, ,

    Tenda-tenda pengunjung yang bermalam di pantai Panrita Lopi dengan suasana teduh menenangkan
    (Dok: Pantai Panrita Lopi) 

    KUTAI KARTANEGARA – Dalam rangka memperingati hari jadinya yang ke-9, Pantai Panrita Lopi di Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, akan menggelar rangkaian kegiatan menarik yang terbuka bagi masyarakat dan wisatawan.

    Owner Pantai Panrita Lopi, Ahmad yang akrab disapa Daeng Lompo, mengatakan perayaan Anniversary Celebration ke-9 akan diawali dengan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada Kamis malam, 12 Februari 2026, bertempat di kawasan Pantai Panrita Lopi.

    “Rangkaian perayaan dimulai dengan doa bersama pada Kamis malam, kemudian dilanjutkan dengan berbagai kegiatan hiburan pada hari-hari berikutnya,” ujar Daeng Lompo, Sabtu (31/1/2026).

    Ia menjelaskan, puncak perayaan akan digelar pada 14 dan 15 Februari 2026. Pada momen tersebut, pengunjung akan disuguhkan beragam penampilan musik serta pembagian doorprize sebagai hiburan tambahan. Sejumlah DJ ibu kota turut dihadirkan untuk memeriahkan acara, di antaranya DJ Pehol, DJ Agung Diamond, FDJ Mirsza, dan FDJ Cimapit.

    Menurut Daeng Lompo, Pantai Panrita Lopi bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang untuk menikmati pengalaman berharga, menumbuhkan rasa syukur, serta menciptakan kenangan indah bersama keluarga dan sahabat. Ia juga mengimbau pengunjung agar selalu menjaga keselamatan dan ketertiban selama berada di kawasan pantai.

    “Apabila pengunjung merasakan hal-hal yang tidak biasa atau mengalami kejanggalan, segera laporkan kepada petugas pengamanan di pantai agar bisa segera ditindaklanjuti,” tegasnya.

    Pantai Panrita Lopi terletak di Pulau Pangempang, Desa Tanjung Limau, Kecamatan Muara Badak. Untuk menuju lokasi, pengunjung harus menyeberang menggunakan kapal dari dermaga penyeberangan Pantai Panrita Lopi.

    Harga tiket masuk bervariasi sesuai hari kunjungan. Pada hari biasa (Senin–Jumat), tiket masuk pulang pergi termasuk kapal dibanderol Rp60.000 untuk dewasa dan Rp40.000 bagi anak usia 2–10 tahun. Sementara pada akhir pekan dan hari libur, tiket menjadi Rp70.000 untuk dewasa dan Rp50.000 bagi anak-anak.

    Selain itu, tersedia pula tiket khusus camping. Pada hari biasa, tarif camping sebesar Rp70.000 untuk dewasa dan Rp50.000 untuk anak-anak. Sedangkan pada akhir pekan dan hari libur, harga tiket camping menjadi Rp80.000 untuk dewasa dan Rp60.000 untuk anak-anak, sudah termasuk kapal pulang pergi.

    Pantai Panrita Lopi dilengkapi berbagai fasilitas penunjang, seperti area parkir, mushola, gazebo gratis, toilet dan air bersih gratis, serta warung makan di sekitar kawasan pantai. Pantai ini buka selama 24 jam penuh dengan tarif parkir Rp5.000 untuk sepeda motor, Rp15.000 untuk mobil, dan Rp50.000 untuk bus besar.

    Daya tarik utama Pantai Panrita Lopi adalah lorong cemara yang menyambut pengunjung sejak pintu masuk, pasir putih yang lembut, serta panorama alam yang asri. Selain itu, tersedia spot foto menarik, area camping, jelajah mangrove berbasis edukasi lingkungan, hingga aktivitas snorkeling dan diving.

    Dengan beragam fasilitas, wahana, dan keindahan alam yang ditawarkan, Pantai Panrita Lopi menjadi pilihan tepat untuk bersantai dan menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga, sahabat, maupun pasangan, sekaligus merayakan sembilan tahun eksistensinya sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Kutai Kartanegara.

    Pewarta & Editor: Fairuzzabady 

    , ,

    Sejumlah wisatawan mengunjungi Museum Mulawarman pada libur lebaran Idul Fitri 1444 H
    (Foto: Istimewa)

    Berbagai obyek wisata di kota Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar) kerap menjadi tujuan wisatawan pada saat libur lebaran.

    Pengunjung pun datang dari berbagai daerah di Kalimantan Timur (Kaltim), salah satu tujuan wisata di hari raya Idul Fitri adalah Museum Mulawarman.

    Seperti di hari pertama libur Idul Fitri 1444 H kali ini, museum yang menyimpan berbagai warisan sejarah kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura tetap buka seperti biasa.

    "Hari lebaran pertama tetap buka, tapi karena dibatasi dengan waktu sholat Idul Fitri, jadi kita buka sekitar jam 10 pagi," terang Zularfi selaku Kepala UPTD Museum Mulawarman Provinsi Kaltiim, Senin (24/04/2023).

    Ia mengatakan, Musuem Mulawarman selama libur lebaran tetap beroperasi dari pukul 09.00 hingga 16.00 Wita. Sementara untuk jumlah kunjungan turut mengalami peningkatan.

    "Kalau dibandingkan dengan hari-hari biasa tentu meningkat," sambungnya lagi.

    Namun jumlah kunjungan ke Musuem Mulawarman turut mengalami penurunan jika dibandingkan sebelum pandemi Covid-19 melanda.

    "Memang tahun ini agak berkurang ya, walaupun tidak begitu banyak, tetapi pengunjung untuk libur lebaran tahun ini cukup lumayan," kata Zularfi.

    Meski demikian, hari pertama lebaran tahun ini angka kunjungan masih terbilang sepi lantaran di hari tersebut dimanfaatkan sebagai ajang silaturahmi.

    "Untuk hari pertama memang masih agak sepi, tapi di hari kedua ada sekitar 300 sampai 400 pengunjung," demikian dijelaskannya. (mmbse)

    , ,

    Penginapan terapung desa Muara Muntai Ilir menyediakan 2 kamar tidur dan makanan khas Kutai
    (Foto: Dedi Baim)

    Penginapan terapung bisa dijumpai kala berkunjung ke pedalaman hulu Mahakam, tepatnya di Desa Muara Muntai Ilir, kecamatan Muara Muntai, Kutai Kartanegara (Kukar).

    Penginapan dengan 2 kamar ini dibangun menyerupai rumah rakit yang tetap mengapung dan mengikuti ketinggian air saat pasang. Letaknya persis di tepi sungai Mahakam dan berdampingan dengan keramba ikan milik warga setempat.

    Bagi pengunjung yang ingin rehat dan menginap di rakit apung ini, tersedia fasilitas penjemputan menggunakan perahu tradisional bermesin tunggal atau biasa disebut perahu ces.

    Penginapan ini memang sederhana, namun tamu yang datang akan disuguhi pemandangan langsung mengarah ke sungai Mahakam, termasuk  menyaksikan matahari terbenam kala senja.

    Tak perlu khawatir soal makanan, pasalnya di penginapan ini menyajikan aneka masakan khas Kutai dengan harga cukup  terjangkau. Makanan yang dihidangkan pun dijamin kesegarannya, sebab bahan-bahan yang diolah didapat dari petani dan nelayan di desa ini.

    Salah satu tamu menyaksikan matahari terbenam dari penginapan terapung di Muara Muntai Ilir
    (Foto: Dedi Baim)

    Kepala Desa Muara Muntai Ilir, Mohammad Guntur, mengatakan, penginapan terapung dikelola secara swadaya oleh ibu-ibu PKK setempat.

    "Mereka secara bergantian memberikan pelayanan maksimal, mulai dari penginapan hingga makanan untuk tamu," ujarnya.

    Penginapan tersebut akan terus dikembangkan dengan menambah jumlah kamar serta meningkatkan fasilitas lainnya seperti tempat angkringan.

    "Nanti akan kami gerakkan lagi Ibu-ibu PKK disini untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Sehingga ibu-ibu ini punya kesibukan lain yang bernilai ekonomis," sambungnya.

    Menurut salah satu pengunjung yang berasal dari Tenggarong, Ahmad Rianto, penginapan terapung ini bisa menjadi tempat transit sekaligus melepas lelah sebelum menuju desa-desa sekitar.

    "Bagi yang hobi memancing tidak perlu jauh-jauh, sambil beristirahat di tempat ini kita juga bisa memancing disekitar rumah rakit ini," katanya. (*/end)

    , ,

     Jembatan panjang Pantai Biru Kersik merupakan daya tarik yang kerap dijadikan obyek swafoto
    (Foto: FB Pantai Biru Kersik) 

    Hamparan pasir putih serta jembatan panjang merupakan pesona yang ditawarkan Pantai Biru Desa Kersik. Obyek wisata yang berada di Kecamatan Marangkayu, Kutai Kartanegara (Kukar) ini pun memiliki sejumlah spot swafoto yang sayang untuk dilewatkan.

    Di sekitar pantai memang tidak akan ditemui penginapan, tetapi tersedia home stay atau rumah warga lokal yang disewakan untuk menginap bagi wisatawan.

    Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Kersik, Kasim mengungkapkan, keberadaan home stay ini dapat membantu meningkatkan ekonomi warga setempat.

    "Penilaian standar kelayakan untuk dijadikan home stay dilakukan oleh Tim dari Polnes. Kami juga mendapat pelatihan dan bimbingan dari Dinas Pariwisata Kukar," ujarnya saat dihubungi media ini, Senin (07/12/2020).

    Kasim menyebutkan, ada 7 home stay yang lokasinya berada tak jauh dari Pantai Biru Kersik. Biaya sewa untuk 1 malam yakni Rp 130 ribu per orang sudah termasuk makan pagi dan makan malam.

    Home stay di Desa Kersik yang bisa menjadi pilihan menginap saat wisata ke Pantai Biru
    (Foto: FB Pantai Biru Kersik)

    "Sejak dibuka sudah ada 3 kali yang menginap di home stay, tetapi untuk harga bisa saja berubah kalau misalnya ada tambahan permintaan," katanya.

    Dengan adanya home stay ini diharapkan mampu menarik minat wisatawan, terlebih di masa relaksasi pandemi COVID-19 terjadi peningkatan jumlah kunjungan.

    "Untuk jumlah kunjungan di bulan September tercatat ada 3.658 orang, kemudian bulan Oktober 5.417 orang dan Nopember 4.893 orang," rinci Kasim.

    Bagi pengunjung yang baru pertama kali ke Pantai Biru Kersik, tiket masuk ke obyek wisata ini sangat terjangkau.

    "Rp 5 ribu untuk sepeda motor dan Rp 20 ribu untuk mobil. Jadi mau berapapun jumlah penumpangnya tetap dihitung kendaraannya," jelasnya. (end)

    , ,

    Lurah Loa Ipuh Darat AR Ambo Dalle (kiri) saat meninjau penangkaran rusa milik PT MHU
    (Foto: Istimewa)

    PT Multi Harapan Utama (MHU) memiliki penangkaran rusa yang berlokasi di Bukit Raya, KM 19, Kelurahan Loa Ipuh Darat, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara.

    Jumlah rusa didalam penangkaran ini sebanyak 9 ekor dengan luas kandang utama 2.500 meter persegi dan kandang karantina 32 meter persegi.

    Rencananya penangkaran rusa tersebut akan diserahkan untuk dikelola masyarakat seiring berakhirnya ijin operasi PT MHU pada tahun 2021-2022. Badan Ekonomi Kelurahan (BUEKEL) Loa Ipuh Darat pun telah menjalin komunikasi terkait hal itu.

    "Informasi dari Direktur BUEKEL Loa Ipuh Darat bahwa surat permohonannya sudah masuk dan tinggal menunggu. Jadi rencananya ini kita akan jadikan tempat wisata seperti di daerah lain," ujar Lurah Loa Ipuh Darat AR Ambo Dalle, Sabtu (28/11/2020).

    Taman Arboretum Busang merupakan kawasan reklamasi dan pasca tambang PT MHU
    (Foto: Istimewa)

    1 KM dari penangkaran rusa terdapat taman Arboretum Busang yang merupakan kawasan reklamasi dan pasca tambang PT MHU. Didalamnya terdapat biodiversitas tanaman bawah, biodiversitas avifauna dan biodiversitas herpetofauna (amfibi dan reftil). Taman ini juga diusulkan untuk diserahkan ke masyarakat.

    "Supaya ada hutan pendidikan di Kutai Kartanegara, tinggal nanti kita menambah infrastruktur, misal memperlebar jalan masuk atau membuat jalur sepeda. Hutan ini luar biasa kalau pelajar atau mahasiswa mau belajar tentang kehutanan," bebernya.

    Dikatakan Ambo, dengan berbagai potensi yang dimiliki Kelurahan Loa Ipuh Darat, ia menaruh harapan besar kepada Pemkab Kukar.

    "Kita berharap kepada pemerintah daerah baik di kabupaten maupun provinsi untuk membantu dalam hal infra struktur. Karena banyak potensi dari kelurahan Loa Ipuh Darat yang dulunya mungkin masih dianggap pinggiran," tandasnya. (end)

    , ,

    Lurah Loa Ipuh Darat AR Ambo Dalle saat berada di destinasi wisata Bukit Durian
    (Foto: Istimewa)


    Setelah taman wisata Kembang Jaong, Kelurahan Loa Ipuh Darat dalam waktu dekat akan memiliki destinasi wisata baru Bukit Durian.

    Seperti diungkapkan Lurah Loa Ipuh Darat AR Ambo Dalle, obyek wisata ini berdiri diatas lahan milik salah satu warga yang berlokasi di KM 20, RT 5, Jalan Poros Tenggarong - Kota Bangun.

    "Luas lahannya 40 hektar, ada sekitar 250 pohon durian dan sisanya tanaman lain termasuk pohon karet. Jadi karena dominan durian makan dikasih nama Bukit Durian," ujarnya kepada media ini, Sabtu (28/11/2020).

    Saat ini Bukit Durian masih dalam tahap penyelesaian, pengelolanya juga membangun beberapa kolam pemancingan serta gazebo untuk pengunjung.

    "Saya sarankan juga kepada pemiliknya untuk membuat gazebo yang lebih besar, sehingga nanti bisa digunakan untuk kegiatan ibu-ibu PKK seperti acara menjahit atau merajut dan itu bisa disewakan," katanya lagi.

    Pihaknya sangat mendukung dan mengapresiasi masyarakat Kelurahan Loa Ipuh Darat yang antusias membantu pemerintah dalam pengembangan destinasi wisata. 

    "Kami juga memberikan masukan kepada pemiliknya untuk memberdayakan masyarakat sekitar seperti pemanfaatan tenaga kerja dan bagaimana ekonomi masyarakat bisa dikembangkan," beber Ambo.

    Ditambahkannya, Kelurahan Loa Ipuh Darat merupakan salah satu penyangga IKN (Ibu Kota Negara) dan juga berdiri Sekolah Polisi Negara (SPN), hal inilah yang melatar belakangi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengembangan pariwisata.

    "Saya sudah sampaikan agar destinasi wisata Bukit Durian ini segera dibuka walaupun belum bisa full. Mungkin nanti selesai pelaksanaan Pilkada atau paling lambat awal tahun depan," demikian jelas Ambo. (end)

    , , ,

    Taman Gubang di Desa Loa Ulung tawarkan wisata perahu diatas danau eks tambang
    (Foto: Fairuz)

    Semenjak relaksasi diberlakukan, berbagai destinasi wisata mulai dikunjungi, salah satunya Taman Gubang yang berlokasi di Desa Loa Ulung, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara (Kukar).

    Taman Gubang berada ditepi danau bekas galian tambang batu bara, dibangun sekitar bulan April 2020 dan mulai dibuka untuk umum pada bulan Juni lalu. 

    Tiket masuk cukup murah, hanya Rp 5 ribu per orang dewasa, sementara untuk anak-anak tidak dikenakan biaya. Tersedia pula perahu kecil atau dalam bahasa Kutai disebut gubang untuk berwisata diatas danau.

    "Perahu yang kecil untuk kapasitas 2 orang itu Rp 20 ribu per jam. Kalau yang besar Rp 100 ribu untuk keluarga atau rombongan dengan kapasitas 8 orang, durasinya kurang lebih 40 menit," jelas pengelola Taman Gubang, Ahmadi, Rabu (18/11/2020) lalu.

    Pengunjung yang berwisata di tempat ini juga bisa membeli cemilan khas buatan warga setempat.

    "Kalau makanan berat memang belum ada, tapi tersedia gorengan seperti tempe, bakwan, sanggar pisang (pisang goreng) termasuk minuman," sambungnya.

    Kebanyakan wisatawan berasal dari desa sekitar seperti Loa Pari, Loa Raya dan Perjiwa. selebihnya dari kota Tenggarong, Loa Kulu hingga Loa Janan.

    "Ada juga beberapa pengunjung dari kota Samarinda, Balikpapan dan Bontang, bahkan Sangatta juga ada. Kalau saya kalkulasikan dalam seminggu ada  seribu pengunjung, jadi kalau 1 bulan ada kurang lebih 4 ribu pengunjung," jelas Ahmadi. (end)


    Di Taman Gubang juga tersedia perahu dengan kapasitas besar yang bisa memuat hingga 8 orang
    (Foto: Fairuz)

    Rencana Mendirikan Taman Gubang Sejak Tahun 2014

    Ide mendirikan Taman Gubang sudah sejak tahun 2014, namun ketika itu Ahmadi menghadapi kendala, rencana pun menguat lagi di tahun 2018, akan tetapi hambatan kembali muncul, hingga pada tahun 2019 Ahmadi yang menjadi salah satu korban kebakaran di Loa Ulung memboyong keluarganya pindah ke tepi danau.

    "Karena saya memang memiliki lahan di sekitar danau dan sudah bertekad untuk mengelola tempat ini menjadi tempat pariwisata, maka saya mulai sendiri dengan membersihkan tepi danau untuk mulai membangun dermaga kecil," kenangnya.

    Didasari pemikiran panjang dan niat tulus, Ahmadi berhasil mewujudkan keinginannya. Ia berharap Taman Gubang bisa dikelola secara profesional dengan melibatkan warga setempat. Saat ini dirinya bekerjasama dengan warga yang menginvestasikan perahu-perahunya dengan sistem bagi hasil.

    "Harapan saya kedepan agar keterlibatan masyarakat Loa Ulung lebih besar dari sekarang, sehingga danau ini dapat kita kelola dan ditata dengan baik,"  sambungnya.

    Taman Gubang pun kini telah masuk dalam DPC Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) Kukar. Dukungan dari pemerintah daerah khususnya edukasi dan pembinaan dari Dinas Pariwisata Kukar sangat diharapkan.

    "Harapan saya untuk pemerintah kabupaten kiranya bisa membuat program khusus tentang kepariwisataan agar destinasi wisata di Tenggarong Seberang bisa lebih banyak lagi bermunculan," tutup Ahmadi. (end)


Top