Puncak Erau Adat Kutai 2026 Ditandai Prosesi Sakral Mengulur Naga dan Belimbur

Puncak kemeriahan Erau Adat Kutai 2026 ditandai dengan prosesi sakral mengulur naga dan belimbur
(Foto: Istimewa)

TENGGARONG – Prosesi puncak perayaan Erau Adat Kutai 2026 digelar di Keraton Kutai Kartanegara atau Museum Mulawarman, Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), Minggu (27/8/2026) pagi.

Prosesi sakral tersebut diawali dengan pembacaan riwayat naga oleh kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Pangeran Mangkupati. Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan prosesi mengulur naga yang menjadi salah satu ritual utama dalam puncak perayaan Erau Adat Kutai.

Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI Aji Muhammad Arifin, dalam sambutannya yang disampaikan Panitia Pelaksana Erau Adat Kutai 2026 Heriansyah bergelar Pangeran Haryo Noto Negoro, mengatakan prosesi mengulur naga dan belimbur menjadi penanda puncak rangkaian ritual Erau Adat Kutai 2026.

Menurut pria yang juga Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar ini, kedua prosesi tersebut merupakan bagian dari napak tilas munculnya Puteri Karang Melenu yang memiliki makna penting dalam tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

“Prosesi mengulur naga ialah mengarak replika naga laki dan naga bini dari Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura (Museum Mulawarman) yang berada di Kecamatan Tenggarong menuju Desa Kutai Lama, Kecamatan Anggana,” ujarnya.

Setelah diarak menuju Kutai Lama, tubuh replika sepasang naga tersebut kemudian dilarung ke Sungai Mahakam. Sementara bagian kepala dan ekor naga akan dibawa kembali untuk disemayamkan di Keraton Kutai.

Heri mengatakan, rangkaian sakral tersebut kemudian dilanjutkan dengan prosesi belimbur. Ritual ini merupakan bagian penting dalam tradisi Erau yang dimaknai sebagai proses penyucian Sultan Kutai Kartanegara dari berbagai pengaruh buruk.

"Prosesi belimbur diawali Sultan dengan memercikkan air tuli atau air suci yang berasal dari perairan Kutai Lama menggunakan mayang pinang. Air tersebut terlebih dahulu dipercikkan ke empat penjuru mata angin, kemudian dilanjutkan dengan memercikkan air kepada para kerabat dan orang-orang terdekat Sultan," ucapnya.

Tradisi belimbur selanjutnya dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat Kutai Kartanegara dan para pengunjung yang mengikuti rangkaian Erau.

Ritual tersebut ungkap dia. dimaknai sebagai upaya penyucian diri serta memohon perlindungan dari berbagai unsur jahat, baik yang berwujud maupun tidak berwujud.

"Prosesi mengulur naga dan belimbur menjadi bagian dari rangkaian sakral Erau Adat Kutai yang tidak hanya menjadi warisan budaya Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, tetapi juga menjadi momentum masyarakat untuk menjaga dan melestarikan tradisi budaya Kutai," tandas Heri. (*)

Tidak ada komentar:

Write a Comment

⬆
Top