, , ,


    Balikpapan – Program CSR PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), Sekolah Negeri Terapung, mendukung keberhasilan Nurul Fitriana, seorang Guru Bahasa Inggris SMP Negeri 06 Anggana, Desa Sepatin, mendapatkan kesempatan mengikuti program pengembangan profesional guru di Amerika Serikat. Nurul Fitriana terpilih sebagai penerima Fulbright Distinguished Awards in Teaching Program for International Teachers (Fulbright DAI) 2025. Cerita mengenai Nurul Fitriana ini disampaikan PHM pada kegiatan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh SKK Migas Perwakilan Kalimantan dan Sulawesi di Samarinda pada Rabu (09/09/2026).

    Program Fulbright DAI memberikan kesempatan kepada Nurul untuk mengikuti program pengembangan profesional selama enam bulan atau satu semester di Indiana University of Pensylvania, Amerika Serikat pada Bulan Agustus 2025. Nurul mengetahui Program Fulbright DAI dari akun sosial media AMINEF (American Indonesian Exchange Foundation). Kesempatan tersebut menjadi pengalaman untuk memperluas wawasan dan kompetensi dalam bidang pendidikan.

    Dalam kegiatan UKW tersebut, Head Communication Relations & CID PHM, Achmad Krisna Hadiyanto, menceritakan keberhasilan Nurul Fitriana sebagai salah satu guru binaan Program CSR Sekolah Negeri Terapung yang berkesempatan memperluas akses jejaring profesi guru dan membawa pengalaman di luar negeri untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan masyarakat pesisir di Kecamatan Anggana. “Pencapaian ini menjadi bukti keberhasilan dukungan kami terhadap peningkatan akses dan kualitas pendidikan bagi guru dan siswa di wilayah pesisir Delta Mahakam, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur,” ujarnya.

    Menurut Achmad, PHM terus berupaya untuk menjalankan program CSR di bidang pendidikan agar dapat memperluas akses dan meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat pesisir di Kecamatan Anggana. Wilayah Desa Muara Pantuan, Sepatin, dan Tani Baru di Kecamatan Anggana dalam menghadapi tantangan geografis. “Di wilayah ini, guru dan siswa harus menggunakan perahu kecil tradisional atau ketinting untuk menuju sekolah. Keterbatasan sarana pembelajaran dan tenaga pengajar juga menjadi tantangan bagi sekolah di wilayah pesisir Delta Mahakam tersebut,” jelasnya.

    Program Sekolah Negeri Terapung dikembangkan tidak hanya sebagai program dukungan sarana pendidikan, tetapi juga sebagai upaya membangun ekosistem pembelajaran. Kegiatannya mencakup pendampingan Guru Penggerak dan komunitas belajar, beasiswa, program Sarjana Pesisir, pelatihan guru dan siswa, serta PHM Mengajar. “Salah satu hasilnya terlihat dari penguatan kapasitas para guru. 

    “Pada periode 2024–2025, sebanyak 39 guru mengikuti peningkatan kapasitas melalui 27 pelatihan. Pada periode yang sama, empat lulusan program Sarjana Pesisir kembali ke wilayah asalnya untuk berkontribusi di desa,” ungkapnya..

    Pada periode yang sama, program CSR ini meraih 241 penghargaan yang terdiri atas 217 penghargaan siswa dan 24 penghargaan guru, mulai dari tingkat kecamatan hingga internasional.

    Sementara itu, General Manager PHM Muzwir Wiratama mengatakan, melalui Program Sekolah Negeri Terapung, PHM berupaya membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya memberikan dukungan sarana dan akses, tetapi juga memperkuat kapasitas guru dan siswa. “Capaian Ibu Nurul Fitriana melalui Fulbright DAI menjadi salah satu contoh bahwa ketika guru mendapatkan ruang untuk berkembang, dampaknya tidak berhenti pada individu, tetapi dapat kembali memberikan manfaat bagi sekolah, peserta didik, dan masyarakat,” ujar Wira, panggilan karib General Manager PHM.

    Menurut Wira, dukungan PHM tidak berhenti pada peningkatan kapasitas akademik. PHM juga mendukung pengembangan lingkungan sekolah, infrastruktur pendidikan, kesehatan, pelestarian budaya, serta pemanfaatan energi terbarukan. Pada aspek lingkungan dan infrastuktur, Sekolah Negeri Terapung mendukung pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas total 6,7 kWp di dua sekolah untuk membantu memenuhi kebutuhan listrik sekaligus mengurangi ketergantungan pada generator diesel. Program tersebut diproyeksikan menurunkan emisi sebesar 7,638 ton CO₂ per tahun dan mengurangi penggunaan bahan bakar sekitar 3.600 liter per tahun.

    Pendekatan Program Sekolah Negeri Terapung dirancang untuk menjawab kebutuhan pendidikan secara lebih menyeluruh, mulai dari akses, kualitas pembelajaran, kapasitas tenaga pengajar hingga lingkungan pendukung pendidikan. “Pendidikan merupakan investasi jangka panjang. Karena itu, kami ingin dukungan yang diberikan dapat membangun kapasitas dan membuka lebih banyak kesempatan bagi guru dan siswa untuk berkembang, termasuk menghasilkan prestasi yang dapat membawa nama wilayah pesisir hingga tingkat yang lebih luas,” pungkasnya. (*)

    , , ,


    Muara Pantuan – Tim patroli keamanan PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) berhasil menyelamatkan enam awak kapal masyarakat setelah kapal yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan dan tenggelam di perairan Delta Mahakam, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pada Selasa (1/9/2026) lalu. Kapal masyarakat tersebut mengalami kecelakaan dalam perjalanan dari Muara Pantuan menuju Pulau Nubi, Kecamatan Anggana. Kondisi angin dan gelombang yang buruk menyebabkan kapal terhempas, kemasukan air, dan akhirnya tenggelam di sekitar area sumur migas yang dikelola PHM.

    Kejadian tenggelamnya kapal masyarakat ini pertama kali diketahui oleh awak kapal TB Paramount Fortune yang melintas di perairan dangkal Delta Mahakam sekitar pukul 17.45 WITA. Mereka melihat kapal masyarakat yang tenggelam sekitar 3,2 kilometer dari daratan. Enam awak kapal terlihat melambaikan tangan sebagai tanda meminta pertolongan. Mendapat informasi tersebut, tim patroli keamanan PHM dari Fasilitas South Processing Unit (SPU) segera bergerak menggunakan armada ST Ruhen 28 menuju lokasi kejadian. Sekitar pukul 18.20 WITA, seluruh enam awak kapal berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.

    Setelah dievakuasi, keenam awak kapal mendapatkan tempat untuk beristirahat dan penanganan lebih lanjut. PHM juga mendampingi mereka untuk memastikan kondisi masing-masing warga dalam keadaan baik, serta berkoordinasi dengan pemerintah setempat terkait kebutuhan dan proses kepulangan mereka agar dapat segera kembali berkumpul dengan keluarga.

    General Manager PHM Muzwir Wiratama mengapresiasi respons cepat dari tim patroli PHM dan bersyukur bahwa seluruh awak kapal bisa diselamatkan dalam kondisi yang baik. “Bagi kami, melihat enam saudara kita berhasil diselamatkan dan dapat segera kembali berkumpul dengan keluarganya merupakan kebahagiaan tersendiri. Sebagai warga masyarakat yang baik, PHM senantiasa berupaya untuk memastikan keberadaan perusahaan memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan, terlebih lagi pada saat kondisi darurat seperti ini,” ujar Wira, panggilan akrab General Manager PHM.

    Menurutnya tindakan cepat demi keselamatan dan kemanusiaan itu merupakan bagian dari komitmen PHM dalam menempatkan prioritas tertinggi terhadap keamanan dan keselamatan manusia, fasilitas, dan lingkungan. “Kepedulian terhadap keselamatan pekerja dan masyarakat sekitar merupakan bagian dari komitmen PHM dalam menjalankan kegiatan hulu migas yang selamat, andal, bertanggung jawab, dan berkelanjutan,” tegasnya.

    Terkait kejadian ini, PHM akan terus berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan untuk memastikan keenam awak kapal tersebut mendapatkan pendampingan hingga proses kepulangan berjalan dengan baik. “Keselamatan dan kemanusiaan menjadi hal yang utama. Ketika ada masyarakat yang membutuhkan pertolongan di sekitar wilayah operasi, kami akan berupaya memberikan respons terbaik sesuai kemampuan dan prosedur yang kami miliki,” pungkasnya. (*)

    , ,



    Kutai Kartanegara – PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) mencatatkan hasil positif uji produksi migas dua sumur baru, SEM-206 dan SEM-207, pada proyek pengembangan lapangan migas di Struktur Semberah, Wilayah Kerja Sanga-Sanga, Kalimantan Timur. Kedua sumur baru berhasil memproduksi gas dan kondensat di atas target awal yang ditetapkan. Keberhasilan ini menunjukkan komitmen yang luar biasa dari PHSS untuk terus mendukung keberlanjutan produksi migas perusahaan yang penting bagi ketersediaan dan ketahanan energi nasional.

    Sumur SEM-206 menyelesaikan tahapan uji produksi dengan mencatat produksi awal dua kali lebih tinggi dari target, yakni sebesar 5,3 juta standar kaki kubik gas per hari (mmscfd) dan 706 barel kondensat per hari (bcpd). Sementara Sumur SEM-207 menghasilkan gas sebesar 3,11 mmscfd dan kondensat sebesar 103 bcpd, empat kali lebih tinggi dari target awal. Kedua sumur tersebut mengalir secara natural melalui mekanisme open flow. Sumur SEM-206 didukung tiga lapisan reservoir dengan kondisi tekanan yang baik, sedangkan SEM-207 didukung satu lapisan reservoir dengan tekanan yang juga mendukung aliran produksi.

    General Manager Zona 9 PHSS, Dadang Soewargono, mengatakan keberhasilan pengeboran dua sumur pengembangan tersebut memperkuat komitmen Perusahaan untuk terus berinvestasi dalam pengembangan lapangan migas yang sudah mature, termasuk melalui penerapan teknologi dan inovasi. “Selaras dengan visi perusahaan, kami terus berinvestasi dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi dengan melakukan pengeboran sumur-sumur baru guna menambah cadangan, meningkatkan recovery, menahan laju penurunan produksi alamiah, dan mempertahankan tingkat produksi migas lapangan-lapangan yang sudah mature di wilayah Kalimantan,” ujar Dadang.

    Menurut Dadang, pengembangan lapangan migas mature membutuhkan strategi yang tepat karena setiap sumur memiliki karakteristik dan tantangan teknis yang berbeda. Karena itu, PHSS melakukan evaluasi teknis dan pengelolaan risiko secara menyeluruh dan mendalam sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan pengeboran dan uji produksi. “Pada pengeboran sumur SEM-206, kami menerapkan strategi pengeboran, antara lain melalui penggunaan peralatan komplesi dan kepala sumur dengan pressure rating tinggi serta penerapan teknologi Casing While Drilling (CWD) untuk mendukung stabilitas lubang sumur dan efektivitas operasi. Sejalan strategi tersebut, sumur SEM-206 dibor lebih ke arah timur dari struktur eksisting,” jelasnya.

    Perbedaan kondisi reservoir dan tantangan di lapangan menyebabkan waktu penyelesaian yang tidak sama. Pengeboran hingga uji produksi pada Sumur SEM-206 selesai dalam 45 hari, sedangkan SEM-207 hanya membutuhkan 13 hari saja. “Alhamdulillah, pengerjaan kedua sumur mencatatkan kinerja keselamatan yang baik dengan masing-masing 75.600 dan 27.216 jam kerja selamat (safe man-hours) hingga tahap uji produksi,” imbuhnya.

    Dadang pun memaparkan efisiensi biaya dalam pengeboran kedua sumur dengan realisasi biaya tercatat lebih rendah dibandingkan anggaran. “Keberhasilan pengeboran, efisiensi biaya, dan kinerja keselamatan yang unggul menunjukkan bahwa tantangan di lapangan mature dapat dijawab melalui perencanaan yang matang, inovasi, teknologi, dan eksekusi yang disiplin. Kami terus mencari cara untuk mengembangkan potensi yang ada secara optimal dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan dan keandalan operasi,” pungkasnya. (*)

    , ,


    Kalimantan – PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) melalui anak perusahaan dan afiliasinya di Regional 3 Kalimantan mengambil langkah proaktif dalam upaya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar wilayah operasi Perusahaan di Kalimantan. Langkah-langkah yang ditempuh Perusahaan di antaranya pengerahan tim pemadam, peralatan pemadaman, pemantauan, edukasi masyarakat, serta koordinasi dan kolaborasi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, relawan, dan pemangku kepentingan lainnya.

    Upaya pencegahan dan penanganan karhutla dilakukan secara terpadu dengan mengedepankan keselamatan pekerja, masyarakat, fasilitas operasi, dan lingkungan. Di lapangan, tim Perusahaan juga bekerja sama dengan instansi terkait untuk memadamkan titik-titik api di sekitar wilayah operasi yang berdampak bagi masyarakat dan lingkungan.

    Menanggapi karhutla di Kalimantan, Direktur Utama PHI Muharram Jaya Panguriseng menyampaikan empati dan keprihatinan kepada masyarakat yang terdampak. “Upaya dan prioritas perusahaan dalam menghadapi karhutla ini semata-mata untuk memastikan perlindungan bagi pekerja, fasilitas, masyarakat, dan lingkungan,’’ jelasnya.

    Pada Kamis (20/8/2026) PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) Tim Emergency Intervention Team (EIT) South Processing Station (SPS) bersama Pemadam Kebakaran (Damkar) Samboja berhasil memadamkan titik api yang berada sekitar 100 meter di sebelah barat fasilitas operasi Lapangan Senipah, Peciko, dan South Mahakam.

    Penanganan karhutla juga dilakukan anak perusahaan PHI, yakni PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) bersama relawan dan Dinas Kehutanan pada Jumat (21/8/2026) di wilayah Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara, yang berada di sekitar area migas Nilam Field. Tim menggunakan fire truck advancer dan vacuum truck berkapasitas 15 ribu hingga 24 ribu liter air untuk mengendalikan rambatan api di wilayah terdampak.

    Sementara itu, PT Pertamina EP (PEP) Bunyu turut melakukan pemadaman titik api di Jalan Lingkar Bunyu, Kalimantan Utara, yang berjarak sekitar 14,1 kilometer dari area operasi Perusahaan. Penanganan dilakukan melalui kolaborasi Tim Fire PEP Bunyu dan Tim Damkar Kalimantan Utara.

    Selain langkah pemadaman, Muharram menjelaskan bahwa Grup PHI juga memperkuat langkah pencegahan melalui Tim Community Based Security PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) dengan melakukan sosialisasi dan pelibatan masyarakat mengenai bahaya karhutla di Kelurahan Lawe-Lawe, yang berjarak sekitar sembilan kilometer dari Terminal Lawe-Lawe, pada 19–23 Agustus 2026.

    Langkah preventif juga dilakukan PT Pertamina EP (PEP) Tarakan melalui sosialisasi bahaya karhutla kepada relawan penanganan bencana bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Utara dan BPBD Kota Tarakan di Kecamatan Tarakan Timur. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi karhutla.

    Manager Communication Relations & CID PHI, Dony Indrawan, mengungkapkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan kerja sama berbagai pihak. “Tantangannya tidak hanya berkaitan dengan pemadaman api, tetapi juga pencegahan dan pengendalian agar api tidak kembali meluas. Cuaca panas, dengan suhu yang mencapai 34 – 36 derajat celcius pada siang hari, meningkatkan risiko kekeringan vegetasi dan rambatan api terutama di kawasan bergambut,” jelasnya.

    Menurut Dony, kondisi ini menjadi tantangan bagi personel di lapangan karena api dapat bertahan di bawah permukaan tanah dan kembali muncul apabila proses pembasahan dan pendinginan belum tuntas.

    Ia menambahkan bahwa Grup PHI terus berkoordinasi dengan pemerintah, aparat keamanan, relawan, dan masyarakat dalam setiap langkah penanganan sesuai kewenangan dan ketentuan yang berlaku. “Kami mengapresiasi seluruh pihak yang terus bekerja di lapangan. Mulai dari pemerintah daerah, aparat keamanan, pemadam kebakaran, relawan, hingga masyarakat. Kolaborasi seperti ini sangat penting untuk memastikan keselamatan pekerja dan masyarakat sekaligus melindungi lingkungan,” kata Dony.

    PHI meyakini kolaborasi yang erat dengan pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan merupakan bagian penting dalam menjaga keberlanjutan operasi hulu migas di Kalimantan. “Langkah tersebut sejalan dengan komitmen Perusahaan untuk terus mendukung keberlanjutan produksi minyak dan gas bumi demi ketersediaan dan ketahanan energi Indonesia,” pungkasnya. (*)

    , ,


    Kutai Kartanegara – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) kembali menegaskan komitmennya dalam penguatan kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan akses pendidikan dan kesehatan melalui penyelenggaraan Program SHU Ecovation Day: Lensa Energi. Program yang diinisiasi oleh PT Pertamina Hulu Energi (PHE) ini menghadirkan pemeriksaan kesehatan mata dan pemberian kacamata bagi siswa sekolah dasar sebagai upaya deteksi dini gangguan penglihatan yang dapat memengaruhi proses belajar. Melalui program ini, PHM melibatkan anak-anak sekolah di sekitar wilayah operasi perusahaan di kawasan Delta Mahakam, yaitu Kelurahan Muara Kembang dan Desa Kutai Lama pada tanggal 3 dan 4 Agustus 2026.

    Kegiatan yang berlokasi di Balai Pertemuan Kelurahan Muara Kembang melibatkan 87 peserta yang terdiri atas Lurah beserta jajaran Kelurahan Muara Kembang, tim Optik Jakarta, para guru, serta 66 siswa kelas VI dari SDN 002 Muara Jawa, SDN 009 Muara Jawa, dan Madrasah Ibtidaiyah Swasta Al-Istiqomah. Sementara itu di Desa Kutai Lama, program ini dilaksanakan di SDN 010 Anggana, yang diikuti siswa kelas VI sejumlah 52 peserta didik. Rangkaian pemeriksaan mata didukung oleh seluruh tenaga pendidik sekolah dan tim Optik Jakarta.

    Program ini mendapat sambutan antusias dari para siswa, guru, maupun pemerintah setempat. Kehadiran layanan pemeriksaan mata di lingkungan sekolah diharapkan mampu membantu meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan mata sejak usia dini. Setiap peserta menjalani pemeriksaan mata secara menyeluruh yang meliputi registrasi, tes buta warna, pemeriksaan objektif (refraksi), serta pemeriksaan subjektif melalui pembacaan huruf dan angka untuk mengetahui tingkat ketajaman penglihatan serta kebutuhan koreksi menggunakan kacamata.

    Pada kesempatan ini, Kepala SDN 010 Anggana, Sunarsih, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya program tersebut. Menurutnya, selama proses pembelajaran para guru telah mengidentifikasi sejumlah siswa yang diduga mengalami gangguan penglihatan. “Dengan keterbatasan ekonomi keluarga menyebabkan sebagian besar siswa belum pernah menjalani pemeriksaan mata maupun memperoleh kacamata yang sesuai dengan kebutuhannya. Jadi kami sangat terbantu sekali dengan adanya program ini, tutur Sunarsih.

    Apresiasi turut disampaikan Lurah Muara Kembang, Mukosim, atas kolaborasi yang terjalin antara pemerintah kelurahan dan PHM dalam menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. "Kami mengapresiasi komitmen PT Pertamina Hulu Mahakam yang terus menghadirkan program-program yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Pemeriksaan kesehatan mata bagi anak-anak merupakan investasi penting bagi masa depan mereka karena penglihatan yang baik akan mendukung proses belajar dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di wilayah kami,” ucap Mukosim.

    Pada kesempatan berbeda, General Manager PT Pertamina Hulu Mahakam, Setyo Sapto Edi, menegaskan bahwa pelibatan dan pengembangan masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari komitmen dan strategi untuk mendukung keberlanjutan operasi perusahaan. "PHM percaya bahwa keberhasilan operasi perusahaan harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat di sekitar wilayah kerja. Melalui Program CID SHU Ecovation Day: Lensa Energi, kami berharap dapat membantu anak-anak memperoleh akses terhadap layanan kesehatan mata sehingga mereka dapat belajar dengan lebih optimal. Program ini merupakan wujud komitmen kami dalam menciptakan nilai bersama serta mendukung pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas,” tutupnya. (*)

    , ,


    Balilkpapan – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) menerima kunjungan kehormatan Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Balikpapan yang meninjau fasilitas operasi migas lepas pantai Bekapai, sekitar 60 km lepas pantai arah utara dari Kota Balikpapan, pada 22 Juli 2026. Kunjungan ini menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama dan sinergi dalam pengamanan aset hulu migas PHM sebagai Objek Vital Nasional (Obvitnas) sekaligus memastikan keberlangsungan operasi yang aman, andal, dan ramah lingkungan guna mendukung ketahanan energi nasional.

    Pada kesempatan kunjungan tersebut, General Manager PHM Setyo Sapto Edi menyambut langsung kunjungan Komandan Lanal Balikpapan Letkol Laut (P) Rudhiro Pratomo S.A.P. dan tim. Turut hadir Kepala SKK Migas Perwakilan Kalimantan dan Sulawesi (Kalsul) Haryanto Syafri, beserta jajaran manajemen SKK Migas Kalsul.

    Setyo menjelaskan, keberhasilan operasi hulu migas tidak hanya ditentukan oleh keandalan fasilitas dan kompetensi pekerja, namun juga oleh sinergi yang kuat antara perusahaan, regulator, dan aparat keamanan, termasuk TNI AL, karena keamanan merupakan fondasi utama dalam menjaga keberlangsungan operasi hulu migas. “Sebagai pengelola aset hulu migas yang merupakan Obvitnas, PHM membutuhkan sinergi yang kuat dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk SKK Migas dan TNI Angkatan Laut, agar operasi dapat berjalan secara selamat, andal, dan berkelanjutan. Kolaborasi ini sangat penting dalam melindungi aset strategis negara sekaligus menjaga pasokan energi nasional," ujar Setyo.

    Sebagai salah satu fasilitas produksi lepas pantai strategis di Wilayah Kerja (WK) Mahakam, Bekapai memiliki peran penting dalam mendukung produksi minyak nasional. Di tengah tantangan pengelolaan lapangan migas yang telah memasuki fase mature field, PHM terus mengoptimalkan operasi melalui penerapan budaya keselamatan yang kuat, pemeliharaan aset yang andal, inovasi operasional, serta penguatan sistem keamanan untuk memastikan keberlangsungan produksi secara aman dan efisien.

    Kepala SKK Migas Kalsul, Haryanto Syafri, menyampaikan apresiasi atas kinerja PHM yang terus menjaga keberlangsungan operasi dan memberikan kontribusi terhadap produksi migas nasional. Menurutnya, salah satu kunci menghadapi tantangan operasi pengelolaan lapangan migas yang telah berproduksi selama puluhan tahun adalah memastikan aspek keamanan dan keselamatan kerja, termasuk penerapan sistem keselamatan pada fasilitas produksi lepas pantai.

    Haryanto menambahkan, PHM masih merupakan salah satu kontributor penting dalam pemenuhan kebutuhan energi nasional. Di tengah tantangan pengelolaan lapangan migas yang telah memasuki fase mature, SKK Migas Kalsul mengapresiasi upaya PHM yang terus menjaga keandalan operasi, mengoptimalkan produksi, serta mengedepankan aspek keselamatan dan keamanan. “Sinergi yang erat antara SKK Migas, PHM, dan seluruh pemangku kepentingan, termasuk aparat keamanan, menjadi faktor penting untuk memastikan target produksi migas nasional dapat tercapai secara berkelanjutan,” tuturnya.

    Sementara itu, Komandan Lanal Balikpapan Letkol Laut (P) Rudhiro Pratomo S.A.P. menegaskan komitmen TNI Angkatan Laut untuk terus memperkuat koordinasi dan kolaborasi dengan SKK Migas dan PHM dalam menjaga keamanan Obvitnas di wilayah perairan. "Pengamanan Obvitnas merupakan tanggung jawab bersama. TNI Angkatan Laut siap mendukung pengamanan fasilitas operasi lepas pantai melalui koordinasi yang erat, melakukan patroli keamanan, serta langkah-langkah pencegahan terhadap potensi gangguan. Dengan kolaborasi yang kuat, kami berharap operasional PHM dapat terus berjalan dengan aman sehingga mampu mendukung ketahanan energi untuk Indonesia," tegas Rudhiro.

    Rangkaian kunjungan diawali dengan safety induction sebagai implementasi komitmen PHM terhadap aspek keselamatan kerja. Setelah itu dilanjutkan pemaparan mengenai kondisi operasional Bekapai, penerapan sistem keselamatan, serta pengelolaan aspek keamanan pada fasilitas produksi lepas pantai yang merupakan bagian dari aset strategis nasional. PHM juga menyampaikan gambaran terkait kegiatan operasional di WK Mahakam, termasuk pengelolaan jaringan pipa migas yang menjadi infrastruktur penting dalam mendukung penyaluran energi nasional.

    Melalui kunjungan ini, PHM, SKK Migas, dan TNI Angkatan Laut, menegaskan komitmen bersama untuk terus memperkuat sinergi dalam menjaga keamanan dan keandalan operasi hulu migas. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mendukung kelancaran produksi energi nasional untuk memberikan kontribusi optimal sekaligus melindungi aset strategis negara sesuai dengan visi perusahaan untuk mendukung keberlanjutan produksi minyak dan gas bumi untuk ketersediaan dan ketahanan energi Indonesia. (*)

    , , ,


    Muara Pantuan, Kalimantan Timur – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) berhasil menerapkan sebuah inovasi pengelolaan lingkungan yang memanfaatkan sampah organik dari area operasinya untuk mendukung peningkatan perekonomian masyarakat di Pulau Nubi, Desa Muara Pantuan, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Sampah organik, berupa sisa makanan dari kafetaria perusahaan di lapangan operasi South Processing Unit (SPU), dimanfaatkan menjadi pakan ternak bebek milik warga sekitar. Metode tersebut tidak hanya mengurangi timbunan sampah organik, namun sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat melalui usaha ekonomi lokal yang berkelanjutan.

    Inovasi pengelolaan sampah organik ini dilatarbelakangi oleh hasil kajian Fungsi Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) SPU terhadap peluang pemanfaatan sampah sisa makanan pekerja di kafetaria sebagai pakan ternak. Sejalan dengan hasil kajian tersebut, pada Juni 2025 masyarakat Desa Pantuan melalui Ketua RT, H.Taher, mengajukan permohonan dukungan kepada PHM untuk memperoleh bantuan pakan ternak yang berasal dari sisa makanan di kafetaria dalam rencana budidaya bebek petelur dan bebek pedaging di wilayahnya. Mereka mengawali budidaya pembibitan 300 bebek pada September 2025. Ketika bibit pertama mulai memasuki usia produktif, yakni sekitar lima bulan, ia menambah 300 ekor bibit bebek petelur pada Februari 2026. Dengan bertambahnya populasi bebek, kebutuhan terhadap pakan pun meningkat. Sehingga sejak April hingga Juni 2026, seluruh sampah organik sisa makanan di kafetaria pekerja SPU berhasil dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

    Pada 11 Juli 2026 lalu, General Manager PHM Setyo Sapto Edi berkesempatan mengunjungi lokasi peternakan bebek ini dan berdialog dengan warga Desa Pantuan dalam rangkaian kegiatan Management Walk Through (MWT). Setyo mengatakan, inovasi pengelolaan sampah organik dari sisa makanan pekerja sebagai pakan ternak merupakan wujud nyata komitmen PHM untuk mengintegrasikan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam kegiatan operasi hulu migas perusahaan sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

    "Kami berharap kolaborasi PHM dan masyarakat dapat terus berkembang dan menginspirasi lahirnya berbagai inovasi lain yang akan berdampak positif bagi lingkungan dan masyarakat. Sejalan dengan semangat ESG, kami akan terus mendorong program-program yang menciptakan nilai bersama atau creating shared value bagi seluruh pemangku kepentingan," tuturnya.

    Sementara itu, Kepala Lapangan SPU Teddy Indrawan menjelaskan, sebelum program ini dilakukan, sampah sisa makanan dari kafetaria pekerja SPU setiap hari diangkut menuju lokasi fasilitas pengelolaan limbah yang berjarak sekitar 30 kilometer. “Melalui program ini, sisa makanan yang sebelumnya dikelola sebagai limbah kini dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Selain mendukung penerapan prinsip ekonomi sirkular, inisiatif ini juga mengurangi kebutuhan pengangkutan limbah dan menurunkan potensi risiko keselamatan dalam operasional. Program ini memberikan manfaat lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan limbah,” pungkas Teddy.

    Pendekatan ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah organik ini berhasil mendukung pertumbuhan usaha budidaya bebek yang dikelola H. Taher bersama masyarakat. Sejak Februari 2026, peternakan tersebut mampu menghasilkan sekitar 60 hingga 90 butir telur bebek setiap hari. Bahkan, pada beberapa kesempatan produksinya menembus lebih dari 100 butir per hari. Ke depan, H. Taher bersama masyarakat setempat berencana mengembangkan usahanya untuk memperluas manfaat dan peningkatan ekonomi masyarakat Desa Muara Pantuan yang berkelanjutan.

    Head of Communication Relations & CID PHM Achmad Krisna Hadiyanto menegaskan bahwa melalui inisiatif ini, PHM berhasil menunjukkan bukti bahwa pengelolaan lingkungan di operasi hulu migas perusahaan dapat berjalan selaras dengan program pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, program yang semula berfokus pada pengurangan sampah organik sisa makanan pekerja di lingkungan perusahaan, kini berkembang menjadi sebuah contoh penerapan ekonomi sirkular yang mampu menciptakan manfaat bagi berbagai pihak, mulai dari berkurangnya limbah, efisiensi biaya operasional perusahaan, hingga meningkatnya peluang usaha dan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasi. “Ke depan, kami akan terus mendorong inovasi dan kolaborasi yang dapat menghadirkan program keberlanjutan yang memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan,” pungkasnya. (*)

    , ,


    Jakarta – PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) menegaskan komitmen tanggung jawab sosial dan lingkungan atau CSR perusahaan melalui berbagai program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) yang berhasil mendukung tumbuh kembang anak di sekitar wilayah operasi perusahaan di Kalimantan. Bersama anak perusahaan dan afiliasinya, PHI menjalankan berbagai program peningkatan kualitas kesehatan ibu, bayi, dan balita, penguatan layanan gizi hingga perluasan akses pendidikan. Penegasan komitmen PHI ini disampaikan seiring momentum peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 pada 23 Juli 2026.

    Manager Communication Relations & CID PHI, Dony Indrawan, menjelaskan bahwa salah satu fokus CSR Perusahaan adalah PPM di bidang kesehatan, termasuk program peningkatan kualitas hidup ibu dan anak. ”Di PHI, kami percaya bahwa peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak merupakan faktor penting dalam menciptakan masyarakat yang sehat dan masa depan bangsa yang lebih baik. Oleh karena itu, kami terus mendorong ekosistem yang mendukung tumbuh kembang anak sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia di sekitar wilayah operasi kami di Kalimantan,” ungkap Dony. Pernyataan tersebut selaras dengan tema HAN 2026 yang diusung oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, yakni “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”.

    Program-program yang dijalankan PHI melalui afiliasinya, antara lain Program Beras Kuning (Bersama Masyarakat Kurangi Risiko Stunting) yang dilaksanakan oleh PT Pertamina EP Tarakan (PEP Tarakan), dan PROKESMAS PUJA (Program Kesehatan Masyarakat Terpadu dan Sejahtera) yang dikelola oleh PT Pertamina EP Sangasanga. Tak hanya di bidang kesehatan, PHI juga mendukung perbaikan kualitas sarana dan prasarana sekolah sekaligus meningkatkan akses pendidikan bagi para siswa di wilayah pesisir Kalimantan melalui Program Sekolah Negeri Terapung yang digagas oleh anak perusahaan PHI, yakni PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM).

    Head of Communication Relations & CID Zona 10, Elis Fauziyah menerangkan, melalui Program Beras Kuning, PEP Tarakan memfokuskan pada peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak, peningkatan edukasi pola hidup sehat, perawatan ibu hamil, pemanfaatan tanaman obat, serta pemberian makanan bergizi untuk mendukung pencegahan stunting. Program ini lahir sebagai respons terhadap tingginya prevalansi stunting di Kota Tarakan, khususnya di Kelurahan Selumit Pantai yang berlokasi tepat di dekat wilayah operasi PEP Tarakan.

    Kawasan Selumit Pantai merupakan kawasan pesisir marjinal dengan aktivitas perekonomian nelayan dan usaha mikro kecil-menengah. Sejak 2021, program ini dijalankan secara bertahap melalui pemetaan lokus stunting, Pemberian Makanan Tambahan (PMT), penguatan sarana posyandu hingga edukasi gizi kepada masyarakat. Kemudian pada tahun 2023 – 2024, Perusahaan bersama para kader posyandu mengembangkan pelatihan gizi dan lomba Cipta Menu MPASI yaitu lomba kreasi menu makanan pendamping ASI (MPASI) untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan gizi anak.

    Selain berupaya meningkatkan gizi anak, program ini kemudian berkembang menyentuh aspek pemberdayaan ekonomi masyarakat. Berawal dari hasil Lomba Cipta Menu MPASI pada 2025, para peserta membentuk kelompok Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memproduksi makanan pendamping ASI (MPASI) dengan merek Tummy Tumu. Produk yang dihasilkan antara lain risol dan bola ikan berbahan dasar kentang, sayuran, dan ikan bandeng. ”Keberhasilan inovasi ini didukung oleh kolaborasi berbagai pemangku kepentingan, yakni Kelurahan Selumit Pantai, Dinas Kesehatan melalui Puskesmas Sebengkok, serta BKKBN Kota Tarakan,” papar Elis.

    Inisiatif serupa juga dilakukan oleh PEP Sangasanga melalui PROKESMAS PUJA dengan mengembangkan fasilitas Rumah Balita Sehat, Giat dan Cerdas (Bahagia) di Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara. Menurut Head of Communication Relations & CID Zona 9, Dharma saputra, fasilitas Rumah Bahagia memberikan layanan terpadu bagi balita yang berisiko stunting mulai dari pemantauan pertumbuhan balita, konseling gizi, perawatan balita, PMT sesuai kondisi kesehatan, hingga stimulasi tumbuh kembang dalam lingkungan yang aman dan kondusif.

    Pada tahap awal implementasi tahun 2025, Rumah Bahagia menjangkau 54 balita yang terdiri atas 49 balita dengan berat badan tidak naik, tiga balita berat badan kurang, dan dua balita dengan status gizi rendah. Intervensi dilakukan melalui pemenuhan gizi yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing balita sehingga, sebanyak 40 balita berhasil menunjukkan perbaikan status gizi. “Pendekatan terpadu layanan Rumah Bahagia Samboja berhasil menunjukkan hasil yang positif. Program ini terus dilanjutkan pada tahun 2026 sebagai bagian dari upaya mempercepat penurunan risiko stunting,” ujar Dharma.

    Sementara itu, Head of Communication Relations & CID Zona 8, Achmad Krisna Hadiyanto, menjelaskan bahwa di wilayah pesisir Delta Mahakam, PHM mengembangkan Program Sekolah Negeri Terapung di SMPN 6 Anggana, Desa Sepatin, Kabupaten Kutai Kartanegara. ”Program ini berupaya memperluas akses pendidikan di kawasan perairan dan pesisir Delta Mahakam melalui peningkatan sarana belajar, pemanfaatan listrik tenaga surya (PLTS), dukungan konektivitas digital, peningkatan kompetensi guru, serta pengembangan pendidikan berbasis lingkungan melalui rehabilitasi mangrove, pengelolaan sampah dan penguatan Sekolah Adiwiyata,” jelasnya.

    Menurut Achmad, memasuki tahun keempat implementasi pada tahun 2026, Program Sekolah Negeri Terapung ini melangkah ke fase pengembangan kedua yang mencakup sosialisasi Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) serta edukasi bahaya Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA), regenerasi guru penggerak dari kalangan siswa lokal, program magang dan transfer pengetahuan bagi sarjana pesisir, pengembangan kurikulum berbasis muatan lokal, serta pendampingan penerima Beasiswa Mahakam bagi mahasiswa pesisir yang merupakan bagian dari payung program Beasiswa Sobat Bumi Kalimantan/ BSBK.

    Dony kembali menambahkan, berbagai program tadi merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan PHI yang didukung anak perusahaan dan afiliasinya dalam menjalankan operasi hulu migas yang selaras dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Melalui sinergi bersama pemerintah, masyarakat, dan para pemangku kepentingan, PHI terus berupaya menciptakan nilai tambah bagi masyarakat sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi bagi ketahanan energi nasional. "Di PHI, kami percaya bahwa keberhasilan menjaga ketahanan energi nasional harus berjalan seiring dengan upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitar wilayah operasi. Karena itu, kami akan terus menghadirkan program-program yang berfokus pada kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat untuk menyiapkan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. Kami berharap upaya ini dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan serta mendukung implementasi Asta Cita Pemerintah menuju Indonesia Emas 2045," pungkas Dony. (*)

    , ,


    Balikpapan – PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Kementerian ESDM, dan SKK Migas Perwakilan Kalimantan Sulawesi (SKK Migas Kalsul) melaksanakan kunjungan kerja ke lokasi Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM), atau program CSR perusahaan di Kalimantan Timur pada 30 Juni–1 Juli 2026. Kunjungan ini dalam rangka kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) ke dua lokasi program PPM, yakni Ekoriparian Sungai Hitam Lestari di Kutai Kartanegara dan Waste to Energy for Community (Wasteco) di Balikpapan.

    Manager Communication Relations & CID (CRC) PHI, Dony Indrawan, menyampaikan bahwa kegiatan PPM merupakan bagian dari komitmen tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan dalam mendukung kemandirian masyarakat dan keberlanjutan lingkungan. “Untuk memastikan bahwa program-program PPM atau CSR ini memberikan manfaat dan dampak yang nyata bagi masyarakat di wilayah operasi migas perusahaan, kami secara rutin melakukan monitoring dan evaluasi, antara lain dengan mengunjungi langsung lokasi program dan berdialog dengan masyarakat penerima manfaat dan pemerintah daerah,” jelasnya.

    Pada kunjungan kali ini, PHI menggandeng tim dari Ditjen Migas Kementerian ESDM dan SKK Migas untuk bersama-sama melakukan monitoring dan evaluasi langsung di lokasi program PPM yang dikelola oleh anak perusahaan dan afiliasi PHI. Kegiatan bersama ini sekaligus menunjukkan komitmen dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan yang kuat di sektor hulu migas sebagai fondasi penting dalam mendukung prinsip keberlanjutan. ’’Kegiatan ini menjadi wadah untuk mempererat hubungan kelembagaan sekaligus membangun kesamaan pemahaman tentang dinamika industri hulu migas, tantangan yang dihadapi di lapangan, serta peluang kolaborasi untuk terus mendukung terwujudnya ketahanan energi nasional,’’ tuturnya.

    Dony menambahkan, kegiatan ini juga dimanfaatkan sebagai forum koordinasi dan komunikasi untuk berbagi informasi mengenai kondisi terkini operasi perusahaan, komunikasi publik, serta berbagai inisiatif strategis yang dijalankan oleh PHI di wilayah kerja migas di Kalimantan. Sebelum pelaksanaan monev ke lapangan, di hadapan perwakilan Ditjen Migas dan SKK Migas, Dony memaparkan berbagai upaya dan pencapaian PHI dalam memperkuat aspek komunikasi, relasi pemangku kepentingan, dan program PPM demi mendukung keberhasilan operasi hulu migas dan meningkatkan reputasi positif perusahaan.

    Sementara itu, Kepala SKK Migas Perwakilan Kalsul, Haryanto Syafri, menekankan pentingnya koordinasi dan komunikasi lintas institusi agar pengelolaan isu dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terarah. Menurutnya, setiap capaian positif industri hulu migas perlu didokumentasikan dan disampaikan secara konsisten kepada masyarakat. "Mari kita kumpulkan setiap informasi dan berita baik, lalu sampaikan kepada publik dengan semangat dan narasi yang positif. Dengan komunikasi yang kuat, kita dapat membangun kepercayaan masyarakat sekaligus menunjukkan kontribusi nyata industri hulu migas bagi bangsa," ujarnya.

    Koordinator Humas Ditjen Migas, Akhmad Fauzi Budiman, mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan monev ini dan kinerja PHI dalam mendukung ketahanan energi nasional melalui capaian produksi yang positif. Ia menambahkan, komitmen perusahaan dalam menjalankan program PPM menjadi bukti bahwa keberhasilan industri hulu migas tidak hanya diukur dari aspek operasional, melainkan juga dari kontribusinya bagi masyarakat. "Kami berharap sinergi yang telah terjalin ini terus diperkuat, sehingga upaya menjaga ketahanan energi nasional dapat berjalan seiring dengan terciptanya manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan," ujarnya.

    Kunjungan monev kali ini diawali ke lokasi Ekoriparian Sungai Hitam Lestari, yang berlokasi di Kecamatan Samboja, sekitar 58 km sebelah utara Kota Balikpapan. Program Ekoriparian Sungai Hitam Lestari adalah program PPM unggulan PT Pertamina EP Sangasanga Field yang berfokus pada konservasi satwa bekantan (Nasalis larvatus) dan restorasi 120 hektare hutan mangrove. Program ini tidak hanya berkontribusi terhadap pelestarian keanekaragaman hayati, namun juga mampu menyerap sekitar 265,48 ton CO₂eq emisi karbon per tahun, serta mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan membangun desa wisata di wilayah ini melalui kegiatan susur sungai, dan pengembangan produk makanan minuman dari potensi tanaman lokal, seperti mangrove dan nipah.

    Selanjutnya, rombongan meninjau Program Wasteco, sebuah program PPM unggulan PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) yang berhasil memanfaatkan gas metana dari sampah organik di Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Manggar, Balikpapan, menjadi sumber energi alternatif yang dimanfaatkan masyarakat sekitar. Sejak diimplementasikan pada 2021, Program Wasteco telah membantu mengurangi pengeluaran bulanan lebih dari 380 rumah tangga untuk pembelian gas tabung LPG, mengembangkan bank sampah, serta melahirkan UMKM yang mampu menghasilkan pendapatan dan meningkatkan kesejahteraan mereka. Selain itu, program ini berhasil mendukung pengurangan yang signifikan emisi gas rumah kaca sehingga memberikan manfaat nyata bagi lingkungan. PHI meyakini bahwa hubungan yang harmonis dan komunikasi yang berkelanjutan dengan pemerintah, masyarakat, serta seluruh pemangku kepentingan semakin memperkuat dukungan terhadap keberlangsungan operasi hulu migas yang selamat, andal, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung ketahanan energi nasional

    , ,


    Kutai Kartanegara – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) menerima kunjungan kerja Danantara Asset Management (DAM) yang dipimpin oleh Komisaris Utama DAM, Rabin Indrajad Hattari, ke Lapangan Senipah Peciko South Mahakam (SPS) pada 26 Juni 2026. Kegiatan bertujuan untuk meninjau langsung pengelolaan operasi hulu migas PHM yang menempuh berbagai upaya strategis untuk menjaga keberlanjutan produksi dalam mendukung ketahanan energi nasional.

    Turut hadir dalam kunjungan tersebut Dewan Komisaris DAM yaitu Bambang Sugeng Rukmono (Komisaris), Haryo Baskoro Wicaksono (Komisaris Independen), Agus Sugiarto (Komisaris Independen), Wiko Migantoro (Senior Director Oil, Gas, Petrochemical), Bhimo Aryanto (Senior Director Business Performance & Asset Opt.), serta tim Dewan Komisaris DAM. Pada kesempatan ini, General Manager PHM Setyo Sapto Edi menyampaikan pemaparan mengenai profil perusahaan, kinerja operasional, dan peran strategis PHM dalam mendukung ketersediaan energi nasional. Pada kesempatan ini, Setyo juga memaparkan berbagai inisiatif PHM dalam menjaga keandalan operasi dan produksi, meningkatkan efisiensi, mengedepankan aspek keselamatan kerja di seluruh lini operasi, serta mematuhi perundang-undangan di bidang lingkungan, termasuk pada kegiatan pengeboran.

    Direktur Utama PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) sebagai induk usaha PHM, Sunaryanto, menyampaikan bahwa perusahaan menerapkan dua strategi utama untuk menjaga keberlanjutan operasi dan produksi migas Perusahaan, yakni selective investment (investasi yang selektif) dan cost efficiency (efisiensi biaya). “Bisnis yang dikelola oleh PHI Regional 3 Kalimantan ini adalah non renewable business, ditambah dengan tantangan operasional, bisnis, dan finansial yang ada, tentu kita harus mempertimbangkan tingkat keekonomian produksi agar operasi perusahaan terus memberikan nilai tambah bagi negara dan masyarakat,” papar Sunaryanto.

    Sementara itu, Direktur Pengembangan dan Produksi PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Mery Luciawaty, menyambut baik dan mengapresiasi kunjungan kerja DAM ke fasilitas operasi PHM. Menurutnya, kunjungan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat pemahaman terhadap pengelolaan industri hulu migas yang kompleks dan berteknologi tinggi, sekaligus menunjukkan komitmen Perusahaan dalam mendukung ketahanan energi nasional.

    Mery juga menjelaskan, salah satu tantangan utama yang dihadapi PHM maupun anak perusahaan PHI lainnya adalah menjaga keandalan aset produksi yang telah memasuki fase mature field. Kondisi tersebut memerlukan pengelolaan aset yang berkelanjutan dalam menjalankan operasi migas hulu migas yang selamat, andal, dan patuh agar terus dapatmendukung keberlanjutan produksi migas nasional. “Tantangan utama kami adalah menjaga integritas aset karena sebagian besar fasilitas produksi sudah telah memasuki fase mature. Kami dari Subholding Upstream Pertamina terus melakukan berbagai upaya mitigasi, termasuk revitalisasi sumur dan fasilitas penunjang produksi guna memperpanjang usia operasi, serta meningkatkan keandalan sistem pemrosesan,” pungkas Mery.

    Pada kunjungan ini, Komisaris Utama DAM, Rabin Indrajad Hatari, menyatakan bahwa pada dasarnya fungsi Dewan Komisaris adalah melaksanakan fungsi pengawasan, dalam hal ini untuk membantu Subholding Upstream Pertamina dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan operasi dan produksi migas. “Kami melihat bagaimana Pertamina sebagai holding melalui subholding upstream dapat mengelola operasi dan produksi migas yang efektif dan efisien sehingga memaksimalkan kontribusi kepada negara dalam rangka mendukung Asta Cita Presiden RI terkait ketahanan energi nasional,” ujar Rabin. DAM memberikan berbagai masukan dan arahan untuk mengoptimalkan pengelolaan aset energi nasional, menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan, serta memberikan kontribusi terhadap ketahanan energi dan pertumbuhan ekonomi nasional.

    Selain mengikuti sesi pemaparan, rombongan juga melakukan peninjauan ke sejumlah fasilitas utama di Lapangan SPS untuk melihat secara langsung proses operasi dan pengelolaan fasilitas produksi. Kegiatan ini memberikan gambaran mengenai peran penting fasilitas SPS dalam mendukung kegiatan produksi minyak dan gas bumi di Wilayah Kerja (WK) Mahakam, yang merupakan salah satu kontributor utama pasokan energi nasional.

    ,


    Balikpapan – PT Pertamina Hulu Mahakam berhasil melakukan onstream Platform WPN-6 pada Proyek Sisi Nubi Area of Interest 1-3-5 (SNB AOI 1-3-5) di Lapangan Lepas Pantai Sisi Nubi, Wilayah Kerja Mahakam, Kalimantan Timur. Keberhasilan onstream ini menjadi milestone penting, karena WPN-6 ini menjadi platform keempat yang berhasil berproduksi dari total enam platform yang dikembangkan pada proyek ini. Onstream Platform WPN-6 diawali dengan beroperasinya sumur NB-601 pada 5 Juni 2026 yang mencatatkan produksi gas hingga 6 MMSCFD. Selanjutnya disusul oleh sumur NB-603 pada 8 Juni 2026, dengan produksi mencapai 8 MMSCFD.


    Seiring proses optimalisasi dan stabilisasi sumur & fasilitas produksi, kedua sumur tersebut diharapkan mampu mencapai produksi gas hingga 20 MMSCFD. Keberhasilan onstream Platform WPN-6 menyusul keberhasilan tiga platform sebelumnya, yaitu WPS-4 pada 4 Desember 2025, WPS-5 pada 23 Februari 2026, dan WPN-7 pada 23 Maret 2026. Hal ini menandai progres pengembangan lapangan telah berjalan konsisten dan terintegrasi sesuai dengan target yang ditetapkan dengan senantiasa menjaga aspek keselamatan dan keandalan operasi.

    General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, menegaskan bahwa keberhasilan milestone proyek SNB AOI 1-3-5 ini mendukung komitmen dan langkah strategis PHM untuk mempertahankan produksi migas demi mendukung ketahanan energi nasional. “Pencapaian pada proyek ini sangat penting dalam menjaga keberlanjutan produksi migas dari wilayah Kalimantan, khususnya dari WK Mahakam, guna mendukung Asta Cita pemerintah terkait swasembada energi,” jelasnya.

    Menurutnya, Perusahaan, dengan dukungan PT Pertamina Hulu Indonesia sebagai induk usaha, berkomitmen untuk senantiasa menjalankan proyek investasi dan kegiatan operasional hulu migas yang selamat, andal, patuh, dan bernilai tambah sesuai dengan visi Perusahaan. “Keberhasilan onstream ini sejalan dengan visi Perusahaan untuk menjadi perusahaan energi nasional terdepan, yang mendukung keberlanjutan produksi migas, untuk ketersediaan dan ketahanan energi Indonesia,” ujar Setyo.

    Setyo juga menjelaskan tentang penerapan inovasi dan teknologi dalam proyek ini. ”Kami meyakini bahwa penerapan inovasi dan teknologi sebagai langkah strategis Perusahaan untuk terus berusaha mempertahankan tingkat produksi, dan menahan laju penurunan produksi alamiah lapangan-lapangan migas yang sudah mature,” jelasnya.

    Pencapaian onstream Platform WPN-6 didukung oleh kesiapan seluruh tim dalam melaksanakan berbagai tahapan pengujian penting. Mulai dari pelaksanaan Emergency Shutdown (ESD) test untuk memastikan sistem keselamatan beroperasi optimal, clean up sumur, hingga leak test menggunakan nitrogen yang bertujuan memastikan fasilitas bebas kebocoran sebelum proses produksi dimulai. “Kolaborasi lintas tim serta dukungan seluruh pemangku kepentingan internal dan eksternal perusahaan menjadi kunci keberhasilan dalam pencapaian proyek ini,” pungkasnya. (*)

    , ,


    Balikpapan — PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) kembali mencatatkan pencapaian penting dalam Proyek Pengembangan Lapangan Migas Manpatu. Pada 27 Mei 2026, PHM berhasil menyelesaikan pemasangan jacket dan topside Platform Offshore Manpatu. Proyek Manpatu merupakan pengembangan temuan sumur eksplorasi di kawasan lepas pantai South Mahakam, sekitar 35 kilometer dari pesisir Balikpapan. Kalimantan Timur.

    Penyelesaian pemasangan platform merupakan kelanjutan dari sejumlah tahapan Proyek yang telah berlangsung sejak April 2026. Tahapan tersebut diawali dengan Sail Away Jacket pada 8 April 2026, dilanjutkan dengan load out dan sail away topside dari fasilitas fabrikasi PT Meindo Elang Indah, di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, pada 17 April 2026, serta Sail Away Topside final pada 30 April 2026.

    Salah satu pekerjaan paling krusial dalam proyek ini adalah pelaksanaan heavy lifting activities yaitu proses pengangkatan dan pemasangan topside berbobot sekitar 1.000 ton ke posisi atas struktur jacket secara presisi di lepas pantai. Seluruh rangkaian pekrjaan berhasil dilaksanakan sesuai rencana melalui kolaborasi berhasil solid antara tim proyek PHM, kontraktor, mitra kerja, dan dukungan para pemangku kepentingan.

    General Manager PHM, Setyo Sapto Edi menjelaskan bahwa Proyek Pengembangan Lapangan Migas Manpatu merupakan wujud komitmen Perusahaan untuk terus berinvestasi dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi demi keberlanjutan produksi migas Perusahaan yang penting dalam mendukung ketersediaan dan ketahanan energi Indonesia. “Di PHM, kami berinvestasi dalam kegiatan eksplorasi untuk menemukan sumber daya baru, menambah cadangan, dan menjaga keberlanjutan produksi minyak bumi dan gas alam (migas) dari wilayah Kalimantan untuk puluhan tahun mendatang,” ujarnya.

    Proyek ini, menurut Setyo, mendapat dukungan penuh dari PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) selaku induk perusahaan dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). “Keberhasilan pemasangan jacket dan topside Platform Offshore Manpatu merupakan hasil kerja keras, sinergi, dan komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam menjalankan proyek secara selamat, andal, dan sesuai target. Pencapaian ini menjadi bagian penting dalam upaya menjaga keberlanjutan operasi dan mendukung peningkatan produksi migas nasional.” tutur Edi.

    Pada proyek ini, Perusahaan menerapkan pengawasan ketat, manajemen risiko yang terstruktur, serta budaya keselamatan kerja yang disiplin di seluruh tahapan pekerjaan sehingga Proyek dapat diselesaikan dengan kinerja HSSE (Health, Safety, Security, and Environment) yang baik. “Sepanjang pelaksanaan proyek, aspek keselamatan menjadi prioritas utama”, imbuhnya.

    Platform Offshore Manpatu dirancang untuk mendukung kegiatan produksi dan pengembangan lapangan di wilayah kerja Mahakam. Setelah beroperasi, Proyek ini diproyeksikan mampu menambah produksi gas hingga 80 juta kaki kubik per hari (MMSCFS) atau sekitar 20 persen dari total produksi Mahakam di tahun 2027 nanti.

    Selanjutnya, PHM akan segera melanjutkan tahapan-tahapan berikutnya, meliputi pemasangan riser dan subsea spool, hook-up, hingga commissioning, guna memastikan platform dapat beroperasi secara optimal pada Q1 2027. Keberhasilan proyek ini semakin menegaskan peran strategis PHM dalam mendukung target produksi migas nasional dan mewujudkan ketahanan energi yang berkelanjutan bagi Indonesia.

    , ,


    Kutai Kartanegara – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) berhasil menyelesaikan Program Handil Rejuvenation di Lapangan Handil, salah satu lapangan minyak utama di Wilayah Kerja (WK) Mahakam di Kalimantan Timur yang telah beroperasi lebih dari 50 tahun. Program tersebut bertujuan meningkatkan keandalan fasilitas produksi dalam rangka menjaga keberlanjutan operasi hulu migas sekaligus mendukung terciptanya swasembada energi sesuai dengan Asta Cita Pemerintah Indonesia.

    Program Handil Rejuvenation merupakan upaya revitalisasi sumur dan fasilitas penunjang produksi guna memperpanjang usia operasi lapangan mature, meningkatkan keandalan aliran fluida, serta menjaga produktivitas aset secara berkelanjutan. Dalam program ini melibatkan kegiatan planned shutdown, yaitu penghentian operasi yang terencana dan bersifat sementara untuk tujuan pemeliharaan, perbaikan, peningkatan, atau modifikasi.

    Direktur Utama PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), induk usaha PHM, Sunaryanto, mengatakan bahwa pasca pelaksanaan program rejuvenation dan perawatan fasilitas produksi Central Processing Area (CPA), Lapangan Handil kembali beroperasi dengan capaian produksi 15.020 barel minyak per hari (bopd), atau sekitar lima persen lebih tinggi dibandingkan sebelum planned shutdown. “Peningkatan produksi itu didukung oleh kinerja sistem proses dan compressor yang lebih optimal setelah pelaksanaan perawatan fasilitas,” ujarnya.

    Anto, panggilan akrab Sunaryanto, menegaskan komitmen Perusahaan terhadap aspek keselamatan dan keamanan operasi hulu migas sebagai objek vital nasional. “Melalui Program Handil Rejuvenation dan berbagai kegiatan peningkatan keandalan fasilitas produksi, PHM terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga integritas aset, meningkatkan keselamatan operasi, serta mendukung keberlanjutan produksi migas dan ketahanan energi nasional,” imbuhnya.

    Program Handil Rejuvenation telah dipersiapkan sejak 2023, yang diawali proses persetujuan program bersama SKK Migas dan PT Pertamina Hulu Energi (PHE), penyelesaian detailed engineering, pengadaan material, fabrikasi, instalasi, hingga pelaksanaan tie-in atau penyambungan akhir ke sistem existing pada 8–19 April 2026. Pekerjaan tie-in itu dilakukan bersamaan dengan perawatan fasilitas produksi Central Processing Area (CPA) untuk memastikan keselamatan dan integritas sistem.

    Selama periode tersebut, PHM juga memanfaatkannya untuk menjalankan berbagai program perawatan dan peningkatan integritas fasilitas produksi secara jangka panjang. Pekerjaannya meliputi perawatan empat compressor dan delapan vessel, penyelesaian pekerjaan integritas fasilitas produksi, serta pelaksanaan dua program inspeksi pipa penyalur menggunakan teknologi Intelligent Pigging atau Inline Inspection (ILI).

    Inisiatif program perawatan dan peningkatan integritas fasilitas produksi ini didasarkan pada hasil evaluasi terhadap usia operasional dan kondisi fasilitas di CPA Lapangan Handil yang mature, termasuk pipa utama berukuran 20 inchi dan 16 inchi. Hasil kajian menunjukkan perlunya langkah peningkatan kondisi fasilitas untuk memastikan operasionalnya sesuai standar keselamatan dan keandalan. Selain itu, sistem safety shutdown, yakni sistem pengaman otomatis yang berfungsi menghentikan sebagian atau seluruh proses operasi saat terdeteksi kondisi tertentu, juga memerlukan peremajaan atau modernisasi.

    PHM mengganti pipa utama CPA sepanjang 350 meter, retrofit Distributed Control System (DCS), dan Fire & Gas (F&G) System. Pekerjaan dijalankan dengan pengawasan aspek kesehatan dan keselamatan kerja secara ketat sejak November 2024, mencakup seluruh persiapan pekerjaan instalasi untuk pekerjaan penggelaran pipa, instalasi kabel, pemasangan support, fabrikasi spool, lifting material, pekerjaan di ketinggian hingga berbagai aktivitas hot work. Pendekatan ini dilakukan untuk meminimalkan dampak terhadap keberlangsungan produksi Lapangan Handil.

    General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, menegaskan bahwa seluruh rangkaian pekerjaan dilaksanakan dengan menerapkan prosedur HSSE (Health, Safety, Security, and Environment) yang ketat sesuai standar keselamatan Perusahaan. “Kegiatan full shutdown yang kompleks tersebut melibatkan hampir 1.000 personel dengan operasi kerja 24 jam, penerbitan 242 izin kerja, pelaksanaan 45 hot work naked flame atau NFL, dan total 241.176 jam kerja atau man hours,” tutur Setyo. Selama pelaksanaan kegiatan, PHM memastikan seluruh pekerjaan dijalankan sesuai prosedur keselamatan kerja, mulai dari proses perizinan kerja, pengawasan lapangan, mitigasi risiko, hingga pengendalian pekerjaan berisiko tinggi guna menjaga keselamatan pekerja, fasilitas, dan lingkungan.

    Melalui kolaborasi lintas fungsi dan komitmen kuat terhadap aspek HSSE, kegiatan tie-in Handil Rejuvenation dan pekerjaan lainnya berhasil diselesaikan dengan aman tanpa recordable injury serta selesai satu hari lebih cepat dibandingkan rencana awal. Selain itu, realisasi kehilangan produksi tercatat lebih rendah dibandingkan estimasi awal. (*)

    , ,


    Kutai Kartanegara – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) berhasil mengevakuasi tujuh nelayan yang terombang-ambing di tengah perairan Selat Makassar selama dua hari karena kapal mereka mengalami kerusakan mesin parah. Lokasi nelayan dan kapal saat diselamatkan pada Kamis, 9 April 2026 pekan lalu berada sekitar dua mil atau tiga koma dua kilometer dari daratan pesisir kampung Muara Keili, Desa Tani Baru, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Mesin kapal mereka patah di area laut GTS-Q ketika dalam perjalanan dari Samarinda menuju Sepatin.

    Setelah mesin mati, para nelayan berusaha mencari titik sinyal telepon untuk meminta bantuan. Namun tak kunjung membuahkan hasil. Dua hari berselang, sekitar pukul 19.00 WITA, kabar itu sampai kepada patroli keamanan PHM yang sedang bertugas. Meski titik koordinat nelayan berada di luar parameter wilayah patroli rutin, tim keamanan Perusahaan segera mengambil langkah cepat melalui koordinasi dengan tim unit Maritim dan Marine. Izin penyisiran pun segera diberikan atas dasar misi kemanusiaan.

    Dengan kapal Patroli Ruhen 27, personel tim keamanan PHM menyisir radius wilayah dua kilometer persegi. Setelah satu jam, tim patroli akhirnya menemukan kapal nelayan yang terombang-ambing tersebut. Tim segera menggandeng kapal nelayan dan mengevakuasi seluruh korban menuju Kampung Muara Ilo untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dan tempat yang lebih aman.

    General Manager PHM, Setyo Sapto Edi menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan evakuasi para nelayan tersebut. “Alhamdulillah, ketujuh nelayan tersebut ditemukan dalam keadaan selamat meskipun mereka terombang-ambing di laut dengan bekal makanan dan minuman yang terbatas,” ungkapnya. Menurutnya, langkah dan keberhasilan penyelamatan para nelayan ini menjadi bukti kepedulian sosial Perusahaan dan budaya keselamatan untuk melindungi personel Perusahaan maupun masyarakat sekitar.

    Di PHM, personel keamanan terlatih dan selalu siaga untuk mengatasi kondisi darurat, melakukan koordinasi yang presisi, hingga mengikuti standar keamanan maritim. "Bagi kami, keselamatan adalah nilai mutlak yang tidak mengenal batas wilayah operasional. Apa yang dilakukan oleh tim di lapangan adalah cerminan dari komitmen yang tinggi terhadap keselamatan operasi, masyarakat, dan lingkungan," tutur Setyo. (*)

    , ,


    Balikpapan – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) kembali mencatatkan capaian penting dalam mendukung ketersediaan dan ketahanan energi nasional, melalui keberhasilan onstream Platform WPN-7 yaitu NB-701 dan NB-702, pada Proyek Sisi Nubi Area of Interest 1-3-5 (SNB AOI 1-3-5) di lapangan lepas pantai Sisi Nubi, Wilayah Kerja Mahakam, Kalimantan Timur. Keberhasilan onstream Platform WPN-7 menjadi tonggak penting sebagai platform ketiga yang telah mencatatkan produksi dari total enam platform dalam pengembangan Proyek SNB AOI 1-3-5.


    Onstream Platform WPN-7 dimulai pada 23 Maret 2026 dengan melakukan rump-up sumur NB-701 yang mencatatkan produksi gas hingga 9,8 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) pada 25 Maret 2026. Kemudian disusul oleh sumur NB-702 yang mulai onstream pada 26 Maret 2026 dengan capaian produksi gas hingga 12,5 MMSCFD. Monitoring dan stabilisasi sumur terus dilakukan agar produksi kedua sumur gas ini dapat dioptimalkan hingga 20 MMSCFD pada tahap awal produksi.

    Capaian ini sesuai dengan rencana dan target onstream yaitu pada akhir kuartal pertama tahun 2026 dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan dan keandalan operasi yang semakin memperkuat kinerja awal tahun yang menggembirakan. Sebelumnya, dua platform lainnya, WPS-4 telah onstream pada 4 Desember 2025 dan WPS-5 pada 23 Februari 2026 lalu, menandai progres pengembangan lapangan yang berjalan konsisten dan terintegrasi.

    General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, menegaskan bahwa pencapaian pada proyek ini menjadi bukti komitmen PHM dalam menghadirkan operasi hulu migas yang selamat, andal, dan berkelanjutan. “Keberhasilan ini menunjukkan kesiapan PHM dalam mengoptimalkan potensi lapangan dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan dan keandalan operasi. Setiap tahapan proyek hulu migas ini kami jalankan dengan disiplin tinggi untuk memastikan operasi berjalan selamat, efektif, dan efisien,” ujar Setyo.

    Lebih lanjut, Setyo menambahkan bahwa tambahan produksi dari kedua sumur baru ini diharapkan memberikan dampak nyata bagi pasokan energi nasional. “Dengan capaian produksi awal hingga 20 Juta Standar Kaki Kubik per Hari (Million Standard Cubic Feet per Day atau MMSCFD), sumur NB-701 dan NB-702 diharapkan berkontribusi signifikan dalam menjaga stabilitas pasokan gas, sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional,” tambahnya.

    Keberhasilan onstream Platform WPN-7 ini merupakan hasil dari rangkaian persiapan komprehensif oleh seluruh tim yang terlibat. Berbagai pengujian krusial telah dilaksanakan, mulai dari tes Emergency Shutdown (ESD) untuk memastikan sistem proteksi berjalan optimal, hingga leak test menggunakan nitrogen guna menjamin integritas fasilitas tanpa paparan hidrokarbon.

    Sumur NB-701 dan NB-702 dioperasikan menggunakan metode controlled ramp-up, yaitu peningkatan produksi secara bertahap melalui pengaturan choke guna menjaga stabilitas tekanan dan aliran. Gas yang diproduksikan dialirkan melalui Sand Filter Unit untuk memastikan partikel padat tersaring dengan baik, sehingga mendukung keandalan fasilitas dan keberlanjutan operasi jangka panjang.

    Keberhasilan onstream ini mendukung pencapaian visi Perusahaan untuk menjadi perusahaan energi nasional terdepan yang mendukung keberlanjutan produksi migas untuk ketersediaan dan ketahanan energi Indonesia sesuai Asta Cita pemerintah terkait swasembada energi. (*)

    , ,


    Balikpapan – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) berhasil melaksanakan aktivitas Load Out Jacket Manpatu dari Proyek Pengembangan Manpatu yang berlangsung di halaman fabrikasi milik PT Meindo Elang Indah di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, pada 26 Maret 2026. Kegiatan Load Out Jacket pada proyek ini merupakan kelanjutan dari first cut of steel yang dilakukan pada bulan Mei 2025 lalu dan akan dilanjutkan dengan rencana Sail Away Jacket.

    Proyek Manpatu merupakan pengembangan temuan sumur Eksplorasi Manpatu pada lapangan lepas pantai (offshore) South Mahakam yang berlokasi sekitar 35 km dari pesisir Balikpapan, dalam wilayah operasi PHM di Kalimantan Timur, dengan kedalaman perairan mencapai 50–60 meter. Proyek ini dirancang untuk mendukung peningkatan produksi gas dan minyak (kondensat) PHM, dengan kapasitas desain hingga 80 MMSCFD (juta standar kaki kubik per hari).

    Lingkup pekerjaan proyek ini mencakup fabrikasi dan instalasi satu anjungan baru yaitu Jacket beserta Piles dengan total berat ± 1380 Ton dan Topside dengan berat ± 1100 Ton, serta modifikasi pada satu anjungan eksisting. Selain itu, proyek ini meliputi pemasangan pipa penyalur bawah laut berdiameter 14 inch sepanjang kurang lebih 2,5 km, serta pelaksanaan pekerjaan subsea dengan tingkat kompleksitas dan risiko yang tinggi. Secara keseluruhan, proyek ini juga mencakup pengeboran sebanyak 11 sumur pengembangan.

    General Manager PHM, Setyo Sapto Edi menegaskan komitmennya dalam mendukung tercapainya target produksi minyak dan gas nasional melalui investasi yang berkesinambungan pada kegiatan pengeboran, baik untuk eksploitasi maupun eksplorasi. “Kami secara konsisten mendorong inovasi serta penerapan teknologi yang mengacu pada praktik terbaik di industri hulu migas, baik ditingkat nasional maupun global, yang diimplementasikan secara terpadu diseluruh aspek operasional dan bisnis perusahaan”, lanjut Setyo.

    Melalui Proyek ini, PHM juga berhasil mencapai tonggak penting dalam peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Proyek Manpatu telah mengimplementasikan penggunaan pipa penyalur lokal (Electric Resistance Welding / ERW) secara menyeluruh (top-to-toe) yang mencakup, sistem perpipaan subsea, riser dan pipe bend, yang pertama kalinya diterapkan di area Mahakam.

    Di sisi lain, PHM memastikan bahwa setiap proyek dijalankan secara optimal dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan kerja, dengan target nihil kecelakaan (zero incident). Dalam pelaksanaannya, Proyek Manpatu berhasil mencatatkan pencapaian keselamatan kerja yang signifikan, yakni lebih dari dua juta jam kerja (manhours) tanpa insiden kehilangan waktu kerja (Lost Time Incident/LTI) hingga Maret 2026. Dengan total cakupan pekerjaan yang sangat besar, kegiatan ini diproyeksikan mencapai lebih dari tiga juta jam kerja (manhours) pada saat penyelesaian.

    Proyek Manpatu merupakan proyek fast track dengan jadwal yang sangat ketat sejak penemuan baru (discovery) gas di sumur eksplorasi Manpatu-1x pada Q1 2022. Seiring dengan upaya Pertamina dalam mengelola sumur-sumur yang telah memasuki fase penuaan, dibutuhkan inovasi dan kreativitas yang berkelanjutan pada setiap tahapan pelaksanaan proyek. Upaya ini menjadi faktor kunci dalam mendukung percepatan terwujudnya ketahanan energi nasional sebagaimana dicanangkan oleh pemerintah.

    Keberhasilan Proyek ini sangat ditentukan oleh sinergi serta koordinasi yang kuat di antara seluruh pemangku kepentingan, termasuk kontraktor Engineering, Procurement, Supply, Construction, and Commissioning (EPSCC). Seiring dengan rencana peningkatan signifikan pembangunan proyek di lingkungan Pertamina mulai tahun 2025, efektivitas kolaborasi menjadi semakin penting. Oleh sebab itu, komitmen bersama dalam menjaga pencapaian target onstream agar tetap sesuai rencana perlu terus diperkuat guna memastikan keberhasilan proyek secara menyeluruh.

    Proses load out jacket atau pemindahan struktur jacket serta sail away jacket Manpatu menjadi salah satu pencapaian strategis dalam pelaksanaan Proyek Manpatu. Selanjutnya akan diikuti dengan load out dan sail away topside pada pertengahan April 2026. Target instalasi jacket dan topside dijadwalkan pada April-Mei 2026, sehingga keseluruhan platform diharapkan dapat terpasang di wilayah operasi PHM pada awal kuartal III tahun 2026. Target onstream diharapkan mulai kuartal I tahun 2027. (*)

    , , ,


    Balikpapan – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) menerima kunjungan kerja Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) di Kantor PHM, Balikpapan, pada Selasa (17/03/2026). Kunjungan itu bertujuan memperkuat sinergi industri hulu migas dengan lembaga perwakilan rakyat daerah melalui pertemuan silaturahmi dan diskusi terkait kinerja operasional Perusahaan, kontribusi terhadap daerah, serta komitmen terhadap aspek keberlanjutan (sustainability).

    Dalam kunjungan tersebut, rombongan DPRD Kutai Kartanegara dipimpin oleh Wakil Ketua DPRD, Abdul Rasid, bersama dengan anggota dewan dari Komisi I, Komisi III, dan Komisi IV. Para anggota dewan mendapatkan pemaparan mengenai selayang pandang Wilayah Kerja (WK) Mahakam, kegiatan operasi dan produksi, serta program pelibatan dan pemberdayaan masyarakat (PPM) yang dijalankan oleh PHM di sekitar wilayah kerja Perusahaan.

    General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, menyampaikan bahwa kolaborasi dengan pemangku kepentingan daerah merupakan kunci dalam menjaga keberlangsungan operasi migas yang selamat, andal, dan berkelanjutan. “PHM berkomitmen untuk memastikan operasi dan bisnis hulu migas Perusahaan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, pendidikan dan kemandirian masyarakat yang sejalan dengan tujuan keberlanjutan. Dukungan dan sinergi dengan pemerintah daerah, termasuk DPRD Kutai Kartanegara, menjadi elemen penting dalam menjaga ketahanan energi nasional sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar wilayah operasi,” ujar Setyo.

    Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kutai Kartanegara, Abdul Rasid, mengapresiasi program keberlanjutan dan khususnya keterlibatan para tenaga kerja lokal dari Kutai Kartanegara di lapangan-lapangan migas PHM. “Kami berharap dapat menjalin silaturahmi secara kontinyu dengan PHM, sehingga keberadaan industri hulu migas dapat memberikan dampak positif yang maksimal bagi masyarakat Kutai Kartanegara,” ungkap Abdul Rasyid.

    Melalui kunjungan ini, komunikasi PHM dan DPRD Kutai Kartanegara diharapkan semakin erat guna mendukung pengelolaan sumber daya energi secara optimal, transparan, dan berkelanjutan demi kemajuan daerah dan sangat penting bagi ketahanan energi nasional sesuai Asta Cita pemerintah terkait swasembada energi. (*)

    , , ,


    Balikpapan – PT Pertamina EP (PEP) Sangasanga Field dan PT Pertamina Hulu Sanga Sanga yang bernaung di bawah PT Pertamina Hulu Indonsia (PHI) Zona 9, dan PT Elnusa Tbk, menerima kunjungan Safari Ramadan dan Board Greetings manajemen PT Pertamina Hulu Energi (PHE) selaku Subholding Upstream pada 1-2 Maret 2026. Rombongan dipimpin oleh Direktur Eksplorasi PHE Muharram Jaya Panguriseng dan didampingi Direktur Utama PT Elnusa Tbk Litta Indriya Ariesca, dan General Manager Zona 9 Dadang Soewargono. Pada momen kali ini, Perusahaan juga menyalurkan santunan kepada tiga panti yang berada di sekitar wilayah operasi.

    Dalam Safari Ramadan dan Board Greetings, sesi pertemuan antara jajaran manajemen dan pekerja Perusahaan menjadi ruang terbuka untuk berdiskusi, berbagi aspirasi, dan memperkuat semangat kolaborasi dalam mendukung keberhasilan operasi hulu migas yang penting bagi ketersediaan dan ketahanan energi nasional. Selain itu, momen Ramadan ini dijadikan sarana untuk semakin mempererat hubungan harmonis dengan masyarakat yang berperan penting dalam mendukung kelancaran dan keberlanjutan operasi hulu migas Perusahaan.

    Pada kesempatan ini, Direktur Eksplorasi PHE Muharram Jaya Panguriseng menyampaikan bahwa perusahaan memiliki kewajiban moral untuk terus berbenah. “Kita harus terus berbenah menjadi lebih baik, berbenah untuk terus melayani masyarakat di sekitar wilayah operasi kita,” tuturnya. Muharram menambahkan bahwa berbenah ini juga dalam bentuk melakukan transformasi untuk keberlanjutan Perusahaan, baik dari sisi bisnis, tata kelola, dan budaya untuk menjaga ketangguhan Pertamina saat ini dan di masa depan.

    Pentingnya kesehatan dan keselamatan kerja disampaikan jajaran manajemen saat melakukan Management Walkthrough (MWT) ke salah satu lokasi rig Elnusa yang sedang bekerja di Semberah Field yang dikelola oleh PHSS. Di hadapan para pekerja, manajemen mengingatkan para pekerja untuk senantiasa menjaga kinerja operasional yang selamat, andal, dan berkelanjutan.

    General Manager Zona 9 Dadang Soewargono juga menegaskan pentingnya aspek kesehatan dan keselamatan kerja dalam mendukung transformasi dan kebijakan keberlanjutan Pertamina. “Kita harus terus memperkuat budaya Health, Safety, Security and Environment, atau HSSE, sebagai landasan utama yang tidak bisa ditawar di seluruh lini aktivitas kerja di Pertamina Group,” tambahnya.

    Melalui kegiatan Safari Ramadan dan Board Greetings ini, PEP Sangasanga Field, PT Elnusa Tbk, dan PHE menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi membangun sinergi untuk menghasilkan energi yang berkelanjutan bagi Indonesia sekaligus menebarkan energi kebaikan kepada masyarakat di sekitar wilayah operasi Perusahaan di Kalimantan. (*)

    , ,


    Kutai Kartanegara – Direktur Utama PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) beserta jajaran manajemen melakukan Safari Ramadan dan Management Walktrough (MWT) ke wilayah kerja di Kalimantan pada akhir Februari lalu untuk memastikan keamanan dan keselamatan operasi hulu migas. Pada kegiatan kali ini, rombongan menyerahkan santunan kepada anak-anak yatim dan dhuafa di sekitar wilayah operasi yang dikunjungi.

    Safari Ramadan dan MWT ini berlangsung ke sejumlah wilayah operasi di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Operasi PT Pertamina EP (PEP) Tanjung di Kalimantan Selatan adalah lokasi yang pertama kali dikunjungi sebelum rombongan melanjutkan kunjungan ke operasi PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) di Lapangan Lawe-Lawe dan operasi PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) di Handil Central Processing Area (HCA) di Kalimantan Timur.

    Pada Safari Ramadan kali ini jajaran manajemen berkempatan untuk mendengarkan secara langsung aspirasi pekerja di lapangan, serta memberikan apresiasi terhadap dedikasi pekerja dalam menjaga kelangsungan produksi demi ketahanan energi nasional. Selain itu, Direktur Utama PHI Sunaryanto menegaskan pentingnya pengelolaan aspek keselamatan dan kesehatan manusia, serta lindungan lingkungan sebagai landasan utama dalam menjalankan seluruh kegiatan operasi hulu migas. “Kami meyakini kinerja keselamatan yang Unggul sangat penting dalam menjaga keberlanjutan produksi migas Perusahaan yang berperan penting bagi ketersediaan dan ketahanan energi nasional,” jelas Anto, sapaan akrab Sunaryanto.

    Dalam kegiatan Safari Ramadan, rombongan menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan sebagai wujud kepedulian sosial Perusahaan. Di wilayah Tanjung rombongan memberikan bantuan serta perlengkapan ibadah dan kebutuhan pendukung lainnya kepada LKSA Amal Shaleh. Rombongan juga menyerahkan santunan kepada tiga lembaga sosial di Kabupaten Penajam Paser Utara. Selain itu, rombongan menyalurkan santunan serta bantuan peralatan ibadah dan perlengkapan sekolah di wilayah Handil di Kalimantan Timur. “Kami percaya bahwa hubungan yang harmonis dengan masyarakat dan lingkungan di sekitar wilayah operasi akan mendukung keberlanjutan produksi migas yang penting bagi ketahanan energi nasional.

    Di hadapan para pekerja, Sunaryanto meminta mereka untuk tidak segan dalam melaporkan kondisi dan tindakan tidak aman. “Segera follow up dan mitigasi risiko setiap pekerjaan. Kita harus berangkat kerja selamat dan pulang kembali ke rumah dengan selamat,” ujar Anto ketika melakukan MWT di fasilitas produksi Handil Central Processing Area (CPA). Selain di lingkungan kerja, Anto juga mendorong para pekerja agar menerapkan perilaku selamat di lingkungan keluarga masing-masing.

    Kegiatan MWT dan Safari Ramadan ini sekaligus menjadi sarana penguatan komitmen PHI dalam mendukung Asta Cita Pemerintah Indonesia, khususnya swasembada energi. Melalui kepemimpinan yang hadir langsung di lapangan, budaya keselamatan yang konsisten, dan kepedulian sosial yang berkelanjutan, serta kolaborasi yang solid antara manajemen, pekerja, dan pemangku kepentingan lainnya termasuk masyarakat, PHI optimistis dapat terus menjaga kinerja operasi yang unggul. (*)

    , ,


    Balikpapan – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) berhasil melakukan onstream di Platform WPS-5 pada Proyek Sisi Nubi Area of Interest (SNB AOI 1-3-5) di lepas pantai Delta Mahakam, Kalimantan Timur pada 23 Februari 2026. Kegiatan onstream mencakup produksi perdana dua sumur baru, proses pengujian fasilitas produksi di dalam Platform WPS-5 dan jaringan pipa. Keberhasilan onstream Platform WPS-5 menyusul keberhasilan sebelumnya pada Platform WPS-4 pada 4 Desember 2025 lalu. Total produksi well head gas kedua platform ini mencapai sekitar 45 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd).

    Proyek Sisi Nubi AOI merupakan bagian dari strategi pengembangan lapangan guna menjaga keberlanjutan produksi dan memperkuat kontribusi Perusahaan terhadap pasokan gas nasional. Beroperasinya dua sumur baru, yakni SS-505 pada 21 Februari 2026 dan SS-504 pada 23 Februari 2026, merupakan pencapaian penting dalam pengembangan area tersebut. Dari rencana total enam platform dalam Proyek SNB AOI 1-3-5, dua platform telah berhasil onstream. Selain kedua platform yang sudah beroperasi, saat ini satu platform dalam tahap persiapan well intervention dan well connection, sedangkan dua platform lainnya dalam tahap pengeboran (drilling).

    General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, mengungkapkan bahwa keberhasilan onstream dua sumur di Platform WPS-5 ini mendukung keberlanjutan produksi migas di Wilayah Kerja (WK) Mahakam. “Keberhasilan ini sekaligus menunjukkan komitmen kuat PHM untuk menjaga keberlanjutan produksi migas Perusahaan dalam mendukung ketahanan energi nasional sesuai Asta Cita pemerintah terkait swasembada energi,” ujar Setyo.

    Menurutnya, Proyek SNB AOI merupakan wujud komitmen Perusahaan untuk terus berinvestasi dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi untuk dapat menemukan sumber daya baru, menambah cadangan, dan meningkatkan produksi migas Perusahaan guna mendukung keberlanjutan produksi migas nasional dari wilayah Kalimantan yang berperan penting dalam penyediaan energi bagi Indonesia. “Dengan pelaksanaan proyek yang berjalan sesuai rencana, penyelesaian keseluruhan enam platform diharapkan dapat semakin meningkatkan kapasitas produksi secara optimal dan andal,” jelasnya.

    Setyo juga menjelaskan, komitmen Perusahaan dalam menerapkan inovasi dan teknologi sejalan dengan kebijakan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) sebagai induk usaha dan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) selaku Subholding upstream Pertamina. ”Kami meyakini bahwa penerapan inovasi dan tekonolgi sebagai langkah strategis Perusahaan terus berusaha mempertahankan tingkat produksi, dan menahan laju penurunan produksi alamiah lapangan-lapangan migas yang sudah mature di wilayah Kalimantan,” jelasnya.

    Produksi perdana Sumur SS-505 mulai mengalir secara bertahap setelah tahap clean-up yang berlangsung pada 21-22 Februari 2026, dengan produksi mencapai 12 mmscfd. Proses clean-up menggunakan sand filter untuk memastikan keandalan fasilitas produksi tetap terjaga. Setelah proses clean-up selesai, prosedur ramp down dilakukan secara bertahap pada 23 Februari 2026 guna mememastikan respons reservoir, mengevaluasi performa sumur setelah ramp up. Tahapan selanjutnya dilakukan rig down sand filter unit dan pengembalian sistem alir (flowline re-instatement) ke konfigurasi operasi standar. Setelah seluruh tahapan dinyatakan aman dan siap operasi, Sumur SS-505 kembali dibuka sesuai prosedur dengan target produksi yang lebih terkontrol, yakni pada kisaran produksi 10 - 11 mmscfd.

    Setelah keberhasilan pengoperasian Sumur SS-505, dilanjutkan tahapan produksi perdana untuk Sumur SS-504 yang dimulai tahap clean-up sumur pada 23-24 Februari 2026. Seperti halnya sumur sebelumnya, pembukaan dilakukan secara bertahap melalui sand filter unit guna memastikan kebersihan aliran dan menjaga integritas fasilitas produksi. Memasuki tahap akhir proses clean-up pada 24 Februari 2026, Sumur SS-504 resmi mencapai target produksi sesuai prosedur dengan laju gas 11,4 mmscfd pada bukaan choke 46/64”. (*)


Top