Rapat Paripurna HUT Kota Tenggarong Ke-241, Bupati Sampaikan Proyek Strategis 2023-2024

DPRD Kukar menggelar rapat paripurna dalam rangka Hari Ulang Tahun Kota Tenggarong ke-241
(Foto: R. Hidayat)

Selama kurang lebih 7 abad kejayaan Kerajaan Kutai Kartanegara, pusat pemerintahan telah mengalami dua kali perpindahan, pertama pada tahun 1734 pada masa Pemerintahan Aji Sultan Muhammad Idris, perpindahan pusat pemerintahan dari Kutai Lama ke Pemarangan, atau di wilayah dalam Sungai Jembayan.

Selanjutnya pada tanggal 28 September 1782 atau 241 tahun yang lalu oleh Raja Kutai Kartanegara ke-15, yakni Aji Muhammad Muslihuddin atau dikenal dengan nama Aji Imbut, memindahkan pusat pemerintahan ke Tepian Pandan, yang selanjutnya pada masa pemerintahan Sultan Aji Muhammad Parikesit di ubah nama menjadi Tangga Arung dan hingga saat ini lebih populer dengan sebutan Tenggarong.

Sejarah singkat berdirinya Kota Tenggarong ini disampaikan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Edi Damansyah dalam Rapat Paripurna DPRD Kukar memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Tenggarong ke-241, Rabu (27/09/2023) di ruang sidang utama.

Dalam kesempatan itu Edi menyampaikan, Tenggarong sebagai ibu kota Kukar dan juga pusat pemerintahan daerah, saat ini terus berbenah, perbaikan tata kota, yang diiringi dengan peningkatan kualitas layanan, khususnya pada fasiltas umum, pendidikan, kesehatan, perdagangan dan jasa, yang keseluruhannya didesain secara gradual dan terintegrasi dengan mengarah pada pembentukan karakter wilayah kota yang modern dengan tidak meninggalkan kearifan lokal.

Lanjutnya, hal ini merupakan bagian dari upaya bersama, untuk mewujudkan salah satu kebijakan pembangunan kewilayahan yang terdapat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kutai Kartanegara 2021-2026, yakni mewujudkan Tenggarong sebagai pusat sejarah dan budaya sebagaimana tertulis dalam Program Dedikasi Kukar Idaman.

"Yakni Kukar Berbudaya, dimana Tenggarong ke depan akan menjadi kota yang identik dengan pengembangan budaya nusantara yang didukung dengan pelestarian peninggalan sejarah sebagai pemantik daya saing daerah untuk menjadi destinasi wisata unggulan di sekitar wilayah Ibu Kota Nusantara," ujarnya.

Atas nama pemerintah daerah, ia memohon dukungan kepada seluruh pemangku kepentingan di Kukar agar dapat melaksanakan pembangunan secara bertahap dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki saat ini.

"Dimana salah satunya saat ini kita memiliki ruang gerak pembangunan yang lebih luas dengan APBD yang lebih besar, yakni diperkirakan mencapai 12 Triliyun Rupiah pada Tahun 2024. Potensi Pendapatan ini, diharapkan dapat kita optimalkan bagi pembangunan Kota Tenggarong secara proporsional," ucap Edi.

Salah satu proyek strategis yang dilaksanakan tahun 2023 hingga tahun 2024 adalah, pembangunan Pasar Semi Modern Tangga Arung, pembangunan Kawasan Jembatan Kutai Kartanegara, serta fasilitas pendukung seperti Taman Tepi Sungai Mahakam, Landmark Kota Tenggarong serta Gedung Ekonomi Kreatif, perluasan jalan-jalan utama Tenggarong, perbaikan dan revisioning Pulau Kumala.

"Diharapkan proyek-proyek strategis ini dapat berjalan sesuai dengan waktu yang ditetapkan dan akan memberikan nilai tambah terhadap eksotisme Kota Tenggarong sebagai Kota Sejarah dan Budaya di Provinsi Kalimantan Timur," cetusnya. (mmbse)

Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top