, ,

    Tenda-tenda pengunjung yang bermalam di pantai Panrita Lopi dengan suasana teduh menenangkan
    (Dok: Pantai Panrita Lopi) 

    KUTAI KARTANEGARA – Dalam rangka memperingati hari jadinya yang ke-9, Pantai Panrita Lopi di Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, akan menggelar rangkaian kegiatan menarik yang terbuka bagi masyarakat dan wisatawan.

    Owner Pantai Panrita Lopi, Ahmad yang akrab disapa Daeng Lompo, mengatakan perayaan Anniversary Celebration ke-9 akan diawali dengan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada Kamis malam, 12 Februari 2026, bertempat di kawasan Pantai Panrita Lopi.

    “Rangkaian perayaan dimulai dengan doa bersama pada Kamis malam, kemudian dilanjutkan dengan berbagai kegiatan hiburan pada hari-hari berikutnya,” ujar Daeng Lompo, Sabtu (31/1/2026).

    Ia menjelaskan, puncak perayaan akan digelar pada 14 dan 15 Februari 2026. Pada momen tersebut, pengunjung akan disuguhkan beragam penampilan musik serta pembagian doorprize sebagai hiburan tambahan. Sejumlah DJ ibu kota turut dihadirkan untuk memeriahkan acara, di antaranya DJ Pehol, DJ Agung Diamond, FDJ Mirsza, dan FDJ Cimapit.

    Menurut Daeng Lompo, Pantai Panrita Lopi bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang untuk menikmati pengalaman berharga, menumbuhkan rasa syukur, serta menciptakan kenangan indah bersama keluarga dan sahabat. Ia juga mengimbau pengunjung agar selalu menjaga keselamatan dan ketertiban selama berada di kawasan pantai.

    “Apabila pengunjung merasakan hal-hal yang tidak biasa atau mengalami kejanggalan, segera laporkan kepada petugas pengamanan di pantai agar bisa segera ditindaklanjuti,” tegasnya.

    Pantai Panrita Lopi terletak di Pulau Pangempang, Desa Tanjung Limau, Kecamatan Muara Badak. Untuk menuju lokasi, pengunjung harus menyeberang menggunakan kapal dari dermaga penyeberangan Pantai Panrita Lopi.

    Harga tiket masuk bervariasi sesuai hari kunjungan. Pada hari biasa (Senin–Jumat), tiket masuk pulang pergi termasuk kapal dibanderol Rp60.000 untuk dewasa dan Rp40.000 bagi anak usia 2–10 tahun. Sementara pada akhir pekan dan hari libur, tiket menjadi Rp70.000 untuk dewasa dan Rp50.000 bagi anak-anak.

    Selain itu, tersedia pula tiket khusus camping. Pada hari biasa, tarif camping sebesar Rp70.000 untuk dewasa dan Rp50.000 untuk anak-anak. Sedangkan pada akhir pekan dan hari libur, harga tiket camping menjadi Rp80.000 untuk dewasa dan Rp60.000 untuk anak-anak, sudah termasuk kapal pulang pergi.

    Pantai Panrita Lopi dilengkapi berbagai fasilitas penunjang, seperti area parkir, mushola, gazebo gratis, toilet dan air bersih gratis, serta warung makan di sekitar kawasan pantai. Pantai ini buka selama 24 jam penuh dengan tarif parkir Rp5.000 untuk sepeda motor, Rp15.000 untuk mobil, dan Rp50.000 untuk bus besar.

    Daya tarik utama Pantai Panrita Lopi adalah lorong cemara yang menyambut pengunjung sejak pintu masuk, pasir putih yang lembut, serta panorama alam yang asri. Selain itu, tersedia spot foto menarik, area camping, jelajah mangrove berbasis edukasi lingkungan, hingga aktivitas snorkeling dan diving.

    Dengan beragam fasilitas, wahana, dan keindahan alam yang ditawarkan, Pantai Panrita Lopi menjadi pilihan tepat untuk bersantai dan menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga, sahabat, maupun pasangan, sekaligus merayakan sembilan tahun eksistensinya sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Kutai Kartanegara.

    Pewarta & Editor: Fairuzzabady 

    , ,

    Sejumlah wisatawan mengunjungi Museum Mulawarman pada libur lebaran Idul Fitri 1444 H
    (Foto: Istimewa)

    Berbagai obyek wisata di kota Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar) kerap menjadi tujuan wisatawan pada saat libur lebaran.

    Pengunjung pun datang dari berbagai daerah di Kalimantan Timur (Kaltim), salah satu tujuan wisata di hari raya Idul Fitri adalah Museum Mulawarman.

    Seperti di hari pertama libur Idul Fitri 1444 H kali ini, museum yang menyimpan berbagai warisan sejarah kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura tetap buka seperti biasa.

    "Hari lebaran pertama tetap buka, tapi karena dibatasi dengan waktu sholat Idul Fitri, jadi kita buka sekitar jam 10 pagi," terang Zularfi selaku Kepala UPTD Museum Mulawarman Provinsi Kaltiim, Senin (24/04/2023).

    Ia mengatakan, Musuem Mulawarman selama libur lebaran tetap beroperasi dari pukul 09.00 hingga 16.00 Wita. Sementara untuk jumlah kunjungan turut mengalami peningkatan.

    "Kalau dibandingkan dengan hari-hari biasa tentu meningkat," sambungnya lagi.

    Namun jumlah kunjungan ke Musuem Mulawarman turut mengalami penurunan jika dibandingkan sebelum pandemi Covid-19 melanda.

    "Memang tahun ini agak berkurang ya, walaupun tidak begitu banyak, tetapi pengunjung untuk libur lebaran tahun ini cukup lumayan," kata Zularfi.

    Meski demikian, hari pertama lebaran tahun ini angka kunjungan masih terbilang sepi lantaran di hari tersebut dimanfaatkan sebagai ajang silaturahmi.

    "Untuk hari pertama memang masih agak sepi, tapi di hari kedua ada sekitar 300 sampai 400 pengunjung," demikian dijelaskannya. (mmbse)

    , ,

    Penginapan terapung desa Muara Muntai Ilir menyediakan 2 kamar tidur dan makanan khas Kutai
    (Foto: Dedi Baim)

    Penginapan terapung bisa dijumpai kala berkunjung ke pedalaman hulu Mahakam, tepatnya di Desa Muara Muntai Ilir, kecamatan Muara Muntai, Kutai Kartanegara (Kukar).

    Penginapan dengan 2 kamar ini dibangun menyerupai rumah rakit yang tetap mengapung dan mengikuti ketinggian air saat pasang. Letaknya persis di tepi sungai Mahakam dan berdampingan dengan keramba ikan milik warga setempat.

    Bagi pengunjung yang ingin rehat dan menginap di rakit apung ini, tersedia fasilitas penjemputan menggunakan perahu tradisional bermesin tunggal atau biasa disebut perahu ces.

    Penginapan ini memang sederhana, namun tamu yang datang akan disuguhi pemandangan langsung mengarah ke sungai Mahakam, termasuk  menyaksikan matahari terbenam kala senja.

    Tak perlu khawatir soal makanan, pasalnya di penginapan ini menyajikan aneka masakan khas Kutai dengan harga cukup  terjangkau. Makanan yang dihidangkan pun dijamin kesegarannya, sebab bahan-bahan yang diolah didapat dari petani dan nelayan di desa ini.

    Salah satu tamu menyaksikan matahari terbenam dari penginapan terapung di Muara Muntai Ilir
    (Foto: Dedi Baim)

    Kepala Desa Muara Muntai Ilir, Mohammad Guntur, mengatakan, penginapan terapung dikelola secara swadaya oleh ibu-ibu PKK setempat.

    "Mereka secara bergantian memberikan pelayanan maksimal, mulai dari penginapan hingga makanan untuk tamu," ujarnya.

    Penginapan tersebut akan terus dikembangkan dengan menambah jumlah kamar serta meningkatkan fasilitas lainnya seperti tempat angkringan.

    "Nanti akan kami gerakkan lagi Ibu-ibu PKK disini untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Sehingga ibu-ibu ini punya kesibukan lain yang bernilai ekonomis," sambungnya.

    Menurut salah satu pengunjung yang berasal dari Tenggarong, Ahmad Rianto, penginapan terapung ini bisa menjadi tempat transit sekaligus melepas lelah sebelum menuju desa-desa sekitar.

    "Bagi yang hobi memancing tidak perlu jauh-jauh, sambil beristirahat di tempat ini kita juga bisa memancing disekitar rumah rakit ini," katanya. (*/end)

    , ,

     Jembatan panjang Pantai Biru Kersik merupakan daya tarik yang kerap dijadikan obyek swafoto
    (Foto: FB Pantai Biru Kersik) 

    Hamparan pasir putih serta jembatan panjang merupakan pesona yang ditawarkan Pantai Biru Desa Kersik. Obyek wisata yang berada di Kecamatan Marangkayu, Kutai Kartanegara (Kukar) ini pun memiliki sejumlah spot swafoto yang sayang untuk dilewatkan.

    Di sekitar pantai memang tidak akan ditemui penginapan, tetapi tersedia home stay atau rumah warga lokal yang disewakan untuk menginap bagi wisatawan.

    Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Kersik, Kasim mengungkapkan, keberadaan home stay ini dapat membantu meningkatkan ekonomi warga setempat.

    "Penilaian standar kelayakan untuk dijadikan home stay dilakukan oleh Tim dari Polnes. Kami juga mendapat pelatihan dan bimbingan dari Dinas Pariwisata Kukar," ujarnya saat dihubungi media ini, Senin (07/12/2020).

    Kasim menyebutkan, ada 7 home stay yang lokasinya berada tak jauh dari Pantai Biru Kersik. Biaya sewa untuk 1 malam yakni Rp 130 ribu per orang sudah termasuk makan pagi dan makan malam.

    Home stay di Desa Kersik yang bisa menjadi pilihan menginap saat wisata ke Pantai Biru
    (Foto: FB Pantai Biru Kersik)

    "Sejak dibuka sudah ada 3 kali yang menginap di home stay, tetapi untuk harga bisa saja berubah kalau misalnya ada tambahan permintaan," katanya.

    Dengan adanya home stay ini diharapkan mampu menarik minat wisatawan, terlebih di masa relaksasi pandemi COVID-19 terjadi peningkatan jumlah kunjungan.

    "Untuk jumlah kunjungan di bulan September tercatat ada 3.658 orang, kemudian bulan Oktober 5.417 orang dan Nopember 4.893 orang," rinci Kasim.

    Bagi pengunjung yang baru pertama kali ke Pantai Biru Kersik, tiket masuk ke obyek wisata ini sangat terjangkau.

    "Rp 5 ribu untuk sepeda motor dan Rp 20 ribu untuk mobil. Jadi mau berapapun jumlah penumpangnya tetap dihitung kendaraannya," jelasnya. (end)

    , ,

    Lurah Loa Ipuh Darat AR Ambo Dalle (kiri) saat meninjau penangkaran rusa milik PT MHU
    (Foto: Istimewa)

    PT Multi Harapan Utama (MHU) memiliki penangkaran rusa yang berlokasi di Bukit Raya, KM 19, Kelurahan Loa Ipuh Darat, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara.

    Jumlah rusa didalam penangkaran ini sebanyak 9 ekor dengan luas kandang utama 2.500 meter persegi dan kandang karantina 32 meter persegi.

    Rencananya penangkaran rusa tersebut akan diserahkan untuk dikelola masyarakat seiring berakhirnya ijin operasi PT MHU pada tahun 2021-2022. Badan Ekonomi Kelurahan (BUEKEL) Loa Ipuh Darat pun telah menjalin komunikasi terkait hal itu.

    "Informasi dari Direktur BUEKEL Loa Ipuh Darat bahwa surat permohonannya sudah masuk dan tinggal menunggu. Jadi rencananya ini kita akan jadikan tempat wisata seperti di daerah lain," ujar Lurah Loa Ipuh Darat AR Ambo Dalle, Sabtu (28/11/2020).

    Taman Arboretum Busang merupakan kawasan reklamasi dan pasca tambang PT MHU
    (Foto: Istimewa)

    1 KM dari penangkaran rusa terdapat taman Arboretum Busang yang merupakan kawasan reklamasi dan pasca tambang PT MHU. Didalamnya terdapat biodiversitas tanaman bawah, biodiversitas avifauna dan biodiversitas herpetofauna (amfibi dan reftil). Taman ini juga diusulkan untuk diserahkan ke masyarakat.

    "Supaya ada hutan pendidikan di Kutai Kartanegara, tinggal nanti kita menambah infrastruktur, misal memperlebar jalan masuk atau membuat jalur sepeda. Hutan ini luar biasa kalau pelajar atau mahasiswa mau belajar tentang kehutanan," bebernya.

    Dikatakan Ambo, dengan berbagai potensi yang dimiliki Kelurahan Loa Ipuh Darat, ia menaruh harapan besar kepada Pemkab Kukar.

    "Kita berharap kepada pemerintah daerah baik di kabupaten maupun provinsi untuk membantu dalam hal infra struktur. Karena banyak potensi dari kelurahan Loa Ipuh Darat yang dulunya mungkin masih dianggap pinggiran," tandasnya. (end)

    , ,

    Lurah Loa Ipuh Darat AR Ambo Dalle saat berada di destinasi wisata Bukit Durian
    (Foto: Istimewa)


    Setelah taman wisata Kembang Jaong, Kelurahan Loa Ipuh Darat dalam waktu dekat akan memiliki destinasi wisata baru Bukit Durian.

    Seperti diungkapkan Lurah Loa Ipuh Darat AR Ambo Dalle, obyek wisata ini berdiri diatas lahan milik salah satu warga yang berlokasi di KM 20, RT 5, Jalan Poros Tenggarong - Kota Bangun.

    "Luas lahannya 40 hektar, ada sekitar 250 pohon durian dan sisanya tanaman lain termasuk pohon karet. Jadi karena dominan durian makan dikasih nama Bukit Durian," ujarnya kepada media ini, Sabtu (28/11/2020).

    Saat ini Bukit Durian masih dalam tahap penyelesaian, pengelolanya juga membangun beberapa kolam pemancingan serta gazebo untuk pengunjung.

    "Saya sarankan juga kepada pemiliknya untuk membuat gazebo yang lebih besar, sehingga nanti bisa digunakan untuk kegiatan ibu-ibu PKK seperti acara menjahit atau merajut dan itu bisa disewakan," katanya lagi.

    Pihaknya sangat mendukung dan mengapresiasi masyarakat Kelurahan Loa Ipuh Darat yang antusias membantu pemerintah dalam pengembangan destinasi wisata. 

    "Kami juga memberikan masukan kepada pemiliknya untuk memberdayakan masyarakat sekitar seperti pemanfaatan tenaga kerja dan bagaimana ekonomi masyarakat bisa dikembangkan," beber Ambo.

    Ditambahkannya, Kelurahan Loa Ipuh Darat merupakan salah satu penyangga IKN (Ibu Kota Negara) dan juga berdiri Sekolah Polisi Negara (SPN), hal inilah yang melatar belakangi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengembangan pariwisata.

    "Saya sudah sampaikan agar destinasi wisata Bukit Durian ini segera dibuka walaupun belum bisa full. Mungkin nanti selesai pelaksanaan Pilkada atau paling lambat awal tahun depan," demikian jelas Ambo. (end)

    , , ,

    Taman Gubang di Desa Loa Ulung tawarkan wisata perahu diatas danau eks tambang
    (Foto: Fairuz)

    Semenjak relaksasi diberlakukan, berbagai destinasi wisata mulai dikunjungi, salah satunya Taman Gubang yang berlokasi di Desa Loa Ulung, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara (Kukar).

    Taman Gubang berada ditepi danau bekas galian tambang batu bara, dibangun sekitar bulan April 2020 dan mulai dibuka untuk umum pada bulan Juni lalu. 

    Tiket masuk cukup murah, hanya Rp 5 ribu per orang dewasa, sementara untuk anak-anak tidak dikenakan biaya. Tersedia pula perahu kecil atau dalam bahasa Kutai disebut gubang untuk berwisata diatas danau.

    "Perahu yang kecil untuk kapasitas 2 orang itu Rp 20 ribu per jam. Kalau yang besar Rp 100 ribu untuk keluarga atau rombongan dengan kapasitas 8 orang, durasinya kurang lebih 40 menit," jelas pengelola Taman Gubang, Ahmadi, Rabu (18/11/2020) lalu.

    Pengunjung yang berwisata di tempat ini juga bisa membeli cemilan khas buatan warga setempat.

    "Kalau makanan berat memang belum ada, tapi tersedia gorengan seperti tempe, bakwan, sanggar pisang (pisang goreng) termasuk minuman," sambungnya.

    Kebanyakan wisatawan berasal dari desa sekitar seperti Loa Pari, Loa Raya dan Perjiwa. selebihnya dari kota Tenggarong, Loa Kulu hingga Loa Janan.

    "Ada juga beberapa pengunjung dari kota Samarinda, Balikpapan dan Bontang, bahkan Sangatta juga ada. Kalau saya kalkulasikan dalam seminggu ada  seribu pengunjung, jadi kalau 1 bulan ada kurang lebih 4 ribu pengunjung," jelas Ahmadi. (end)


    Di Taman Gubang juga tersedia perahu dengan kapasitas besar yang bisa memuat hingga 8 orang
    (Foto: Fairuz)

    Rencana Mendirikan Taman Gubang Sejak Tahun 2014

    Ide mendirikan Taman Gubang sudah sejak tahun 2014, namun ketika itu Ahmadi menghadapi kendala, rencana pun menguat lagi di tahun 2018, akan tetapi hambatan kembali muncul, hingga pada tahun 2019 Ahmadi yang menjadi salah satu korban kebakaran di Loa Ulung memboyong keluarganya pindah ke tepi danau.

    "Karena saya memang memiliki lahan di sekitar danau dan sudah bertekad untuk mengelola tempat ini menjadi tempat pariwisata, maka saya mulai sendiri dengan membersihkan tepi danau untuk mulai membangun dermaga kecil," kenangnya.

    Didasari pemikiran panjang dan niat tulus, Ahmadi berhasil mewujudkan keinginannya. Ia berharap Taman Gubang bisa dikelola secara profesional dengan melibatkan warga setempat. Saat ini dirinya bekerjasama dengan warga yang menginvestasikan perahu-perahunya dengan sistem bagi hasil.

    "Harapan saya kedepan agar keterlibatan masyarakat Loa Ulung lebih besar dari sekarang, sehingga danau ini dapat kita kelola dan ditata dengan baik,"  sambungnya.

    Taman Gubang pun kini telah masuk dalam DPC Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) Kukar. Dukungan dari pemerintah daerah khususnya edukasi dan pembinaan dari Dinas Pariwisata Kukar sangat diharapkan.

    "Harapan saya untuk pemerintah kabupaten kiranya bisa membuat program khusus tentang kepariwisataan agar destinasi wisata di Tenggarong Seberang bisa lebih banyak lagi bermunculan," tutup Ahmadi. (end)

    , , ,

    Pengelola pantai Panrita Lopi Daeng Lompo (kiri) saat menerima kunjungan Sekda Kukar (kanan)
    (Dok. A. Rianto)

    Sejak diberlakukannya relaksasi di masa pandemi, kunjungan ke pantai Panrita Lopi di Kecamatan Muara Badak, Kutai Kartanegara (Kukar) kembali meningkat.

    Wajar saja, pantai yang menjadi salah satu destinasi wisata di Pulau Pangempang ini memang menawarkan banyak pesona alam dan kerap ramai dikunjungi di akhir pekan.

    Pengelola pantai Panrita Lopi Ahmad atau biasa disapa Daeng Lompo menuturkan, pantai yang mulai dideklarasikan pada tahun 2016 lalu mengalami peningkatan setiap bulannya hingga 30 persen atau sekitar 3.500 pengunjung di masa relaksasi.

    "Di era new normal sampai hari ini kunjungan ke Pantai Panrita Lopi sudah tembus 12 ribu orang dalam 1 bulan, kalau sebelum COVID-19 hanya sekitar 2 ribu orang dalam sebulan," ujarnya kepada media ini, Selasa (17/11/2020) kemarin.

    Peningkatan ini pun menjadi berkah bagi warga sekitar khususnya pemilik perahu motor yang setiap hari mengantar pengunjung menunju dermaga pantai Panrita Lopi, apalagi kini hasil yang didapat telah menjadi penghasilan pokok.

    "Selain itu di kiri dan kanan pantai ada sekitar 25 pedagang yang berjualan dan dalam sehari mereka bisa mendapatkan penghasilan dari pembeli sekitar Rp 1 sampai 2 juta," kata Ahmad.

    Untuk tarif masuk ke pantai Panrita Lopi, pengunjung hanya dikenakan biaya Rp 30 ribu sudah termasuk biaya penyeberangan pulang pergi (PP) dan tiket masuk, namun jika bermalam cukup menambah Rp 5 ribu.

    "Kita juga menyiapkan penyewaan tenda untuk kapasitas 2 orang itu Rp 100 ribu, 3 - 4 orang Rp 120 ribu, 4 - 6 orang Rp 150 ribu. Ada juga penyewaan Hammock dan tikar," rincinya.

    Di area ini tersedia gazebo untuk bersantai, fasilitas toilet 16 pintu, mushola dengan desain menyerupai Ka'bah dan Lorong Cemara yang menjadi ikon terbaru Panrita Lopi.

    "Apabila ingin merasakan suasana alam ke Panrita Lopi saja. Tapi saya tekankan, di 13 destinasi wisata di Muara Badak semuanya indah dan sangat bagus dikunjungi," ucapnya.

    Sebagai informasi, Pulau Pangempang memiliki garis pantai sepanjang 13 kilometer, didalamnya terdapat sejumlah pantai yang dikelola, yakni pantai Tanjung, pantai Malabar, pantai Mangrove Sambera, pantai Indah Sambera, pantai Jingga, pantai Pasir Putih, pantai Pelangi, pantai Mutiara Indah, pantai Ceria, Pantai Panrita Lopi, pantai Mangrove Indah dan pantai Kurma. (end)

    , ,

    Pelantikan DPC PUTRI Kukar periode 2020-2025 di Pendopo Bupati Odah Etam, Tenggarong
    (Foto: Endi)

    DPC Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) Kutai Kartanegara (Kukar) periode 2020 - 2025 resmi dilantik, di Pendopo Bupati Odah Etam, Tenggarong, Selasa (17/11/2020).

    Usai melantik, Ketua DPD PUTRI Kaltim, Dian Rosita menyampaikan, dirinya bercita-cita agar Kukar menjadi leading sector pariwisata di Kaltim. Kepengurusan DPC PUTRI Kukar pun diharapkan menjadi tambahan semangat dan kekuatan dalam pengembangan pariwisata di daerah ini.

    "Ini bukanlah hal yang mudah dan hanya awal, tapi saya percaya dengan sinergi dan kerjasama serta dukungan berbagai pihak, Kutai Kartanegara pariwisatanya jaya," ucapnya.

    Ketua DPC PUTRI Kukar yang baru dilantik, Ahmad mengatakan, pasca dilantik, pihaknya akan segera menuntaskan persoalan terkait perijinan kepengelolaan destinasi wisata yang tergabung dalam perhimpunan tersebut.

    "Ada beberapa teman-teman terkendala di perijinan termasuk saya. Makanya saya sampaikan kepada pemerintah daerah perijinan kami itu dibantu agar cepat terselesaikan, sehingga kami sebagai pengusaha destinasi ini bisa juga menyumbangkan PAD (Pendapatan Asli Daerah) ke pemerintah ataupun negara," ujarnya.

    Pengelola Pantai Panrita Lopi Muara Badak yang akrab disapa Daeng Lompo ini menambahkan,  program kerja yang akan dilaksanakan DPC PUTRI Kukar yakni pembangunan SDM dan pelatihan-pelatihan disetiap destinasi, salah satunya membentuk pemandu (guide) wisata profesional.

    "Harapan kami agar tetap dibimbing oleh instansi (Dinas Pariwisata, Red) dan dituntun agar PUTRI akan lebih baik kedepan," cetusya.

    Plt Bupati Kukar Chairil Anwar yang diwakili Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Wicaksono Subagio berharap agar DPC PUTRI Kukar dapat menjadi wadah untuk berkomunikasi dan saling berbagi serta saluran bagi kemajuan usaha yang bergerak di bidang rekreasi sehingga bisa menopang kemajuan Pariwisata di Kukar. 

    "Melalui PUTRI ini saya harapkan bisa menjalin kolaborasi dengan potensi wisata lainnya, misalnya ada paket wisata di Kecamatan yang menjual perpaduan taman rekreasi dan wisata alam atau budaya serta menjual kerajinan/souvenir produk desa wisata," harapnya. (end)


    Destinasi yang tergabung dalam DPC PUTRI KUKAR 2020

    1. Pantai Panrita Lopi (Muara Badak)

    2. Familly WaterPark (Tenggarong) 

    3. Kembang Jaong (Tenggarong)

    4. Pantai Biru Kersik (Marang Kayu)

    5. Bukit Bengkirai (Samboja)

    6. Lamin Etam Ambors (Samboja)

    7. Pantai Jingga (Muara Badak)

    8. Pantai Malabar (Muara Badak)

    9. Pantai Pamedas (Samboja)

    10. Taman Gubang (Loa Pari - Tenggarong Seberang)

    11. Muara Enggelam (Muara Wis)

    12. Pantai Tanjung ((Muara Badak)

    13. Pantai Mangrove (Muara Badak)

    14. Family Waterpark (Separi - Tenggarong Seberang) 

    15. Badak Mangrove Station (Muara Badak)

    16. Lestari Pesona Bekantan (Samboja)

    17. Keboen Sahabat Edelweis (Muara Badak)

    18. Pangempang Coral Reef (Muara Badak)

    , , , , ,

    Taman Kembang Jaong bisa dijadikan ppilihan untuk berekreasi sekaligus edukasi keluarga
    (Foto: Fairuz)

    Taman wisata Kembang Jaong terletak di Dusun Bensamar, Kelurahan Loa Ipuh Darat, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), atau berjarak sekitar 15 Km dari Museum Mulawarman.

    Dikelola secara mandiri dengan manajemen keluarga, taman ini resmi berdiri pada tanggal 15 Desember 2019 dan mulai dibuka awal Januari 2020.

    "Kalau dihitung sejak dibuka memang sudah 10 bulan, tapi karena COVID-19, kita baru beroperasi lagi sekitar 5 bulan terakhir," terang Pengelola Taman Kembang Jaong, Erwin Junaidi, Sabtu (14/11/2020).

    Awalnya tempat ini merupakan sebuah kebun dan banyak ditumbuhi tanaman bernama Kembang Jaong yang kemudian oleh pemiliknya dijadikan taman rekreasi.

    "Kembang Jaong sendiri dikenal orang Kutai untuk dimakan. Setidaknya kini orang tahu apa itu Kembang Jaong," kata Erwin.

    Taman Kembang Jaong yang mempekerjakan 9 orang karyawan memiliki sejumlah spot, diantaranya replika rumah kayu dilengkapi sepeda tua yang kerap menjadi pilihan swafoto pengunjungnya.

    "Kita mengembangkan rekreasi dan edukasi berbasis pada agrowisata. Untuk edukasinya ada beberapa tanaman yang bisa dipetik. Kita juga sedang membuat kebun simulasi bekerja sama dengan Dinas Pertanian, jadi nanti anak-anak bisa melihat bagaimana cara menanam sayur," bebernya.

    Tak hanya itu, budaya dan kearifan lokal masyarakat suku Kutai bisa ditemui di taman yang berdiri diatas lahan seluas 1,5 hektare, yakni gazebo dengan perlengkapan tungku kayu bakar.

    "Di gazebo atau pondok-pondok itu ada tungku-tungkunya. Jadi mereka yang datang bersama keluarga bisa mengenang kembali bagaimana dulu memasak dengan tungku," sambungnya.

    Tiket masuk ke Taman Kembang Jaong sangat terjangkau alias murah meriah, hanya Rp 5 ribu per orang.  Ada pula gazebo yang bisa disewa untuk satu hari penuh dengan harga bervariasi.

    "Seperti aula dengan luas 12 x 7 meter itu Rp 200 ribu untuk 1 hari. Yang kecil mulai dari harga Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu. Disini kami juga menyewakan terpal dan tikar," jelas Erwin.

    Pengunjung pun diperbolehkan untuk membawa makanan saat berekreasi. Tak perlu khawatir jika tidak membawa bekal, ditempat ini juga ada warga sekitar menjual makanan dan minuman ringan. Bagi yang akan mengadakan gathering dan ingin disiapkan menu makanan, pihak pengelola siap membantu. 

    "Secara philosofis, saya ingin membantu masyarakat kurang mampu yang ingin berlibur dengan biaya murah, kasihan yang keluarganya sampai 5 orang, kalo ke tempat wisata lain harus bayar mahal," imbuhnya.

    Meski dihantam pandemi, Taman Kembang Jaong mulai bangkit kembali agar masyarakat bisa berwisata tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam.

    "Agustus saya buka, tapi di September masih sepi. Tapi sejak bulan Oktober sampai sekarang rata-rata sehari 300 sampai 500 orang, tapi itu secara bergantian, kalau parkiran penuh kita tutup, setelah itu dibuka lagi, soalnya kan lagi pandemi," ujar Erwin.

    Taman Wisata Kembang Jaong sendiri telah masuk dalam daftar obyek wisata Dinas Pariwisata Kukar. Ia berharap pemerintah daerah dapat mendukung pengembangannya.

    "Kepada masyarakat sekitar saya juga berharap agar mampu menangkap peluang ini, baik yang di dusun Bensamar sendiri, maupun dusun Bengkuring dan Maluhu," cetusnya. (end)

    , , ,

    Jubir gugus tugas COVID-19 Kukar Martina Yulianti ungkapkan wacana relaksasi pariwisata
    (Foto: Endi)

    Setelah merelaksasi aktifitas sosial kemasyarakatan, sosial keagamaan dan ekonomi kerakyataan, Pemkab Kutai Kartanegara (Kukar) juga mewacanakan relaksasi pariwisata.

    Hal itu diungkapkan oleh juru bicara gugus tugas percepatan penanganan COVID-19 Kukar, Martina Yulianti, saat menggelar press conference melalui zoom meeting, Rabu (17/06) tadi malam.

    "Dalam waktu dekat akan merelaksasi terkait dengan pariwisata yang dikelola oleh pihak swasta dan dalam 1 -2 hari kedepan kita akan mengeluarkan protokol kesehatannya," ujarnya kepada sejumlah wartawan.

    Perempuan yang menjabat Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar dan juga Plt Direktur RSUD AM Parikesit ini menekankan sejumlah syarat yang harus dipenuhi pengelola tempat wisata.

    "Yang umum tentu terkait physical distancing, menggunakan masker, kemudian menyediakan tempat cuci tangan di tempat-tempat yang strategis," jelas Yuli.

    Ia pun menekankan pentingnya pengelola tempat wisata memperhatikan kapasitas atau jumlah pengunjung saat relaksasi diberlakukan.

    "Artinya dalam kapasitas maksimal berapa, itu harus separonya, karena harus menjamin physical distancing," ucap Yuli lagi.

    Ditambahkannya, protokol kesehatan menyangkut relaksasi aktifitas sektor usaha lainnya juga akan segera menyusul.

    "Misalnya usaha-usaha yang memang tidak memungkinkan physical distancing, seperti salon, tukang cukur, dan lain sebagainya, kita akan segera terbitkan protokolnya," demikian disampaikan Yuli.

    , ,

    Pagar penahan gelombang di desa Muara Enggelam kini kian cantik dengan polsesan cat warna warni
    (Foto: Istimewa)

    Desa Muara Enggelam, kecamatan Muara Wis, Kutai Kartanegara (Kukar), dikenal sebagai salah satu kampung terapung yang hanya bisa dikunjungi menggunakan sarana transportasi perahu ces.

    Di desa ini terdapat pintu gerbang berupa pagar kayu dengan tinggi mencapai kurang lebih 12 meter dan membentang terbagi dua, total panjangnya mencapai 100 meter.

    Pagar tersebut berfungsi sebagai penahan gelombang serta membendung gulma atau tumbuhan endemik saat musim banjir atau air pasang tinggi, sehingga tidak menghempas pemukiman penduduk di sepanjang muara sungai Enggelam.

    Kini pintu gerbang desa Muara Enggelam itu nampak cantik dengan tampilan warna warni hasil polesan cat pemuda setempat yang tergabung dalam kelompok Karang Taruna. "Karena desa kami ini terpencil, jadi perlu ditonjolkan untuk wisata terapung," ujar Riduan, koordinator pemuda Muara Enggelam, Jumat (26/07) lalu.

    Sejak tiga hari terakhir pengecatan dilakukan secara bergantian, dimulai pukul 08.00 - 17.00 Wita, melibatkan sekitar 20 orang pemuda termasuk mahasiswa KKN. "Pengecatan menghabiskan 35 kaleng cat untuk satu turap, dan 15 kaleng cat dasar. Total diperlukan 70 kaleng cat," katanya.

    Riduan mengungkapkan, pekerjaan dilakukan dengan sukarela tanpa dibayar. Sedangkan anggaran pengecatan berasal dari dana desa sebesar Rp 12 juta. "Itu sudah termasuk biaya renovasi serta konsumsi," ucapnya.

    Pengecatan pun tak biasa,  yakni dengan cara memanjat hingga ke puncaknya sambil berpijakan disela-sela papan dan balok pagar yang memiliki kemiringan sekitar 30 derajat. "Memang manjatnya agak susah tapi kami sudah terbiasa," timpal Ketua RT 04, Sabli.

    Sabli berharap, desa yang dihuni 175 Kepala Keluarga (KK) atau 750 jiwa ini menjadi maju dan berkembang, sehingga semakin dikenal dan menjadi salah satu destinasi wisata.

    Menurut Camat Muara Wis Arianto, ide mempercantik gerbang desa Muara Enggelam itu tak pernah terbayangkan sebelumnya, hingga akhirnya pemuda setempat termotivasi menyulap penampilan desa mereka. "Secara spesifik tidak ada instruksi untuk mengecat pagar itu. Mereka berkreasi sendiri, karena masyarakat disini berkeinginan maju," bebernya.

    Bahkan kedepan, Muara Enggelam telah diusulkan untuk dijadikan kampung terapung warna warni. "Di RKPD sudah kita masukkan dalam APB Desa, bahwa sudah ada pembangunan desa wisata kampung terapung warna warni. Tinggal item apa saja dikerjakan nanti, tergantung kebutuhan setelah kita koordinasi dengan Dinas Pariwisata, serta kemauan masyarakat," jelas Arianto. (end)

    , ,

    Kepala Dinas Pariwisata Kukar Sri Wahyuni menyebutkan akan ada peragaan merak di Pulau Kumala
    Foto: Endi

    Sejak tahun lalu, Dinas Pariwisata Kukar telah melakukan pembicaraan dengan PT Gunung Bayan pemilik taman satwa di desa Gunung Sari, kecamatan Tabang. 

    “Karena Gunung Bayan ini juga mempunyai taman satwa, mereka juga mengajukan ijin untuk peragaan satwa di Pulau Kumala yakni beberapa pasang merak,” terang Kepala Dinas Pariwisata Kukar Sri Wahyuni, Selasa (02/07/2019) lalu. 

    Untuk peragaan satwa tersebut, tahun ini tengah dipersiapkan tapak jalan mempergunakan area sangkar burung yang ada di Pulau Kumala. 

    “Jadi nanti peragaan merak itu didalam sangkar burung, tapak jalannya itu disekitarnya. Sedangkan untuk pengunjung dipersiapkan oleh Dinas Pariwisata,” katanya. 

    Sementara kondisi sangkar burung dan burung merak yang nanti berada didalamnya akan dipersiapkan oleh PT Gunung Bayan. 

    “Kita doakan mudah-mudahan triwulan ketiga ini semua sudah bisa berjalan. Sehingga akhir tahun satwa merak sudah bisa disaksikan oleh pengunjung di Pulau Kumala, termasuk memberi pakan kepada burung merak itu,” ujar Sri. 

    Ia menegaskan, PT Gunung Bayan sendiri telah siap, namun kemudahan untuk pengunjung menyaksikan satwa merak tersebut harus benar-benar dipersiapakan. “Ini sesi awal, kita kerjasama dulu, jadi semacam uji coba,” ucapnya. 

    Kedepannya Sri berharap, dengan pengelolaan yang semakin baik diiringi komitmen terhadap Pulau Kumala, akan lebih banyak menarik banyak investor. 

    “Bahwa Pulau Kumala ini punya potensi untuk ditangani pihak ketiga,” demikian dijelaskan Sri. (end)

    , ,

    Kadispar Kukar Sri Wahyuni sampaikan jika tiga DTW dibuka hari kedua libur Idul Fitri 1440 H
    Foto: Dok. kutaikartanegaranews.com/Endi

    Tiga kawasan daya tarik wisata (DTW) yang dikelola oleh Dinas Pariwisata (Dispar) Kutai Kartanegara (Kukar), baru akan dibuka di hari kedua libur Idul Fitri 1440 H.

    Kawasan wisata dimaksud yakni Pulau Kumala, Waduk Panji Sukarame, dan pantai Tanah Merah di kecamatan Samboja.

    "Untuk jadwal kunjungan khusus DTW yang dikelola oleh Dinas Pariwisata pada H-1 dan hari pertama lebaran itu tutup," terang Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Kukar Sri Wahyuni.

    Sri menyebutkan, hal itu dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada petugas yang ditempatkan di masing-masing DTW untuk menyiapkan Idul Fitri dan berkumpul bersama keluarganya.

    "Jadi tanggal 4 - 5 itu tutup, kemudian tanggal 6 Juni kembali dibuka untuk umum mulai pukul 07.30 - 15.00 sore," katanya.

    Sementara untuk obyek wisata Planetarium Jagad Raya yang juga dikelola oleh Dispar, hingga lebaran nanti masih belum bisa dikunjungi.

    "Planetarium sendiri sampai saat ini belum bisa dibuka untuk umum, karena masih mengalami kendala teknis, karena proyektor di teater bintang belum sempurna diaktivasi," demikian jelasnya. (end)

    , ,

    Dok.Anugerah Pesona Indonesia

    Setelah Erau dinobatkan sebagai Juara I Festival Budaya Terpopuler 2016 dan Pulau Kumala Juara II Tujuan Wisata Baru Terpopuler 2017, Kutai Kartanegara (Kukar) kembali masuk dalam daftar nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API) 2018.

    "Di tahun 2018 ini, ada 2 kategori yang masuk dari Kukar yakni Tenun Ulap Doyo untuk kategori Cinderamata Terpopuler dan facebook Visiting Kutai Kartanegara sebagai Promosi Digital Terpopuler," terang Kepala Dinas Pariwisata Kukar, Sri Wahyuni, Jumat (13/07).

    Kepada media ini Sri mengatakan, voting sudah dibuka sejak 1 Juni lalu dan akan ditutup pada bulan Oktober 2018 mendatang. "Mohon dukungan seluruh masyarakat untuk voting dua kategori tersebut," ucapnya. 

    Caranya, lanjut Sri, dengan mengirimkan sms, ketik API 7I kirim ke 99386 untuk dukungan Tenun Ulap Doyo atau dengan mengunjungi tautan kategori Cinderamata Terpopuler.

    "Dan ketik API 13I kirim ke 99386 untuk dukungan FB visitingkukar atau klik link kategori Promosi Digital Terpopuler," sebutnya.

    Untuk diketahui, API merupakan ajang pariwisata terpopuler Indonesia yang diadakan setiap tahun dan didukung penuh oleh Kementerian Pariwisata RI. Kegiatannya dilakukan dalam bentuk pemberian penghargaan kepada Obyek dan Tujuan Wisata Terpopuler di Indonesia.

    Ajang apresiasi pilihan masyarakat (people choice) ini secara langsung mengajak dan melibatkan peran serta seluruh elemen masyarakat daerah dari Kabupaten, Kota, hingga di Provinsi untuk bekerja bersama-sama memberikan apresiasi, serta menjadikan pariwisata daerahnya menjadi yang terbaik dan terpopuler.

    Kegiatan yang bertujuan mengangkat potensi pariwisata mulai dari perkotaan hingga pelosok daerah di Indonesia ini, akan terus dikembangkan lebih baik dalam upaya meningkatkan kunjungan wisatawan nusantara serta mancanegara. (end)

    , ,

    Memanfaatkan libur lebaran, pengunjung dari berbagai daerah datangi obyek wisata Pulau Kumala
    Foto: Endi

    Hingga H+3 libur lebaran 2018, ribuan pengunjung memadati sejumlah obyek wisata yang ada di kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

    Kepala Dinas Pariwisata Kukar Sri Wahyuni mengungkapkan, pada hari kedua lebaran, Sabtu (15/06) lalu, sebanyak 1.500 orang berlibur ke pantai Tanah Merah Samboja.

    "Sedangkan di hari ketiga, kunjungan ke pantai Tanah Merah Samboja melonjak hingga 4.900 orang," ujar Sri kepada media ini.

    Sementara untuk obyek wisata Waduk Panji-Sukarame Tenggarong, di hari kedua dan ketiga lebaran didatangi 899 pengunjung.

    "Untuk Planetarium Jagad Raya hari kedua ada 250 pengunjung dan di hari ketiga sebanyak 461 orang," beber Sri.

    Selain pantai Tanah Merah, Waduk Panji-Sukarame dan Planetarium Jagad Raya, destinasi wisata Pulau Kumala juga dipadati warga masyarakat dari berbagai daerah di Kalimantan Timur (Kaltim).

    "Sejak dibuka pada hari libur kedua lebaran, jumlah pengunjung yang melintas jembatan Repo-Repo menuju Pulau Kumala sebanyak 7.282 dan hari ketiga melonjak hingga 17.379 orang," rincinya.

    Lonjakan pengunjung ke Pulau Kumala, kata Sri, terlihat dari padatnya kendaraan di sekitar jembatan Repo-Repo hingga kemacetan pun tak terhindarkan.

    "Pengunjung yang membludak itu memang seperti tahun lalu, hari lebaran kedua, lebaran ketiga sampai seminggu kedepan," sebutnya.

    Dikatakan Sri, pengunjung yang datang ke Pulau Kumala tidak hanya warga Tenggarong dan sekitarnya saja, namun ada juga yang berasal dari luar pulau Kalimantan.

    "Kita juga menemukan pengunjung sedang mengunjungi keluarganya disini, ada dari luar Kaltim, seperti Jawa dan Sulawesi," ungkapnya.

    Untuk mengantisipasi lonjakan pengunjung, sambung Sri, pihaknya telah melakukan berbagai persiapan.

    "Kita belajar dari catatan tahun lalu, mulai dari penempatan petugas, kemudian himbauan kepada pengunjung untuk tertib dan menjaga kebersihan," imbuhnya.

    Ditambahkan Sri, masyarakat yang memanfaatkan libur lebaran di Pulau Kumala diimbau untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat yang bisa mengurangi keindahan obyek wisata ini.

    "Karena tanpa kerjasama pengunjung, sulit bagi kita untuk betul-betul menjadikan Pulau Kumala ini sebagai obyek wisata yang bersih dari sampah," tandasnya. (end)

    , ,

    Kadis Pariwisata Kukar Sri Wahyuni memegang Tropi Juara 2 Tujuan Wisata Baru Terpopuler API 2017
    Foto: Istimewa

    Pulau Kumala Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), dinobatkan sebagai Juara 2 Tujuan Wisata Baru Terpopuler (2nd winner for the most popular new destination), Anugerah Pesona Indonesia (API) 2017.

    Kepala Dinas Pariwisata Kukar Sri Wahyuni, menerima langsung tropi yang diserahkan oleh Sekretaris Menteri Pariwisata Ukus Kuswara, di studio Metro TV, Jakarta, Sabtu (25/11) malam.

    Tropi ini sekaligus melengkapi gelar setelah pada tahun lalu festival Erau dikukuhkan sebagai juara I untuk kategori Festival Budaya Terpopuler (Most Popular Cultural Festival) di tanah air.

    “Apresiasi dan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan baik melalui sms dan email, juga menyebarluaskan atau share di berbagai media sosial untuk dukungan terhadap Pulau Kumala,” ujar Sri usai menerima penghargaan.

    Sementara untuk masyarakat Kukar yang ingin menyaksikan acara penganugerahan tersebut, sambungnya, bisa menyaksikan melalui siaran ulang di televisi.

    “Siaran tunda tentang Anugerah Pesona Indonesia 2017 akan tayang di Metro TV pada tanggal 8 Desember 2017 Pukul 20.00 wita,” kata Sri.

    Pulau Kumala sendiri kini menjadi tujuan wisata yang ramai dikunjungi wisatawan lokal dan dari berbagai daerah di luar Kaltim, terlebih setelah Jembatan Repo-Repo diresmikan pada 22 Maret 2016. (end)

    , ,

    Libur lebaran tahun ini ada lebih dari 100 pengunjung yang datang berwisata datang ke Kutai Kartanegara
    Foto: Fairuz Zabady

    Selama sepekan lebaran yakni sejak tanggal 26 Juni hingga 2 Juli 2017, lebih dari 100 ribu orang mengunjungi berbagai obyek wisata di Kutai Kartanegara (Kukar).

    Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Kukar, Sri Wahyuni, menjelaskan, ada 99.061 pelancong mengunjungi 4 daya tarik wisata yang dikelola OPD (Organisasi Perangkat Daerah) pimpinannya.

    "Pulau Kumala dikunjungi 81.817 orang, Waduk Panji Sukarame  4.177 orang, dan Pantai Tanah Merah Samboja 12.700 pengunjung," rincinya.

    Sementara Planetarium Jagad Raya sebanyak 367 pengunjung, hal itu dikarenakan obyek wisata ini hanya satu hari buka yang disebabkan oleh gangguan teknis. 

    Obyek wisata lain yang juga menjadi pilihan wisatawan yakni  Ladaya, Museum Mulawarman, Museum Kayu, Desa Wisata Kedang Ipil dengan air terjun Kendua Raya, dan Pantai Biru Kersik.

    Selain itu, pulau Pangempang Muara Badak yang didalamnya terdapat pantai Mutiara Indah, pantai Panritalopi, Pantai Kurma, dan tempat-tempat wisata sejarah lainnya juga ramai didatangi pengunjung.

    "Bila dijumlah dengan ribuan angka kunjungan ke obyek wisata ini pasti lebih dari 100 ribu pengunjung," ujar Sri.

    Angka kunjungan selama libur lebaran, kata Sri, juga berdampak pada pelaku usaha di daerah-daerah tujuan wisata yang mendapatkan manfaat ekonomi.

    "Semakin ramai kunjungan, semakin besar dampak ganda yang didapat oleh pemda dan masyarakat. Semoga pelayanan dan fasilitas umum serta atraksi pariwisata di odah etam makin bertambah dengan dukungan dari semua kalangan," cetusnya. 

    Sri pun menyampaikan apresiasinya atas dukungan pihak-pihak terkait yang telah membantu terciptanya kelancaran arus wisatawan, baik ketertiban maupun keamanan pengunjung selama libur lebaran.

    "Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada petugas keamanan dari Polres Kukar, Kodim 0906/Tenggarong, Dishub, Satpol PP, dan BPBD," ucapnya. (end)

    , ,

    Pengunjung pulau Kumala pada libur lebaran tahun 2017 tercatat mencapai puluhan ribu orang
    Foto: Endi

    Pulau Kumala dan jembatan Repo-Repo kembali menjadi magnet pada libur lebaran tahun ini, tercatat hingga H+6, puluhan ribu wisatawan telah datang ke pulau seluas kurang lebih 81 hektar itu. 

    Menurut Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Kukar, Sri Wahyuni, pada lebaran kedua pengunjung puau Kumala tercatat ada 15.015, dan hari ketiga meningkat menjadi 17.562 wisatawan.

    "Sedangkan pada hari keempat ada 13.227 pengunjung, kemudian hari Jum'at (30/06) sebanyak 4.328, dan Sabtu (01/07) 7.369 orang," beber Sri.

    Dikatakannya, selain warga lokal dan beberapa dari daerah sekitar Kalimantan Timur (Kaltim), ada pula wisatawan mancanegara yang datang jauh-jauh dari USA berkunjung ke pulau Kumala.

    Sri memprediksi, Minggu (02/07) hari ini,  akan menjadi puncak kunjungan seiring dengan berakhirnya libur cuti bersama. 

    Ditambahkannya, beberapa fasilitas telah ditambahkan, seperti bangku kelok, papan informasi tentang obyek wisata pulau Kumala dan wahana atraksi, serta pengumuman event wisata yang akan dilaksanakan di Kukar.

    "Secara bertahap sarana dasar fasilitas umum akan terus ditambah, mari kita jaga dan rawat bersama fasilitas yang ada," kata Sri. 

    Ia pun menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pengunjung yang telah bersama-sama menjaga ketertiban. "Alhamdulillah arus masuk dan keluar pengunjung juga lancar," tukasnya.

    Sri juga mengajak warga yang datang untuk tetap menciptakan kenyamanan di pulau yang kini masuk dalam nominasi tujuan wisata baru versi API (Anugerah Pesona Indonesia) 2017.

    "Ayok terus budayakan Sapta Pesona, aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah dan kenangan di odah etam," ucap Sri. (end)

    , ,

    Jelang senja, sejumlah pengunjung masih terlihat menikmati libur lebaran di pantai Kersik, Marangkayu
    Foto: Fairuz Zabady

    Tahun 2016 lalu angka kunjungan ke pantai Kersik, Desa Kersik, Kecamatan Marangkayu cukup tinggi, namun pada libur lebaran tahun ini jumlahnya justru mengalami penurunan.

    Ketua Pokdarwis Desa Kersik, Kasim. mengatakan, hingga H+2, pelancong yang datang hanya berkisar sekitar 2.500 pengunjung, bahkan dihari ketiga justru mengalami penurunan.

    "Kalau dari hari pertama sampai hari ke empat sekitar 4 ribuan, hari ini paling sekitar 1.500 pengunjung," ujarnya kepada media ini, Kamis (29/06) lalu.

    Kasim mengungkapkan, lebaran tahun sebelumnya, jumlah warga yang datang pada hari kedua mencapai 3.800 orang. "Tahun ini hari kedua sama hari ketiga jauh menurun," ucapnya.

    Menurutnya, menurunnya tingkat kunjungan ke pantai Kersik memang tak bisa dipungkiri, apalagi sejumlah pengunjung berharap adanya penambahan fasilitas.

    Pokdarwis Desa Kersik pun berharap ada perhatian dari pihak pemangku kepentingan untuk memajukan obyek wisata alami tersebut. 

    "Sehingga dengan demikian dapat meningkatkan pendapatan asli daerah," cetus Kasim.

    Seperti obyek wisata lainnya di Kukar, pengunjung yang datang mengisi liburan di pantai ini tak hanya warga lokal saja, namun juga dari Samarinda, Bontang, Kutai Timur, hingga Kutai Barat.

    Sejumlah harapan ikut dilontarkan kepada pihak pengelola pantai agar dapat menjaga kebersihan dan keamanan, serta tersedianya tenaga medis guna mengantisipasi hal yang tidak diinginkan. (end)


Top