kutaikartanegaranews »
Erau
,
News
,
Seni - Budaya
»
Erau Adat Kutai 2026 Resmi Dibuka, Bupati Kukar Tekankan Pelestarian Budaya dan Persatuan
Erau Adat Kutai 2026 Resmi Dibuka, Bupati Kukar Tekankan Pelestarian Budaya dan Persatuan
![]() |
| Bupati Kukar Aulia Rahman Basri saat prosesi menyalakan brong pada pembukaan Erau 2026 (Foto: Fairuz) |
TENGGARONG – Festival Budaya Erau Adat Kutai Tahun 2026 resmi dibuka melalui Opening Ceremony yang digelar di Stadion Rondong Demang, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Minggu (20/9/2026).
Rangkaian utama Erau Adat Kutai yang berlangsung pada 20 hingga 27 September 2026 ini mengangkat tema “Raja Manunggal Bersama Rakyatnya: Raja Menjamu Rakyatnya.”
Bupati Kukar dr Aulia Rahman Basri, dalam sambutannya mengatakan Erau Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura merupakan warisan budaya tak benda sekaligus rangkaian ritual adat lawas di Tanah Kutai yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi.
Menurutnya, Erau tahun 2026 memiliki posisi penting karena Festival Budaya Erau Adat Kutai terpilih menjadi bagian dari agenda pariwisata nasional Kharisma Event Nusantara (KEN).
“Ini membuktikan bahwa kebudayaan Kutai Kartanegara tidak hanya memiliki daya tarik lokal, tetapi juga menjadi barometer kebudayaan nasional yang mampu memikat mata dunia,” ujar Aulia dalam sambutannya.
Ia menegaskan, Erau tidak boleh dipandang hanya sebagai pesta adat tahunan atau tontonan budaya. Lebih dari itu, Erau merupakan simpul warisan leluhur, fondasi identitas, serta mata rantai peradaban Kutai yang melintasi zaman.
Di dalamnya, kata Aulia, terdapat nilai penghormatan kepada leluhur, kesetiaan terhadap adat, kebersamaan masyarakat, serta prinsip harmoni antara manusia, alam dan Sang Pencipta.
“Erau adalah momen kita bersama untuk meneguhkan kembali tatanan nilai yang menjadi fondasi daerah kita,” katanya.
Aulia juga mengingatkan pentingnya menjaga keharmonisan masyarakat di tengah keberagaman suku, agama dan bahasa. Menurutnya, masyarakat yang hidup dan berpijak di Tanah Kutai serta menikmati kehidupan dari Sungai Mahakam dipersatukan oleh ikatan persaudaraan.
Karena itu, menjaga keharmonisan tersebut menjadi salah satu bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.
Bukan Sekadar Agenda Pariwisata
Dalam sambutannya, Aulia menekankan bahwa pelaksanaan Erau tidak semata-mata diarahkan sebagai agenda untuk menarik wisatawan.
Pemerintah bersama masyarakat, menurutnya, memiliki tanggung jawab untuk menjaga ruh Erau, memelihara keaslian tata cara adat serta memastikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap relevan dengan perkembangan zaman.
“Kita tidak ingin generasi mendatang hanya mengenal Erau melalui teks sejarah atau dokumen foto masa lalu,” tegasnya.
Ia berharap generasi muda, khususnya anak-anak Kutai, dapat melihat, merasakan dan memahami makna filosofis Erau sehingga nantinya mampu menjadi penerus yang memegang teguh identitas budaya daerah.
Sementara itu, tema Erau 2026 “Raja Manunggal Bersama Rakyatnya, Raja Menjamu Rakyatnya” disebut mengandung filosofi kepemimpinan yang kuat.
Aulia menjelaskan, filosofi tersebut berakar pada nilai dalam Undang-Undang Panji Selaten yang menempatkan adat, mufakat dan kebenaran sebagai bagian penting dalam kehidupan kepemimpinan.
Menurutnya, hubungan antara raja dan rakyat bukanlah hubungan yang berjarak, melainkan hubungan yang saling menjaga, mengayomi dan menguatkan.
Makna “Raja Menjamu Rakyatnya” juga tercermin dalam tradisi Beseprah, ketika masyarakat duduk dan makan bersama tanpa memandang pangkat maupun kedudukan. Sementara tradisi Belimbur membawa pesan simbolik tentang penyucian diri, membersihkan hati, menghilangkan prasangka dan mempererat persaudaraan.
Bupati Soroti Dampak Karhutla
Di tengah pembukaan Erau, Bupati Kukar turut menyoroti kondisi kabut asap yang terjadi akibat musim kemarau dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan, termasuk Kalimantan Timur dan Kutai Kartanegara.
Kondisi tersebut, menurut Aulia, telah berdampak terhadap aktivitas dan kesehatan masyarakat.
Ia mengajak masyarakat untuk ikut mencegah karhutla, termasuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api.
Kepada masyarakat yang mengikuti rangkaian Erau, Aulia juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan selama kondisi kualitas udara memburuk.
“Gunakan masker ketika kualitas udara memburuk, kurangi aktivitas luar ruangan apabila kondisi asap semakin pekat, cukupkan kebutuhan air minum,” pesannya.
Ia juga meminta perhatian lebih diberikan kepada anak-anak, lanjut usia, ibu hamil dan masyarakat yang memiliki kerentanan kesehatan.
“Kesehatan masyarakat bagi kami adalah prioritas yang utama,” ujarnya.
Aulia turut meminta seluruh perangkat pemerintah dan panitia penyelenggara memperhatikan aspek kesehatan, keselamatan, kesiapsiagaan serta mengantisipasi perubahan kualitas udara selama pelaksanaan rangkaian Erau.
Ia kemudian mengajak seluruh masyarakat untuk berdoa agar hujan segera turun, titik-titik api dapat dipadamkan dan kondisi udara di Kalimantan kembali membaik.
Festival Budaya Erau Adat Kutai 2026 selanjutnya akan berlangsung hingga 27 September dengan berbagai rangkaian kegiatan adat dan budaya yang melibatkan masyarakat, kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura, delegasi seni dan budaya, pelaku pariwisata, ekonomi kreatif, UMKM serta masyarakat luas. (*)


Tidak ada komentar: