, petani akan mendapatkan hasil yang jelas. Selain itu petani juga tidak harus bersusah payah menjemur gabah jika nantinya terdapat dryer atau pengering gabah didalam Food Station.

    "Jadi akan keluar komoditi unggulan dari Kutai Kartanegara, baik biji-bijian, sayur-sayuran. Kemudian adanya depo alsintan dan depo saprotan sudah menjamin disini tidak ada lagi yang kesulitan benih pupuk pestisida," sambungnya.

    Ia menambahkan, terkait target pembangunan dan pengembangan Food Station, elaborasi antara pihaknya dengan pemerintah daerah diharapkan dapat segera dieksekusi bersama.

    "Kalau swasta kan berharap cepat, tapi ini kan ada hubungannya dengan pemerintah kabupaten, semakin cepat diselesaikan semakin cepat jadinya," tandas Firly. (end)


Top