Orang Utan Viral di Dalam Kabin Excavator Dievakuasi, Alami Malnutrisi dan Dehidrasi Berat



KUTAI KARTANEGARA – Seekor orang utan yang sempat viral setelah videonya direkam operator excavator dari dalam kabin alat berat kini menjalani proses rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Long Sam, Kampung Merasa, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau.

Orang utan tersebut ditemukan di wilayah Desa Menamang Kanan, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), pada 14 September 2026. Penemuan itu dilakukan setelah video keberadaan orang utan tersebut viral di media sosial.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur (Kaltim) bersama mitra konservasi, salah satunya Conservation Action Network (CAN), kemudian melakukan penelusuran untuk memastikan keberadaan satwa tersebut.

Setelah ditemukan, orang utan langsung dievakuasi. Namun, satwa tersebut tidak langsung dilepasliarkan seperti sejumlah kasus penyelamatan orang utan lainnya karena kondisinya dinilai sangat memprihatinkan.

Pengelola CAN, Paulinus Kristanto, mengatakan orang utan tersebut mengalami malnutrisi berat dan dehidrasi parah. Berdasarkan pemeriksaan kondisi fisik, body score orang utan hanya berada pada angka 1 dari skala 5.

“Kondisinya sangat lemah. Saat tiba di PRS Long Sam, satwa ini hanya sanggup berjalan beberapa meter,” ujar Paulinus.

Kondisi fisiknya juga menunjukkan tanda-tanda kekurangan nutrisi dalam waktu cukup lama. Tulang rusuk orang utan tersebut terlihat jelas karena tubuhnya sangat kurus.

Paulinus menjelaskan, saat pertama ditemukan, orang utan tersebut dalam kondisi sangat lemas dan belum mau makan. Satwa itu hanya mau minum, yang menjadi salah satu indikasi bahwa mengalami dehidrasi cukup berat.

“Baru pada hari keempat di PRS Long Sam dia mau makan. Ini mengindikasikan dehidrasi berat dan kekurangan sumber pakan,” jelasnya.

Menurut Paulinus, kondisi tersebut menjadi alasan utama orang utan harus menjalani rehabilitasi terlebih dahulu sebelum dapat dikembalikan ke habitatnya.

Perbaikan kondisi fisik dan pemenuhan nutrisi menjadi bagian penting dalam proses rehabilitasi. Satwa tersebut perlu dipastikan kembali memiliki kondisi tubuh yang cukup kuat sebelum nantinya dapat dilepasliarkan.

“Saat ini masih butuh waktu untuk memperbaiki kondisi fisiknya. Karena memang sangat kurus dan dehidrasi, sehingga perbaikan nutrisi menjadi kunci dalam proses rehabilitasi nantinya,” katanya.

Hingga kini, orang utan tersebut belum diberikan nama. Pihak pengelola PRS Long Sam bahkan membuka kemungkinan adanya usulan nama untuk satwa yang menjadi perhatian publik tersebut.

Sementara itu, Kepala BKSDA Kaltim M Ari Wibawanto, mengungkapkan, hasil pemeriksaan menunjukkan orang utan tersebut mengalami malnutrisi dan dehidrasi berat.

BKSDA sempat melakukan perawatan awal selama 24 jam di lokasi sebelum satwa tersebut dibawa ke fasilitas rehabilitasi milik mitra konservasi di Berau.

“Setelah kita lakukan pemeriksaan, kondisinya malnutrisi dan dehidrasi berat. Oleh karena itu, langsung kita lakukan upaya perawatan di tempat selama satu hari, 24 jam. Kemudian langsung kita bawa ke tempat rehabilitasi kami yang ada di Conservation Action Network (CAN), di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Long Sam, Berau,” kata Ari.

Menurut Ari, penyelamatan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menyelamatkan satwa liar yang terdampak kondisi lingkungan, khususnya kemarau panjang yang terjadi.

BKSDA menduga kondisi kekeringan yang cukup panjang dapat memengaruhi ketersediaan sumber air dan pakan bagi satwa liar di habitatnya.

“Dugaan kita karena kemarau yang cukup panjang ini kemungkinan akan memengaruhi kehidupan dari satwa yang ada, tidak hanya orang utan, tapi yang lain,” ujarnya.

Saat ini, proses pemulihan orang utan tersebut masih berlangsung di PRS Long Sam. Tim rehabilitasi terus memantau kondisi fisik dan asupan nutrisinya dengan harapan satwa tersebut segera pulih dan memenuhi syarat untuk kembali dilepasliarkan ke alam. (*)

Tidak ada komentar:

Write a Comment

⬆
Top