Petani Muda Ajak Investasi di Desa

Berstatus sarjana, Muhammad Imaduddin lebih memilih mengelola lahan pertanian di kampungnya
Foto: Endi

Menyandang gelar sarjana dari sebuah perguruan tinggi tak lantas membuat Muhammad Imaduddin (26) putra daerah asal Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara (Kukar) berkarir sesuai disiplin ilmunya.

Pasca menyelesaikan kuliah di jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Jawa Barat, tahun 2015 silam, pemuda ini justru memilih menjadi petani di kampung halamannya.

Ditemui pada Minggu (23/04) sore, Imad sapaan akrabnya menceritakan awal mula dirinya jatuh cinta dengan profesi yang jarang dilirik oleh pemuda seusianya. "Kesadaran untuk bertani itu muncul tahun 2013 ketika saya mengikuti kegiatan sosial di kampus," kenangnya.

Menurutnya, bidang pertanian sudah banyak ditinggalkan oleh pemuda, hingga akhirnya ia mulai menggarap lahan milik orang tuanya seluas 2 hektare di Desa Salok Api Darat, untuk ditanami holtikultura jenis cabai.

Namun tentu saja ada resiko yang harus dihadapi, seperti saat harga cabai mengalami penurunan. "Pernah harganya anjlok sampai Rp 14 ribu, kalau harga segitu petani tidak dapat apa-apa," tuturnya.

Untuk menyiasati harga yang turun di pasaran, maka Imad mulai menanam kacang panjang, terong, pare, pepaya, serai, hingga bawang prei. "Cara untuk mengantisipasi agar kita bertahan adalah dengan menanam komoditi yang lain untuk subsidi silang," bebernya.

Bidang pertanian kata Imad mampu menyerap tenaga kerja, sehingga sangat membantu saat akan mulai menanam. "Dulu sempat memakai tenaga bulanan, sekarang mulai pakai harian untuk tenaga kasar, kalau setiap hari kita butuh minimal dua orang, semua sesuai kebutuhan," cetusnya.

Imad juga tak harus terjun langsung menggarap lahan pertanian tersebut. "Disini saya lebih sebagai pengelola, misal akan menanam cabai, maka saya yang mengatur berapa kebutuhan lahan dan dananya," tukasnya.

"Nggak semua pakai dana pribadi, sebagian dari teman-teman aktivitis yang sadar akan pentingnya membangun desa, jadi ini bukan milik saya sendiri, tetapi mereka sadar bahwa bertani itu ada resikonya, kalau rugi anggap itu infaq untuk ngasih makan orang," jelasnya lagi.

Sementara untuk memasarkan hasil komoditinya, Imad mengaku tidak terlalu sulit, sebab telah ada pasar yang menampung di wilayah terdekat dengan kecamatan Samboja yakni kota Balikpapan.

Pemuda lajang ini berharap investasi akan lebih banyak lagi mengalir ke desa-desa di Kukar khususnya Samboja. "Kalau kita ingin ada keberlanjutan hidup maka mulailah membangun desa, investasi di desa menjanjikan asal kita kelola dengan baik," tandas Imad.

Imad kembali menegaskan agar tak ada yang ragu untuk menanamkan modalnya di desa. "Kita bisa bisnis di desa, ada peluang disana, makanya dibutuhkan kerjasama, karena negeri ini sudah swasembada," imbuhnya.  (end)

1 komentar:

Write a Comment


Top